Struktur gramatikal (i'rāb) dan gaya bahasa (balāghah) Surah Al-Fatihah berdasarkan kajian dalam At-Tafsīr al-Munīr, Al-I'rāb al-Mufaṣṣal, dan Tafsīr al-Kashshāf dapat dijelaskan secara terperinci sebagai berikut:
1. Struktur Gramatikal (I'rāb) Surah Al-Fatihah
-
Ayat 1:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَالْحَمْدُ: Berkedudukan sebagai mubtadā' (marfū' bi aḍ-ḍammah). Bentuk isim/masdar digunakan untuk menegaskan sifat pujian yang bersifat tetap, abadi, dan terus-menerus (ats-tsubūt wa al-istimrār) bagi Allah.لِلَّهِ: Jar-majrūr yang terhubung (muta'alliq) dengan khabar dari mubtadā' yang diestimasi (makhṣūṣun lillāh). Huruf lām di sini berfungsi sebagai al-ikhtiṣāṣ wa al-istiḥqāq (pengkhususan hak mutlak pujian hanya bagi Allah).رَبِّ: Berkedudukan sebagai sifat (na'at) atau badal dari Lafazh Al-Jalālah (majrūr bi al-kasrah).الْعَالَمِينَ: Muḍāfun ilaih (majrūr bi al-yā') karena tergolong mulḥaq bi jam'i al-mudzakkar as-sālim.
-
Ayat 2:
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِالرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ: Keduanya merupakan dua sifat/nawā'it bagi Lafazh Al-Jalālah (majrūr bi al-kasrah) yang berfungsi sebagai pujian (al-madḥ).
-
Ayat 3:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِمَالِكِ: Sifat ketiga atau badal bagi Lafazh Al-Jalālah (majrūr bi al-kasrah).يَوْمِ: Muḍāfun ilaih (majrūr bi al-kasrah) dari penyandaran ism al-fā'il (مَالِكِ) kepada objeknya (maf'ūl).الدِّينِ: Muḍāfun ilaih kedua (majrūr bi al-kasrah).
-
Ayat 4:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُإِيَّاكَ: Ḍamīr munfaṣil mabnī fī maḥalli naṣbin yang berkedudukan sebagai maf'ūl bihi muqaddam (objek yang didahulukan) bagi fi'ilنَعْبُدُ.نَعْبُدُ: Fi'il muḍāri' (marfū' bi aḍ-ḍammah), dengan fā'il berupa ḍamīr mustatir wujūban (نَحْنُ).وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ: Di-i'rab sama seperti klausa sebelumnya dan dihubungkan dengan kata hubung 'athaf (وَ).
-
Ayat 5:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَاهْدِنَا: Fi'il du'ā' / ṭalab (secara lafaz berbentuk perintah, namun bermakna permohonan hamba) yang mabnī pada penghapusan huruf 'illah (yā'). Fā'il-nya ḍamīr mustatir wujūban (أَنْتَ), dan ḍamīrنَاberkedudukan sebagai maf'ūl bihi pertama.الصِّرَاطَ: Maf'ūl bihi kedua (manṣūb bi al-fatḥah).الْمُسْتَقِيمَ: Sifat (na'at) bagiالصِّرَاطَ(manṣūb bi al-fatḥah).
-
Ayat 6–7:
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَصِرَاطَ: Berkedudukan sebagai badal dariالصِّرَاطَpada ayat sebelumnya (manṣūb bi al-fatḥah).الَّذِينَ: Isim maushūl mabnī fī maḥalli jarrin (muḍāfun ilaih).أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ: Jumlah fi'liyyah yang menjadi ṣilah al-maūṣūl (tidak memiliki maḥall i'rāb).غَيْرِ: Badal dari ḍamīrعَلَيْهِمْatau sifat (na'at) bagiالَّذِينَ(majrūr bi al-kasrah).الْمَغْضُوبِ: Muḍāfun ilaih (majrūr bi al-kasrah).وَلَا الضَّالِّينَ: Hurufوَsebagai 'aṭaf, hurufلَاsebagai penegas negasi (ta'kīd an-nafy), danالضَّالِّينَdi-'athafkan (ma'ṭūf) dengan tanda majrūr berupa huruf yā'.
2. Aspek Balaghah dan Gaya Bahasa Surah Al-Fatihah
-
Kalimat Berita yang Bermakna Perintah (Al-Jumlah Al-Khabariyyah bi Ma'nā Al-Insyā'): Ungkapan
الْحَمْدُ لِلَّهِsecara struktur lafaz adalah kalimat berita (khabar), namun secara makna merupakan insyā'iyyah (perintah) yang bermakna: "Ucapkanlah pujian: Al-Ḥamdu lillāh". Pemilihan bentuk isim masdar yang dibuat mubtada' muakhor mendatangkan faedah al-qasru (membatasi bahwa seluruh pujian mutlak hanya milik Allah) serta menunjukkan sifat pujian yang langgeng dan berkesinambungan (ats-tsubūt). -
Peralihan Gaya Bahasa / Sudut Pandang (Al-Iltifāt): Terjadi gaya bahasa iltifāt, yaitu perubahan susunan dari bentuk kata ganti orang ketiga (al-ghaibah: menyebut Allah, Rabb al-'ālamīn, ar-Raḥmān, Mālik yaum ad-dīn) menuju bentuk sapaan kata ganti orang kedua/langsung (al-khiṭāb:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ).- Hikmah Balaghah: Ketika seorang hamba merenungkan sifat-sifat keagungan dan kasih sayang Allah pada ayat-ayat awal, jiwanya merasa semakin dekat dengan Sang Pencipta, sehingga pada ayat berikutnya ia seolah-olah telah berada langsung di hadapan-Nya dan menyapa-Nya secara bertatap muka (mukhāṭabah).
-
Pengutamaan Objek untuk Pengkhususan (Taqdīm Al-Maf'ūl li Al-Qaṣr / Al-Ḥaṣr): Pada ayat
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ, objek (maf'ūl bihi:إِيَّاكَ) didahulukan sebelum fi'il-nya (نَعْبُدُdanنَسْتَعِينُ). Berdasarkan kaidah balaghah, mendahulukan komponen yang seharusnya di belakang berfungsi memberikan makna al-qaṣr (pengkhususan), yakni: "Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan" (tidak kepada selain-Mu). -
Penggunaan Kata Ganti Jamak (Sīghat Al-Jam'): Penggunaan fi'il
نَعْبُدُ(kami menyembah) danنَسْتَعِينُ(kami memohon pertolongan) menggunakan bentuk jamak (kami/kita), bukan tunggal (aku menyembah). Hal ini mencerminkan rasa kesadaran dan kerendahan hati hamba yang merasa malu jika berdiri sendirian di hadapan Allah, sehingga ia menyertakan dirinya bersama rombongan orang-orang beriman (jamā'at al-mu'minīn) dalam bermunajat. -
Penyandingan Sifat Agung dan Kasih Sayang (At-Tawāzun): Penyebutan sifat Rabb al-'Ālamīn (Penguasa alam semesta) yang mengagungkan disandingkan langsung dengan Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), sehingga menghimpun dorongan rasa takut (khauf) sekaligus harapan akan rahmat-Nya (rajā') secara seimbang dalam diri pembaca.
-
Keselarasan Rima Akhir Ayat (At-Tanāsub fī Al-Fawāṣil): Surah Al-Fatihah diakhiri dengan susunan rima/fashilah yang sangat harmonis (berakhiran huruf nūn didahului huruf yā' atau alif, seperti: al-'ālamīn, ar-raḥīm, ad-dīn, nasta'īn, al-mustaqīm, aḍ-ḍāllīn), menghasilkan nada alunan yang indah dan memudahkan untuk dihafal serta dihayati.