Umat islam baru saja kehilangan salah satu Ulama' Syafi'i besar di abad ini Syaikh Hasan Hitou Rahimahullah di bulan suci di waktu yang indah menjelang maghrib saat waktu mustajabah seolah pertemuan dengan Rabb adalah ijabah atas do'anya,
Wujud beliau boleh saja telah kembali pada penciptanya namun ilmu dan pelajaran yang telah beliau wujudkan semoga tidak luput untuk terus umat ini gali dan pelajari.
Yang saya tahu Syaikh Hasan Hitou adalah salah satu dari sedikit Ulama' yang tidak hanya mampu menulis tapi juga mampu mendidik murid-muridnya untuk juga bisa menulis dan diantara didikan beliau yang istimewa adalah putrinya sendiri yaitu Syaikhah Syifa' binti Hasan Hitou.
Kami katakan istimewa karena dua hal: pertama, beliau perempuan dan dalam sejarah islam Ulama' lebih didominasi oleh kaum pria. Kedua, beliau murni dididik dengan tarbiyah langsung ayahanda di dalam rumahnya.
Pada salah satu karya Syaikhah Syifa' yaitu Imta'ul Asma' Fi Syarhi Matan Abi Syuja' (kitab ini kami bacakan kepada dewan Guru KAF Probolinggo) ayahanda beliau Syaikh Hasan Hitou menyampaikan muqoddimah yang begitu dalam, beliau menulis:
تعلمت في مدرسة بيتها، وتضلّعت من علوم شريعتها ولغتها، ففاض إناؤها على لسانها، فجعلته مطية للدعوة، وعلى قلمها فسخرته وسيلة لنشر العلم.
وهذا الشرح الوجيز لأبي شجاع ثمرة من ثمار تلك المدرسة، أقدمها للقراء به، ليعلم من يريد العلم أثر المدرسة المنهجية في عقل وسلوك الإنسان، في كل زمان ومكان.
"Anakku ini belajar di Madrasah Keluarga (di rumah), dan mendalami ilmu-ilmu syariat serta bahasanya. Maka bejana ilmunya pun melimpah melalui lisannya; ia menjadikannya kendaraan untuk berdakwah. Dan melalui penanya, ia menundukkannya sebagai sarana untuk menyebarkan ilmu.
Penjelasan singkat atas kitab Abu Syuja’ ini merupakan salah satu "buah" dari madrasah tersebut. Aku mempersembahkannya kepada para pembaca agar siapa pun yang menginginkan ilmu mengetahui pengaruh madrasah yang metodologis terhadap akal dan perilaku manusia, di setiap zaman dan tempat".
Ada dua hal yang perlu digarisbawahi:
Pertama, ungkapan beliau "aku persembahkan", saya bayangkan betapa bangganya Syaikh Hasan Hitou saat menuliskannya. Lalu bayangkan kalau yang mengucapkannya adalah kita sebagai ayah/ibu/guru untuk sebuah karya didikan kita, tidakkah kita mencita-citakanya ???
Kalau kita mencitakannya maka jangan berhenti pada cita-cita saja tapi mulailah prosesnya karena ungkapan itu tidak lahir dari kehampaan namun dari proses panjang yang menguras lelah dan asa.
Syaikh Hasan Hitou layak menyebut "aku persembahkan" karena memang karya itu lahir dari dekapan tangannya di dalam rumahnya.
Kedua, ungkapan beliau "agar siapa pun yang menginginkan ilmu mengetahui pengaruh madrasah ini" seolah menyiratkan bagi siapapun yang masih meragukan pentingnya pengaruh keluarga lebih lagi orang tua dalam pendidikan maka seketika harus merevisi pendapatnya sebab Syaikh telah membuktikan hasil didikan rumahnya telah melahirkan karya.
Kalau Kiai Budi Ashari pernah menulis "setiap anak harus lahir kembar" yaitu satu fisiknya dan kedua cahayanya maka dari mana lahirnya cahaya itu ?? Bisa saja lewat tangan gurunya tapi amat lebih indah lagi jika cahaya itu lahir lewat tangan orang tuanya.
Akhirnya kita dapat mengambil pelajaran bahwa rumah yang dipenuhi ilmu dan hikmah akan melahirkan sesuatu yang istimewa.
Semoga Allah merahmati Syaikhuna Hasan Hitou, semoga juhudnya dalam mengabdi pada ilmu dan islam diterima oleh Allah Ta'ala sebagai pengangkat derajatnya di akhirat. Aamiin.
Wallahu'alam
Muhammad Salim Kholili.