Jika Allah bisa muncul dari ketiadaan dengan sendirinya, mengapa alam semesta atau makhluk tidak bisa muncul dari ketiadaan dengan sendirinya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, jawaban argumentasi dapat disusun dengan meluruskan kekeliruan premis awal terlebih dahulu, kemudian menjelaskan perbedaan mendasar antara Sang Pencipta (Khaliq) dan alam atau makhluk (hawadith) berdasarkan dalil akal dan akidah Islam:
1. Meluruskan Kekeliruan Premis
Pernyataan bahwa "Allah bisa muncul dari ketiadaan" merupakan premis yang keliru secara mendasar.
- Allah tidak pernah muncul dari ketiadaan ('adam). Menganggap Allah muncul dari ketiadaan berarti menyamakan-Nya dengan makhluk yang baharu (hawadith), padahal Allah mustahil menyerupai atau bersifat baharu.
- Allah bersifat Qadim (Maha Dahulu tanpa permulaan). Wujud Allah bersifat azali, tidak didahului oleh ketiadaan, tidak diciptakan oleh siapapun, dan tidak berproses dari tidak ada menjadi ada.
2. Memahami Perbedaan Status Wajibul Wujud dan Ja'izul Wujud
Secara penalaran akal, status keberadaan (wujud) terbagi menjadi dua kategori utama:
- Allah adalah Wajibul Wujud (Wajib Ada): Keberadaan Allah merupakan keniscayaan mutlak secara akal. Allah tidak membutuhkan tempat, sebab, atau pencipta (Qiyamuhu binafsihi), serta Dzat-Nya kekal tanpa permulaan maupun pengakhiran.
- Alam Semesta adalah Ja'izul Wujud / Mumkinat (Boleh Ada dan Boleh Tiada): Alam semesta bersifat baharu (hadith), yaitu wujudnya didahului oleh ketiadaan ('adam).
3. Alasan Logis Mengapa Alam Tidak Bisa Muncul dari Ketiadaan dengan Sendirinya
Ada beberapa alasan logis mengapa alam semesta tidak mungkin muncul dari ketiadaan secara mandiri:
- Ketiadaan ('Adam) Adalah Murni Nihil: Ketiadaan tidak memiliki zat, sifat, kekuasaan, atau kehendak untuk bertindak menciptakan sesuatu.
- Terjadinya Ketiadaan Pengunggul (Tarjih bila Murajjih): Bagi alam semesta yang bersifat mumkinat, status "Ada" dan "Tiada" pada dasarnya adalah seimbang atau setara (istiwa'). Agar status seimbang ini bergeser dari ketiadaan menjadi keberadaan, secara akal mutlak diperlukan adanya Murajjih atau Mukhassis (Dzat Pengunggul) yang memiliki Kehendak (Iradah) dan Kekuasaan (Qudrat) untuk mengunggulkan keberadaan alam di atas ketiadaannya. Jika alam diklaim dapat muncul sendiri dari ketiadaan tanpa Pencipta, maka terjadi penggabungan dua hal yang kontradiktif, yaitu status seimbang sekaligus unggul secara bersamaan tanpa adanya sebab pengunggul (tarjih bila murajjih), dan hal tersebut mustahil secara akal.
- Ketidakmungkinan Menciptakan Diri Sendiri: Menganggap alam menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan adalah sesuatu yang mustahil, karena hal itu menuntut alam tersebut harus sudah ada sebelum ia ada agar dapat bertindak menciptakan dirinya.
Kesimpulan
Sanggahan utamanya terletak pada pembuktian bahwa Allah tidak pernah mengalami ketiadaan, melainkan Dzat yang Wajib Ada sejak azali. Sebaliknya, alam semesta adalah hal yang baharu (hadith) yang secara mutlak memerlukan Sang Pencipta (Muhdith) untuk mewujudkannya dari ketiadaan.