Oleh Cak Usma Peta konflik global saat ini terus mengalami pergeseran yang signifikan. Dari berbagai titik ketegangan di seluruh dunia, sekitar 70% di antaranya disinyalir berada di bawah kendali dan pengaruh Amerika Serikat. Namun, dinamika geopolitik terbaru menunjukkan tren penarikan kekuatan dari berbagai titik konflik lama, yang diiringi dengan indikasi bahwa pusat-pusat hegemoni ini sedang bersiap untuk membuka front baru, dengan Asia Tenggara sebagai arena potensial berikutnya. Memahami anatomi konflik antarnegara tidak bisa dilepaskan dari fondasi awalnya: pemetaan jejaring kekuatan sosial di tingkat akar rumput. Sebuah negara tidak tiba-tiba runtuh oleh serangan fisik, melainkan diawali dari kerapuhan struktur sosialnya. Buku karya Halim Barakat berjudul Dunia Arab memberikan petunjuk penting tentang bagaimana jejaring kekuatan sosial dipecah belah melalui strategi yang disebut sebagai pemozaikan. Pemozaikan adalah proses penegasan batas-batas sosial yang dirancang secara sistematis untuk membentuk kelompok-kelompok masyarakat agar benar-benar terpisah dan berjarak dari kelompok lainnya. Penebalan batas identitas ini bukanlah proses yang terjadi secara alami. Pemozaikan sering kali dilakukan melalui berbagai rekayasa konflik sosial antarkelompok. Tujuannya sangat jelas: menciptakan demarkasi sosial yang tegas sehingga masyarakat lebih mudah dibenturkan. Di Indonesia, praktik pemozaikan ini memiliki rekam jejak yang sangat panjang dan terus bermutasi. Secara historis, masyarakat dibelah melalui dikotomi Islam Abangan versus Islam Puritan, yang kemudian bergeser menjadi ketegangan antara Islam Puritan versus Islam Tradisional. Ketika faksi-faksi besar ini mulai menemukan titik keseimbangan, batas-batas baru kembali ditegaskan untuk memecah kelompok yang sebelumnya solid. Islam Tradisional, misalnya, terus didorong untuk mengalami pemisahan internal yang lebih rinci. Dinamika ini terlihat jelas pada diskursus mutakhir yang membenturkan Aswaja NU dengan Aswaja Habaib. Fragmentasi yang terus-menerus ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai ketahanan nasional di masa depan. Di tengah berbagai skenario infiltrasi ideologi, sejarah mencatat bahwa Indonesia memiliki cara yang unik dan sering kali ironis dalam menyelamatkan dirinya. Pada masa lalu, terdapat operasi besar-besaran untuk menyebarkan dogma Wahabi melalui pembagian buku-buku keislaman gratis kepada jemaah haji Indonesia. Operasi ideologis ini secara tidak sengaja gagal dan bangsa ini terselamatkan oleh satu hal sederhana: rendahnya minat baca masyarakat. Dogma yang tercetak di atas kertas itu pun tidak pernah benar-benar mengakar. Ketika strategi beralih menggunakan media kaset rekorder, infiltrasi ini kembali kandas karena perkembangan teknologi yang bergerak lebih cepat dari distribusi propaganda; kaset dengan cepat menjadi usang. Eksperimen penyebaran melalui kepingan CD pun mengalami nasib serupa. Keterlambatan adaptasi dan ketidaksesuaian zaman membuat dogma-dogma asing yang dititipkan selalu telat tiba di telinga masyarakat Indonesia. Hari ini, tantangan ideologis tersebut mewujud dalam bentuk baru, salah satunya melalui inisiasi Abrahamic Religion (Agama Abrahamik). Konsep ini membawa arus penyeragaman yang cenderung menolak eksistensi cabang-cabang besar dalam suatu agama. Dalam konteks Islam, dorongannya adalah menjadikan Sunni sebagai wajah tunggal, yang memicu derasnya kampanye bahwa kelompok di luar itu, seperti Syiah, bukan bagian dari Islam. Namun, di tengah gelombang penyeragaman ini, terjadi anomali pergeseran sosiologis yang menarik di dalam negeri. Kelompok-kelompok seperti Muhammadiyah dan PKS—yang pada masa lalu sering diposisikan berseberangan dengan tradisi Aswaja—kini menunjukkan tren keterbukaan. Beberapa tahun belakangan, banyak tokoh dari kelompok tersebut yang justru mendorong generasi muda dan kader-kadernya untuk mempelajari Aswaja, bahkan mengirim mereka secara bergelombang untuk mendalami ilmu tersebut di Mesir. Pertemuan tak terduga antara berbagai faksi Islam di Indonesia saat ini membuka sebuah harapan baru. Di tengah bayang-bayang rekayasa konflik global dan ancaman pemozaikan sosial, inisiatif-inisiatif baru dan pergeseran sikap antarkelompok ini mungkin saja menjadi momentum tak terduga yang akan kembali menjadi perisai penyelamat bagi Indonesia.Pemozaikan Sosial sebagai Akar Konflik
Rekayasa Batas Kelompok di Indonesia
"Kekebalan" Unik Bangsa Melawan Dogma Asing
Momentum Agama Abrahamik: Ancaman atau Penyelamat?
Beranda
» Kebangsaan
» Ancaman Geopolitik dan Pemozaikan Sosial: Akankah Indonesia Kembali Terselamatkan?
Next
Posting Lama.
PALING DIMINATI
-
-- Oleh : Ust. Masaji Antoro (Admin) 1. Wiridan wanita hamil رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ [الفرق...
-
Beberapa tahun yang lalu setelah beredar buku MANTAN KIAI NU MENGGUGAT, terdapat sebuah buku baru hasil kajian generasi NU untuk membuongkar...
-
Menurut fatwa seorang Ulama besar : Asy-Syekh Al Hafidz As-Suyuthi menerangkan bahwa mengadakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw, deng...
-
-- Tradisi yang berkembang dikalangan NU, jika ada orang yang meningal, maka akan diadakan acara tahlilan, do’a, dzikir fida dan lain seba...
-
Kumpulan khutbah dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia lengkap bisa anda dowload disini (24 mb) .... atau di sini juga bisa .... Khutbah N...
-
PERTANYAAN : Assalamu'a laikum sedulur... .... mau tanya tentang syarat menjadi khatib (terutama pada shalat jum'at...
-
PERTANYAAN Puasa mutih, Puasa ngrowot,Puasa patigeni, boleh apa tidak?? Apakah tidak termasuk wishol yang dilarang? JAWABAN Setiap ...
-
Hari Selasa, 11 Jumada Al-Tsaniya h 1235 H atau 1820 M. ‘Abd Al-Latif, seorang kiai di Kampung Senenan, desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan...
-
Banyak orang salah mengartikan makna hadits berikut ini, dengan adanya salah penafsiran tersebut mereka mudah meng haramkan atau mensesatkan...
-
Para Saudara kita dari qabilah Ba'alawy masyhur meyakini bahwasanya para Walisongo adalah saheh sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW dari...