Bismillahirrohmaanirrohiim

SIAPAKAH ULAMA ITU



Aku ditanya seorang teman tentang kondisi amaliah keagamaan hari-hari ini di negara kita dan banyak orang yang verpenampilan bagaikan ulama, aktif berceramah di mana-mana sambil mengutip ayat suci al Qur'an dan hadits Nabi. Bacaannya tidak fasih. Dst. 

Aku lalu segera ingat hadits Nabi saw :

عن أبي ذر أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: إنكم اليوم في زمان كثير علماؤه قليل خطباؤه، وسيأتى زمان كثير خطباؤه قليل علماؤه. 
"Hari ini kalian berada di zaman banyak ulama tetapi sedikit pandai pidato. Kelak akan datang kepada kalian suatu zaman banyak pandai pidato dan sedikit ulama.

Ada riwayat lain dari sahabat Nabi Ibnu Mas'ud, dengan redaksi :

ابن مسعود قال: " إِنَّكُمْ فِي زَمَانٍ: كَثِيرٌ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيلٌ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيلٌ سُؤَّالُهُ، كَثِيرٌ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيهِ قَائِدٌ لِلْهَوَى. وَسَيَأْتِي مِنْ بَعْدِكُمْ زَمَانٌ: قَلِيلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيلٌ مُعْطُوهُ، الْهَوَى فِيهِ قَائِدٌ لِلْعَمَلِ، 

"Kalian berada di zaman banyak fuqoha, ahli hukum dan sedikit yang pandai pidato. Sedikit orang yang minta-minta, banyak orang yang memberi, tanpa keinginan dipuji. Kelak akan datang suatu zaman, sesudah kalian, sedikit sekali yang mendalam pengetahuan agamanya, yang banyak pandai pidato, penceramah. Banyak orang yang meminta-minta, sedikit orang yang memberi sambil berhasrat dipuji".

Kata "Fuqaha", yang acap diterjemahkan ahli fuqh, sesungguhnya maknanya pada masa Nabi dan sahabat : 

معرفة النفس ما لها وما عليها
"Pengetahuan hati yang mendalam apa yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan". Para ulama menyebutnya "berakhlaq) berbudipekerti mulia".

Di negeri mayoritas muslim ini, tampak kita menyaksikan apa yang disampaikan Rasulullah tersebut. Paling tidak begitulah yang saya rasakan. Kaum intelektual tenggelam dan tak banyak peminat, tak menarik publik. Tetapi perbuatannya tidak sama dengan apa yang disampaikannya, atau dipidatokannya. 
Lalu siapakah yang patut disebut ulama itu. Aku ingat ulama besar asal Yaman, Abdullah Al-Haddad, dalam kitabnya yang sangat terkenal dan dijadikan sumber pengetahuan etika di pesantren, "An-Nashaih ad-Diniyyah", menyebut sejumlah tanda/ciri ulama:

فمن علامات العالم : ان يكون خاشعا متواضعا خاءفا مشفقا من خشية الله زاهدا فى الدنيا قانعا باليسير منها منفقا الفاضل عن حاجته مما فى يده. ناصحاً لعباد الله. رحيما بهم أمرا بالمعروف ناهيا عن المنكر. مسارعا فى الخيرات ملا زما للعبادات . ووقار واسع الصدر لا متكبرا ولا طامعا فى الناس ولا حريصا على الدنيا ولا جامعا للمال ولا مانعا له عن حقه ولا فظا ولا غليظا ولا مماريا ولا مخاصما ولا قاسيا ولا ضيق الصدر ولا مخادعا ولا غاشا ولا مقدما للاغنياء على الفقراء ولا مترددا الى السلاطين”
Tanda/ciri orang alim (ulama) antara lain : pembawaannya tenang, rendah hati, selalu merasa takut kepada Allah, bersahaja, “nrimo”, suka memberi, membimbing umat, menyayangi mereka, selalu mengajak kepada kebaikan dan menghindari keburukan/maksiat, bersegera dalam kebaikan, senang beribadah, lapang dada, lembut hati, tidak sombong, tidak berharap pada pemberian orang, tidak ambisi kemegahan dan jabatan, tidak suka menumpuk-numpuk harta, tidak keras hati, tidak kasar, tidak suka pamer, tidak memusuhi dan membenci orang, tidak picik, tidak menipu, tidak licik, tidak mendahulukan orang kaya daripada orang miskin, dan tidak sering-sering mengunjungi penjabat pemerintahan/penguasa”.

Sementara itu Maulana Jalaluddin Rumi menyampaikan pandangannya yang kritikal dalam bukunya "Fihi Ma Fihi": 

الرجل لايكون عالما بسبب الجبة والعمامة، ذلك ان العالمية فضيلة فى ذاته.ولا يغير من الامر شيءا ان يرتدى صاحبها قباء او عباءة..(مولانا جلال الدين الرومي، فيه ما فيه، ص 136، دار الفكر)

"Seseorang itu menjadi 'alim (ulama) bukan karena ia memakai jubah dan 'imamah (sorban), sebab ke'aliman adalah karakter yang melekat di dalam jiwa/hatinya. Mengenakan sorban atau baju lusuh tak membuatnya berubah". (Maulana Jalaluddin Al Rumi, Fiihi maa Fiihi, hal 136, Dar Al Fikr, Damaskus)

Begitulah yang bisa aku sampaikan kepada teman tadi. Semoga bermanfaat. 

24.10.26
HM


.

PALING DIMINATI

Back To Top