oleh Dwysa
Menjelang Muktamar NU, nama Hasan Gipo sering disebut untuk menegaskan bahwa Ketua Tanfidziyah NU tidak harus seorang kiai.
Secara sejarah, itu benar.
Hasan Gipo adalah Ketua Tanfidziyah PBNU pertama. Ia saudagar dari keluarga santri Surabaya. Tetapi ada bagian sejarah yang sering tertinggal: pada saat yang sama, pucuk Syuriyah NU dipegang Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar.
Nah, di sinilah perbandingan zaman harus dilakukan dengan hati-hati.
KH Hasyim Asy’ari bukan sekadar kiai yang dituakan karena umur. Beliau mengembara belajar ke berbagai pesantren, termasuk Bangkalan dan Siwalan Panji, lalu bertahun-tahun menimba ilmu di Makkah. Beliau berguru kepada ulama besar seperti Syekh Mahfudz at-Tarmasi, mendalami hadis, dan sepulang ke Jawa mendirikan Pesantren Tebuireng pada 1899.
Ketika NU berdiri pada 31 Januari 1926, Kiai Hasyim ditempatkan sebagai Rais Akbar. Beliau pula yang merumuskan Qanun Asasi dan I‘tiqad Ahlussunnah wal Jamaah sebagai fondasi pemikiran NU.
Artinya, Hasan Gipo tidak bekerja dalam ruang kosong.
Di atas struktur organisasi itu berdiri seorang ulama dengan kedalaman ilmu, kewibawaan, jaringan pesantren, dan otoritas keagamaan sebesar KH Hasyim Asy’ari.
Bahkan pada masa awal NU, kedudukan Syuriyah memang sangat dominan. Sampai Muktamar kedelapan tahun 1933 belum ada rapat khusus Tanfidziyah. Syuriyahlah yang menjadi poros utama arah organisasi.
Karena itu kurang tepat kalau sejarah Hasan Gipo dipakai sendirian untuk menjawab persoalan kepemimpinan NU hari ini.
Kalau mau membandingkan, bandingkan satu bangunan, bukan satu kursi.
Dulu Ketua Tanfidziyah boleh seorang saudagar, tetapi Rais Akbarnya KH Hasyim Asy’ari.
Dulu mungkin tidak semua kelebihan harus berada dalam satu orang, karena antara ulama dan pelaksana organisasi saling melengkapi dengan sangat kuat.
Maka pertanyaan hari ini bukan sekadar:
“Bukankah dulu Hasan Gipo juga bukan kiai?”
Pertanyaan yang lebih lengkap adalah:
“Ya, tetapi dulu Rais Akbarnya KH Hasyim Asy’ari. Sekarang, sekuat apa benteng keulamaan yang kita punya?”
Sejarah jangan dipakai seperti mengambil satu ayat lalu meninggalkan konteksnya.
Sebab zaman keemasan tidak lahir hanya karena susunan jabatannya bagus.
Ia lahir karena orang-orang besar ditempatkan pada tempat yang tepat.