Oleh Dwysa
Sekarang katanya AI sudah bisa mengakses katalog ribuan kitab melalui Model Context Protocol. Lalu keluarlah ancaman yang agak menyeramkan: santri pemalas dan aktivis bahtsul masail yang malas update, siap-siap tergusur AI.
Saya malah bingung. Memangnya santri sedang melamar pekerjaan menjadi mesin pencari?
Kalau ukuran kealiman adalah siapa yang paling cepat menemukan teks dalam ribuan kitab, sejak dulu manusia sudah kalah. Komputer tidak mengantuk. Tidak perlu ngopi. Tidak pernah izin keluar sebentar karena rokok habis. Kita mencari satu ibarat setengah jam, mesin mungkin menemukannya dalam hitungan detik.
Tetapi ilmu agama sejak dahulu tidak hanya soal menemukan teks.
Ada kemampuan memahami konteks, mengetahui wajhul istidlāl, membandingkan pendapat, memahami ‘illat, memilah mana pendapat mu‘tamad, mengetahui batas penerapan sebuah kaidah, sampai memahami kenyataan yang sedang dihukumi. Belum lagi sanad keilmuan, adab, kehati-hatian, dan tanggung jawab moral ketika sebuah kesimpulan disampaikan kepada masyarakat.
AI boleh punya perpustakaan sebesar satu kota. Ia tetap bukan kiai.
Justru yang menarik bukan mempertandingkan santri dengan AI, tetapi mengajari santri memanfaatkan AI dengan benar.
Dulu orang mencari satu keterangan harus membuka indeks, membongkar rak, lalu berpindah dari satu jilid ke jilid lain. Sekarang AI dapat membantu mempersempit pencarian: kitab mana yang membahas persoalan itu, istilah Arab apa yang sebaiknya dicari, pendapat apa saja yang perlu dibandingkan, bahkan menunjukkan kemungkinan lokasi pembahasannya.
Bagus sekali.
Waktu yang dahulu habis untuk mencari pintu, sekarang bisa digunakan untuk memeriksa isi rumah.
Tetapi hasil AI tetap harus ditahqiq. Kutipan dibuka kembali pada kitab aslinya. Redaksi diperiksa. Jilid dan halaman dicocokkan. Konteks sebelum dan sesudahnya dibaca. Jangan sampai AI memberikan ibarat yang kelihatannya gagah, lalu kita langsung membacakannya dalam forum dengan suara mantap.
Sebab kesalahan yang dibacakan dengan percaya diri tetaplah kesalahan. Bahkan kadang lebih berbahaya karena pendengarnya ikut percaya diri.
Di sinilah AI justru bisa membuat santri semakin rajin, bukan semakin malas.
AI dapat menjadi semacam asisten pencarian yang bekerja sangat cepat. Tetapi keputusan ilmiah tetap membutuhkan orang yang mempunyai perangkat ilmu. Mirip kalkulator: kehadirannya tidak membuat matematika tidak perlu dipelajari. Justru orang yang tidak memahami matematika bisa salah memencet tombol lalu bangga karena layar menampilkan banyak angka.
Maka yang perlu dikhawatirkan bukan AI mengalahkan santri.
Yang perlu dikhawatirkan adalah santri memakai AI tanpa ilmu, lalu merasa sudah menjadi baḥḥāts hanya karena berhasil melakukan copy-paste ibarat.
Lebih lucu lagi kalau kita memusuhi AI karena takut tersaingi. Kitab cetak dahulu juga teknologi. Maktabah digital teknologi. Mesin pencarian teks juga teknologi. Laptop yang dibawa ke forum bahtsul masail juga teknologi. Kalau semuanya dianggap pesaing manusia, mungkin jalan paling aman adalah kembali membawa kitab dengan gerobak.
AI tidak perlu dijadikan musuh. Tidak pula perlu dijadikan guru besar.
Taruh saja pada tempatnya: khadam yang sangat cepat, tetapi tetap harus diawasi.
Santri tetap belajar nahwu, sharaf, ushul fikih, qawa‘id, fikih, dan perangkat ilmu lainnya. Tetap berguru. Tetap membuka kitab. Tetap bertanya kepada orang yang lebih alim. Tetapi sekarang ia mempunyai alat yang dapat mempercepat penelusuran dan memperluas kemungkinan rujukan.
Jadi saya kurang sepakat dengan kalimat, “Siap-siap tergusur AI.”
Santri tidak sedang berlomba dengan AI.
Yang lebih tepat barangkali: santri yang berilmu dan pandai memakai AI akan mempunyai alat bantu yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Sebab teknologi tidak selalu datang untuk menggusur manusia.
Kadang ia hanya datang membawa cangkul yang lebih bagus.
Kalau sudah diberi cangkul bagus tetapi tetap tidak mau mencangkul, nah, itu bukan salah AI.
Itu memang malas.