Bismillahirrohmaanirrohiim

Setrum berkat bacaan Al-Fatihah

Oleh Rijal Mumazziq Zionis


Kemarin dijapri Gus Ahmad Mundzir. Intinya, saya diminta oleh guru beliau ngisi haflah di Ponpes Sirojut Tholibin Brabo Tanggungharjo Grobogan Jawa Tengah. InsyaAllah tanggal 24 Mei 2026.

Saya melongo juga ndredek membaca japrinya Direktur NU Online Super App ini. Apa sebab? Dalam beberapa kali pengajian, saya mengutip dawuh almaghfurlah KH Baidhowi Syamsuri, generasi kedua kepengasuhan pesantren ini. Dawuh beliau berkaitan “3 jenis air” yang hendaknya dipakai orangtua memandikan buah hatinya supaya generasi shalih-alim. 3 jenis air ini hanya perlambang, tapi punya kedalaman makna, yaitu air susu, air hangat dan air mata.

Terakhir kali, saya menyampaikan dawuh beliau ini dalam haflah di TPQ Qur’ani Gumukgebang Nogosari Rambipuji Jember, Sabtu, 14 Februari 2026, setelah sebelumnya juga mengulas hal yang sama di TPQ Nurul Huda Jadukan Mojosari Puger Jember, Kamis, 29 Januari 2026. Saya, insyaAllah, selalu ingat materi yang disampaikan, lantaran selain muthalaah dulu juga mencatat materi yang hendak diutarakan, meminjam istilah Gus Baha’.

Kalaupun hendak mengutip dawuh seorang ulama, dalam maupun luar negeri, sebelum ngisi biasanya saya membacakan fatihah secara khusus kepada beliau. Supaya “setrum”-nya nyambung, agar koneksi jiwanya tersambung, dan semacam misscall izin menyampaikan ilmu atau mengamalkannya.

Pola frekuensi yang sambung menyambung seperti ini, atau magnet ruhaniah begini, ternyata jika diingat-ingat pernah terjadi ketika saya ngisi di Wisuda MA Bahrul Ulum Tambakberas, Haflah MA Fattah Hasyim Tambakberas, Ponpes Khoiriyah Hasyim Seblak, Ponpes Masruriyah Tebuireng, MA Mujibiyyah Langitan, maupun di Ma’had Aly Lirboyo. Juga di berapa pesantren tua lainnya.

Termasuk pula ketika pernah ngobrol ngalor ngidul dengan para sahabat berkaitan dengan Muqaddimah Qanun Asasi Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, lhakok ndilalah saya diminta jadi salah satu narasumber di halaqah tentang Qanun Asasi di aula KH Yusuf Hasyim, Pondok Tebuireng, 14 Februari lalu.

Kejadian-peristiwa yang bagi saya bukan sekadar kebetulan, ora mak bedunduk (dalam istilah Arek Suroboyo), melainkan interkoneksi-harmoni yang indah antara alam nyata dengan dunia lain.

Saya merasa semacam “ditimbali” sowan, atau dipanggil menghadap ke pemilik quote/dawuh yang telah terkutip dan tersampaikan sebelumnya dalam beberapa pengajian.

Entahlah. Saya merinding…

Benar kata Baginda Rasulullah sebagaimana termaktub dalam Shahih Muslim:

قَالَ الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Jiwa-jiwa itu seperti prajurit yang berkelompok-kelompok, jika saling mengenal mereka akan menjadi akrab, dan jika saling bermusuhan maka mereka akan saling berselisih."


.

PALING DIMINATI

Back To Top