Kaidah Dasar
Para fuqaha menetapkan kaidah umum: **"اللبن تابع للحم"** (susu mengikuti hukum dagingnya) — sebagaimana disebutkan dalam **الفواكه العديدة في المسائل المفيدة karya Ahmad al-Manqur (juz 1, hlm. 193)**: *"الأصل أن اللبن تابع للحم"* (pada dasarnya susu mengikuti [hukum] daging).
Artinya:
- Susu hewan yang **halal dagingnya** (unta, sapi, kambing, domba) → **halal dan suci** susunya.
- Susu hewan yang **haram dagingnya** → pada dasarnya **haram/najis** susunya, dengan perincian mazhab di bawah.
Perincian per Mazhab
1. Mazhab Hanafi
Susu keledai (لبن الأتان) dijadikan contoh utama. Dalam **تبيين الحقائق شرح كنز الدقائق karya Az-Zayla'i (juz 6, hlm. 10)** disebutkan: *"كُرِهَ لَبَنُ الْأَتَانِ؛ لِأَنَّ اللَّبَنَ مُتَوَلِّدٌ مِنْ اللَّحْمِ فَصَارَ مِثْلَهُ"* — dimakruhkan susu keledai karena susu terlahir dari daging sehingga hukumnya seperti daging. Disebutkan pula bahwa susu kuda dimakruhkan menurut Abu Hanifah, sedangkan Abu Yusuf berbeda pendapat. Dalam **شرح مختصر الطحاوي karya Al-Jashshash (juz 8, hlm. 535)** ditegaskan tidak ada beda antara daging keledai dan susunya dalam larangan dan kebolehan — karena haramnya daging, maka haram pula susunya (qiyas).
2. Mazhab Maliki
Ada tiga pendapat dalam mazhab ini. Dalam **التوضيح في شرح مختصر ابن الحاجب karya Khalil bin Ishaq (juz 1, hlm. 34)** disebutkan Ibnu Basyir dan Qadhi 'Iyadh menukil tiga pendapat dalam mazhab mengenai susu hewan yang tidak dimakan dagingnya (selain babi): **suci, najis, dan makruh**.
3. Mazhab Syafi'i (paling banyak rincian)
- **Pendapat masyhur/mu'tamad**: najis dan haram diminum. Dalam **الأم karya Imam Syafi'i (juz 3, hlm. 117)** dinyatakan: *"وَلَا لَبَنُ مَا لَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ مِنْ غَيْرِ الْآدَمِيِّينَ"* (tidak halal pula susu hewan yang tidak dimakan dagingnya selain manusia).
- Dalam **المهذب karya Asy-Syirazi (juz 1, hlm. 93)** disebutkan adanya dua wajah (pendapat): mayoritas menajiskannya, sedangkan **Al-Ishthakhri** berpendapat **suci**, diqiyaskan dengan keringat hewan tersebut (**التهذيب karya Al-Baghawi, juz 1, hlm. 185**).
- Dalam **بحر المذهب karya Ar-Ruyani (juz 5, hlm. 52)** ditegaskan: *"لبن ما لا يؤكل لحمه لا يحل شربه بلا خلاف"* — haram meminumnya tanpa ada perselisihan (meski status najis/sucinya diperselisihkan).
- **Al-Haramain (نهاية المطلب karya Al-Juwaini, juz 5, hlm. 209)** menyebut pendapat mazhab yang lebih kuat (zhahir madzhab): najis.
- **Al-Mawardi (الحاوي الكبير, juz 1, hlm. 319)** menegaskan seluruh ulama Syafi'iyyah **sepakat mengharamkan meminumnya**, hanya berbeda pendapat soal status najis/sucinya.
4. Mazhab Hanbali
Sejalan dengan mazhab lain: haram, mengikuti hukum daging. Ibnu Utsaimin dalam **الشرح الممتع على زاد المستقنع (juz 15, hlm. 37)** menyebutkan contoh susu keledai sebagai barang haram, namun boleh diminum dalam kondisi **darurat** (misalnya untuk pengobatan), karena kaidah "setiap yang haram namun tidak membahayakan zatnya, boleh saat darurat."
Konsensus (Ijma')
Ada satu titik yang disepakati seluruh mazhab: **susu babi haram secara mutlak**, tanpa ada perselisihan. Hal ini disebutkan dalam **الإقناع في مسائل الإجماع karya Ibnul Qaththan (juz 1, hlm. 325)**: *"واختلفوا في لبن ما لا يؤكل لحمه... حاشا الخنزير؛ فإنهم اتفقوا أن لبنه حرام"* — mereka berselisih tentang susu hewan yang tidak dimakan dagingnya, kecuali babi, karena mereka **sepakat** susunya haram.
Pengecualian: ASI Manusia
Seluruh mazhab sepakat ASI (susu manusia) adalah **suci dan halal**, meskipun manusia sendiri tidak dimakan dagingnya — ini dikecualikan dari kaidah umum karena **kemuliaan manusia** (كرامة للآدمي). Disebutkan dalam **التهذيب في الفقه الشافعي karya Al-Baghawi (juz 1, hlm. 185)**: *"...فلبنه نجس، إلا لبن الآدميات؛ فإنه طاهر؛ كرامة للآدمي"*. Demikian pula dalam **المنهاج في شعب الإيمان karya Al-Halimi (juz 2, hlm. 285)**.
Alhasil, Susu hewan yang halal dimakan dagingnya (unta, sapi, kambing, dsb.) → halal. Susu hewan yang haram dagingnya (keledai, kuda menurut sebagian Hanafi, binatang buas, dsb.) → pada dasarnya **haram diminum** menurut jumhur (Hanafi, Hanbali, dan pendapat masyhur Syafi'i), dengan pengecualian darurat; sedangkan status **najis/sucinya** diperselisihkan (khususnya di kalangan Syafi'i dan Maliki). Babi disepakati haram susunya, dan ASI manusia disepakati suci-halal.