oleh Yasser Arafat
Ada orang yang kewajiban sosialnya dijalankan dengan tertib, keluarga diurus, pekerjaan dikerjakan dengan tekun, ibadah pun tidak pernah ketinggalan. Pokoknya, kalau kehidupan punya daftar ceklis, hampir semuanya sudah dicentang. Tetapi ternyata sebenarnya dia tidak baik-baik saja. Ada rasa hampa yang tidak mudah dijelaskan. Ada pertanyaan “saya sudah beriman, tapi kok saya masih tidak merasa nyaman?”
Di titik inilah ketaatan yang sekilas terlihat ternyata tidak ubahnya semacam pekerjaan administrasi ala orang kantoran. Dari luar tampak sempurna. Tapi dari dalam, keadaan jiwa malah seperti pegawai yang sudah lembur tiga bulan tetapi belum juga mendapat cuti. Capek. Lelah. Mumet.
Masalahnya menjadi lebih pelik ketika rasa lelah dan hampa itu mulai mengganggu kehidupan. Orang tersebut kemudian mencari penjelasan. Dan karena ia hidup dalam lingkungan yang sangat religius, jawaban yang paling mudah muncul biasanya juga jawaban religius: “doamu kurang.” “Kamu kurang bersyukur.” “Kamu kurang tawakal.” “Kamu kurang ikhlas.” “Kamu kurang sedekah…”, dan sejenisnya.
Nasihat semacam itu tentu tidak selalu salah. Bahkan seringkali lahir dari niat yang baik. Tetapi persoalannya tidak semua lelah jiwa bisa diselesaikan dengan menambah nasihat. Kadang-kadang yang dibutuhkan bukan tambahan petuah, melainkan kesempatan untuk mengatakan: “saya sedang tidak baik-baik saja, saya butuh istirahat...”. Mengapa? Sebab sumber masalahnya bukan iman yang sedang turun, melainkan tubuh dan jiwa yang lelah, namun, sudah terlalu lama dipaksa bekerja dan berpura-pura beriman.
Bagaimanapun, sistem saraf sedang kelelahan. Ditambah dengan pengalaman traumatis yang belum selesai. Ada juga luka emosional karena pola pengasuhan, tekanan hidup, kehilangan, berbagai pengalaman yang tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk diproses, dan mungkin juga karena jualan sarungnya nggak payu-payu kayak nasibnya Kang Din Rosyidin. Jadi, kalau ada orang sedang mengalami penderitaan tubuh dan jiwa, lalu kita buru-buru mengatakan: “perbanyak doa!”, kita mungkin sedang memberikan jawaban untuk pertanyaan yang sebenarnya tidak pernah ia ajukan.
Itu tidak ubahnya kondisi ketika semua masalah dibawa ke Pengadilan Iman. Faktanya memang demikian. Kita sering diseret untuk disidang di pengadilan iman itu. Kita hidup dalam kebudayaan yang kaya ukuran moral. Ada banyak kosakata untuk menentukan apakah seseorang sudah cukup sabar, cukup ikhlas, cukup tawakal, cukup bersyukur, dan cukup saleh. Masalahnya, kita sering punya bahasa yang sangat lengkap untuk menghakimi perilaku, tetapi miskin bahasa untuk memahami penderitaan.
Ketika seseorang depresi, misalnya, ia bisa dianggap kurang tawakal. Ketika seseorang mengalami serangan panik, ia bisa dianggap kurang iman. Ketika seseorang merasa sedih berkepanjangan, ia mungkin malah bertanya kepada dirinya sendiri: “jangan-jangan saya memang murid paling bodoh di sekolah keimanan… !!”. Di sinilah penderitaan yang semula merupakan persoalan jiwa berubah menjadi persoalan moral. Orang bukan hanya merasa sakit, tetapi juga merasa bersalah karena sakit.
Bayangkan seseorang sedang demam. Lalu ia dimarahi karena suhu tubuhnya terlalu tinggi. Kurang lebih seperti itu gambaran ketika kelelahan jiwa langsung diterjemahkan sebagai kegagalan spiritual. Akibatnya tidak sepele. Orang yang sebenarnya membutuhkan pertolongan justru belajar menyembunyikan penderitaannya. Ia takut dianggap lemah. Takut dicap kurang iman. Takut dikira tidak bersyukur. Akhirnya ia “memaksa” tersenyum di depan orang lain: rajin menghadiri pengajian, tetap menjalankan ibadah, tetapi ketika pintu kamar ditutup, ia kembali berhadapan dengan dirinya sendiri yang sedang berantakan.
Ada anggapan bahwa orang beriman seharusnya selalu tenang. Kalau masih cemas berarti imannya kurang. Kalau masih sedih berarti tawakalnya belum benar. Kalau masih takut berarti kepercayaannya kepada Tuhan belum sempurna. Padahal manusia tetap manusia. Orang saleh bisa lelah. Orang rajin beribadah bisa mengalami depresi. Orang yang sangat memahami agama bisa mengalami kecemasan. Orang yang tampak paling kuat pun bisa memiliki luka yang tidak diketahui siapa pun.
Kesalehan tidak mengubah manusia menjadi makhluk yang kebal terhadap kerentanan biologis dan sakit emosi. Karena itu, menerima kenyataan bahwa diri kita punya batas bukanlah tanda kegagalan iman. Justru penerimaan bisa menjadi bentuk kejujuran yang sangat penting. Ketika tubuh mengatakan lelah, itu memang waktunya istirahat. Ketika pikiran mengatakan kacau, itu memang saatnya mencari bantuan. Ketika emosi terus berteriak, itu memang sudah saatnya berhenti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Camkanlah! Dengan pengakuan tentang kerapuhan diri, iman menemukan bentuknya yang lebih manusiawi. Bukan iman yang memaksa kita selalu tampak baik-baik saja. Intinya, sebagaimana saya tangkap dari buku karya Afthonul Afif ini, jangan buru-buru ngomong: “mari mengubah lelah menjadi lillah..!!”, padahal tubuh dan jiwa sedang lelah.
Sudahlah, akui saja kita sedang mumet. Butuh istirahat! Butuh jadi manusia apa adanya!