Oleh Al ma'arif Arif
(Jawaban atas Respon Guru Saya; Prof. Dr. KH. Abdul Mustaqim)
Pada bagian pertama tulisan saya, saya membedah pesantren dengan perspektif ilmiah yang berlaku secara global saat ini pasca revolusi saintifik. Perlu diketahui, terma ilmiah dan saintik itu sama dalam hal arti maupun paradigma. Jadi, ketika menyebut ilmiah, ya sama dengan saintifik.
Perdebatan soal ilmiah ini menarik di kalangan akademisi, namun tidak menarik di kalangan awam. Karena memang bukan bagian orang awam untuk membicarakan persoalan ilmiah ini.
Tulisan saya tentang apakah pesantren itu tempat studi ilmiah atau bukan jika dibedah dengan revolusi saintifik telah ditanggapi oleh guru saya; Prof. Dr. KH. Abdul Mustaqim. Beliau pernah menjabat sebagai direktur pascasarjana UIN Yogyakarta. Dosen kami metode penelitian al-Qur’an dan tasawuf. Selain itu, beliau adalah pendiri dan pengasuh pesantren LSQ ar-Rahmah, Bantul Yogyakarta. Saya sangat senang dan mendapat banyak ilmu dari beliau. Bahkan dulu satu kelas hanya beberapa yang dapat nilai A, saya termasuk yang minoritas itu. Sebagaimana tulisan tentang bahasa Arab saya dulu ditanggapi oleh Dr. Halimy Zuhdi dari UIN Malang. Respon seperti ini sangat positif, karena kalau dulu Mas Ulil Abshar Abdalla balas-balasan dengan Bapak Mertua beliau (Kiai Mustofa Bisri) di media cetak, sedangkan sekarang sudah berbeda zaman, yaitu balas-balasan bisa di laman FB masing-masing yang semua orang bisa membaca secara langsung.
Apa yang ditulis oleh guru saya KH. Abdul Mustaqim itu yang diajarkan kepada kami di kelas-kelas perkuliahan selama di UIN Jogja yang menganut paradigma multi, inter dan transdisiplin. Tokoh-tokoh yang disebut itu ada dalam list mata kuliah filsafat ilmu. Saya ingat betul nama-nama tokoh itu saat dipancarkan dalam slide ketika pembagian tugas. Waktu S-1 diajar oleh Prof. Fathimah yang team teaching dengan dosen luar negeri (kalau tidak salah ingat dari Mc. Gill Canada) dan Ketika di S-2, mata kuliah itu diampu oleh Bapak Dr. Alim Roswantoro.
Ada yang betul-betul saya ingat bahkan saya tanamkan betul hingga saat ini ketika saya menjadi penguji skripsi (S-1) maupun tesis (S-2) yaitu tentang renaissance. Mengerti dan mengkaji ilmu apa pun dimulai dari renaissance. Penjelasan ini saya ambil dari guru saya yang sangat hebat; Prof. Inayah Rohmaniyah (alumni pesantren, lalu tafsir hadis, kemudian ke American State University, lalu CRCS UGM). Guru kami yang kalau berbicara bahasa inggris sangat lancar tanpa mikir kosakata lagi. Saya sangat bangga bisa diberi ilmu sebagai bekal hidup oleh beliau. Selain itu, kata kunci setelahnya adalah revolusi saintifik. Ini saya ambil dari Prof. Yudian Wahyudi. Dua istilah ini harus menjadi pegangan betul dalam dunia akademik.
Apa pentingnya dua istilah itu? Dua istilah itu menjadi awal mula perubahan besar-besaran dalam peradaban manusia. Renaissance melahirkan revolusi saintifik, lalu enlightenment, lalu revolusi industri. Ini jangan dianggap urusan ringan dan kecil. Renaissance dan revolusi saintifik ini kemudian tidak terjadi pada dunia muslim. Justru, pada saat Barat telah mengalami revolusi saintifik yang melahirkan revolusi industry, bangsa Barat melakukan penjajahan di Asia dan Eropa. Turki Utsmani yang dibanggakan umat Islam yang melindungi Palestina bisa runtuh total karena kalah melawan peradaban anak-anak revolusi industri pada 1924.
Dari mana pesantren mengambil paradigma keilmuannya ketika Barat mengalami revolusi saintifik yang akarnya adalah institutionalization of scepticism (melembagakan tuntutan pembuktian) itu? Pesantren mengambil paradigma keilmuan Madrasah Nizhamiyyah di Dinasti Seljuq. Madrasah Nizhamiyyah didirikan untuk melestarikan dan mendakwahkan sekte Asy’ari dan Madzhab fikih asy-Syafi’i. Ini sudah diteliti secara detail oleh Prof. Dr. Syamsul Anwar dalam disertasinya. Ketika Dinasti Seljuq berkuasa, Dinasti Seljuq mempersekusi penganut teologi Muktazilah yang masih tersisa di sekitar daerah Rayy dan Dinasti Seljuq perang teologi dengan Dinasti Fathimiyyah yang beraliran Syi’ah Isma’iliyyah al-Batiniyyah di Mesir hingga Sultan Alb Arsalan terbunuh, Wazir Nizam al-Muluk dibunuh dan Sultan Malik Syah meninggal diracun (menurut para sejarawan).
Genealogi pesantren di Indonesia jelas sekali bertemu dengan Madrasah Nizhamiyyah di Dinasti Seljuq. Baik Madrasah Nizhamiyyah dan pesantren di Indonesia sama-sama melestarikan dan menyebarkan teologi Asy’ary dan Madzhab Fikih asy-Syafi’i. Ini berbeda dengan pesantren modern yang genealoginya adalah para modernis Muslim tentang kebangkitan umat Islam karena kolonialisme dan imperialisme Barat yang korbannya adalah umat Islam Asia dan Afrika, kekalahan dan kemunduran umat Islam serta tercerai berainya persatuan umat Islam.
Yang ingin saya katakan adalah ketika Barat mengalami revolusi saintifik dengan didirikan Oxford (1096), Universitas Sorbonne (1160), Cambridge (1209), Harvard (1636) yang melahirkan revolusi saintifik dan revolusi industry 1.0, umat Islam justru mandeg tidak mengalami bahkan mundur.
Ada ketimpangan yang sangat jauh. Barat yang melahirkan renaissance itu awal mulanya mengambil ilmu-ilmu dari ilmuwan-ilmuwan Muslim saat masa keemasan Islam di Baghdad dan Spanyol, namun pesantren justru tidak mau dengan ilmu-ilmu itu. Ketika Barat telah khatam kitab karya ulama muslim seperti al-Jabr wa al-Muqabalah karya al-Khawarizmi, al-Qanun fi al-Thibb karya Ibnu Sina, al-Hawi karya al-Razi, al-Tasrif karya al-Zahrawi, kitab Masalih al-Abdan wa al-Nufus dan sebagainya, kaum pesantren justru tidak mengajarkan apa pun kitab sains; yang diajarkan di pesantren semuannya full agama (teologi, fikih dan tasawuf). Walaupun kemudian lahir pesantren modern di Minangkabau yang mengajarkan ilmu-ilmu sekuler yang kemudian dibawa ke Jawa (Gontor). Tetapi keadaan sudah terlambat, karena Barat sudah kadung (terlanjur) mengalami revolusi saintifik dan revolusi industri.
Apa tanda revolusi saintifik dan revolusi industri mulai dari 1.0 sampai 4.0 itu? Manusia yang tak pandang agama dan sektenya dituntut untuk terus meneliti dan melakukan inovasi. Jika mobil dibuat oleh Karl Benz dalam bentuk sederhana tahun 1885, maka akan terus dibuat lebih inovatif hingga mobil yang berjalan di atas laut dan bisa terbang. Entah dalam paradigma keilmuan rasionalisme, empirisme, positivisme, verifikasionisme, kritisisme, falsifikasionisme, paradigma, program riset dan mungkin ada yang lain semuan muaranya adalah inovasi untuk kepentingan manuisa yang terus menerus. Jadi, kata kunci paradigma saintifik itu adalah inovasi yang terus menerus. Inilah mengapa dalam penelitian harus ada novelty.
Bagi umat Islam (Timur) yang sudah ratusan tahun terlalu enak hanya belajar agama full untuk melestarikan sekte dan menyebarkannya tanpa belajar eksperimental sciences untuk melakukan inovasi (seperti yang dilestarikan di pesantren), langkah Barat yang menuntut inovasi terus menerus sepanjang zaman ini karena telah mengalami revolusi saintifik ini menjadi malapetaka yang sangat dahsyat bagi umat Islam secara keseluruhan. Umat Islam secara keseluhan menjadi umat terjajah salama ratusan tahun karena tidak bisa inovasi dan hanya bisa menjadi konsumen bukan produsen.
Saat umat Islam menjadi bangsa yang terjajah karena lembaga pendidikannya (pesantren) terlalu bersemangat hanya mengajarkan ilmu agama abad pertengahana an sich selama ratusan tahun tanpa belajar experimental sciences untuk berinovasi, Barat terus melaju dan membuat berbagai standard global. Barat kemudian menghegomoni bangsa-bangsa dunia terutama umat Islam. Barat menyebut dirinya sebagai modern. Barat memproduksi lampu, mobil, komputer, alat-alat kesehatan, alat-alat teknik dan semuanya diproduksi. Paradigma ilmu pengetahuan pun hanya paradigma modern yang diakui di dunia global karena Barat telah memenangi peradaban. Pahit sangat pahit bagi umat Islam secara keseluruhan.
Untuk melanggengkan hegemoninya, Barat menciptakan standard apa itu ilmiah dengan membuat kebakuan epistemologis dan metodologisnya hingga Barat membuat standar jurnal mulai tahun 1665 dengan nama Jurnal Philosophical Transactions of the Royal Society. Tidak hanya itu, Barat juga membuat hak paten hasil inovasi. Dari sini, ilmu pengetahuan kemudian bernilai ekonomi akibat adanya hak paten. Sementara umat Islam (pendidikan di pesantren) yang kemampuannya debat mempertahankan sekte teologi dan mazhab fikih jatuh tak berkutik di hadapan standard saintifik Barat dengan inovasinya. Umat Islam pesantren sangat perlu membaca kitab kuning tetapi lampunya harus dibeli dari Barat. Kiai sangat butuh kendaraan untuk bepergian tetapi mobilnya dibeli dari Barat. Kiai butuh berhaji tetapi kapal atau pesawatnya dibeli dari Barat. Tidak bisa membuat sendiri karena tidak belajar experimental science dan sudah kadung ada hak paten dari Barat. Mengakui atau tidak mengakui, umat Islam yang sejak ratusan tahun telah memilih pendidikan Islamnya membuang sains (pendidikan pesantren) telah kalah peradaban.
Setelah Barat yang mengaku modern selama ratusan tahun itu telah menjadi bangsa yang menang dengan menghegemoni umat Islam, kemudian muncul tokoh-tokoh yang bosan atau menggugat terhadap modern itu seperti Jean Francois Lyotard, Michel Foucault, Jacques Derrida, Jean Baudrillard, Richard Rorty, Fredric Jameson dan sebagainya yang melakukan protes terhadap modernisme. Inti protesnya; manusia tidak bisa selalu diukur dengan nilai kebendaan saja, tetapi ada sisi lain yang harus diperhatikan yaitu kepercayaan, agama, seni, rasa, memahami dan merasakan orang lain (empati) dan sejenisnya. Di sini lah seiring dengan munculnya studi ilmu-ilmu sosial dan humaniora (agama) serta perlawanan terhadap kolonisasi yang disebut dekolonisasi.
Para kaum postmo berusaha keras bagaimana ilmu yang pada mulanya eksakta (modern) itu diterapkan dalam studi yang non-eksak. Di sini kemudian lahir berbagai pendekatan dalam studi agama seperti sosiologi, antropologi, historis, psikologi, feminisme, etnologi dan fenomenologi. Contoh, hubungan antara kiai dan Allah pada saat dzikir tertentu pada masa modern dianggap halusinasi jika menggunakan eksakta, namun para ilmuwan postmo mencoba memahaminya dengan pendekatan misalnya fenomenologi. Fenomenolog mencoba masuk ke dalam relung, rasa dan jiwa kiai tersebut hingga fenomenolog (peneliti) juga turut merasakan apa yang dirasakan oleh subjek penelitian (kiai) tersebut. Jika memakai pendekatan fenomenologi, rasa seorang peneliti (fenomenolog) bisa merasakan betul seperti perasaan kiai saat berdzikir disebut mencapai eidetic.
Pesantren dengan segala macam doktrin, rasa, keyakinan dan relasinya dengan sesuatu yang mistis ini diakui dalam paradigma keilmuan Postmodern. Studi ini dianggap ilmiah (saintifik) dalam paradigma modern dan diakui sebagai studi sosial-humaniora. Inilah sesungguhnya yang dijelaskan oleh guru kami Prof. Dr. KH. Abdul Mustaqim. Namun penjelasan guru saya itu saya kira hanya sampai di sini saja. Menurut saya, harus dilihat lebih jauh tentang faktanya.
Fakta apa yang harus dilihat lebih jauh lagi? Bahwa dunia ilmu pengetahuan ini benar-benar kompetisi. Tidak bisa sama sekali ketika pesantren yang telah diakui saintifik oleh para ilmuwan postmodern lalu mandeg atau berhenti pada pemahaman ini saja. Pesantren yang pada masa modern tidak diakui sebagai ilmiah, kemudian diakui sebagai ilmiah ini tetap saja pada faktanya santri dan pesantren lagi-lagi sebagai subjek penelitian para ilmuwan. Santri hanya diakui sebagai subjek penelitian, tetapi bukan peneliti itu sendiri. Mengapa? Karena lagi-lagi metodologi dan epistemologi penelitian itu masih tetap saja dihegemoni oleh orang-orang Barat. Umat Islam (santri) lagi-lagi tidak diakui jika membuat standar sendiri. Ini bukti kalah karena harus tunduk pada standard orang lain.
Barat membuat standar jurnal yang disebut saintifik itu seperti apa, membuat pengindeks-an jurnal hingga semua dosen di Indonesia harus terperangkap dengan segala macam indeks bahkan sebagai syarat menjadi guru besar. Jadi, mau dosen cum santri atau siapa pun kalau dia mau menjadi guru besar, ia harus terperangkap dengan Sinta, Google Scholar, Elsevier (Scopus) ada standar minimum, WoS dan sebagainya. Semua itu, mau tidak mau harus tunduk kepada standard Barat dengan paradigma saintifiknya.
Tidak hanya untuk guru besar, tetapi jika ingin lembaga perguruan tinggi Islam dimasukkan sebagai kampus internasional (world class university), kampus tersebut harus terakreditasi FIBAA yang berpusat di Bonn, Jerman, ASIIN berpsusat di Jerman, AACSB berpusat di Amerika, ABET berpusat di Amerika Serikat dan sebagainya. Kaum pesantren tetap tidak bisa lepas dari hegemoni Barat soal standard saintifik. Santri tetap tidak bisa membuat standar saintifik sendiri. Kalau santri mau membuat standard saintifik sendiri, silahkan diakui sendiri oleh komunitas santri dan bangga sendiri, tetapi tetap tidak mungkin diakui global. Inilah mengapa universitas Islam tertua dan saat ini masih eksis dengan sangat banyak fakultas pun ketika diranking dalam ad-scientific indeks ranking ribuan.
Mengapa tetap Barat yang menang dan menjadi standar global, bukan santri? Yang tidak disadari, bahwa dunia ini dimenangkan oleh kaum yang mampu berinovasi. Barat masih sangat teguh memegang prinisp inovasi ini walau ketika postmodern mereka mengakui rasa, keyakinan, kepercayaan dan sejenisnya dalam penelitian. Tetapi ingat, mereka tetap mengindeks inovasi ini dalam ad-scientific index. Kaum konservatif ortodoks walaupun mati-matian mempertahankan eksistensi dirinya dan bangga karena telah diakui eksistensinya di era postmodern, tetapi tetap saja kaum santri terhegemoni dan terisolir dari peradaban. Karena tidak bisa membuat membuat standard ilmiah sendiri yang diakui dunia. Ujung-ujungnya pasti harus ikut standar Barat.
Terakhir, saya ingin mengingatkan bahwa peradaban pasca revolusi saintifik itu hanya dimenangkan oleh manusia-manusia yang mampu berinovasi. Penelitian itu tidak sekedar rekognisi pada subjek penelitian (misalnya santri telah diakui sebagai subjek penelitian yang ilmiah), tetapi sampai melahirkan inovasi. Bangsa yang paling banyak melahirkan inovasi, maka bangsa itulah yang menang. Bebarapa tahun terakhir ini, Cina menjadi saingan Barat. Karena Cina menyadari hal ini sehingga mati-matian berinovasi. Sedangkan umat Islam?