Oleh; Lora Kholili Kholil (Salah satu Dzurriyah Syaikhona Kholil Bangkalan).
"Kalian membuat janji secepat burung kolibri, dan mempertahankannya selemah laron." Husain b. Ali, cucu Nabi, kepada penduduk Kufah yang mengkhianatinya. Martirnya Husain merupakan pelajaran besar bahwa berislam berarti melawan tirani. *Suhq li thawaghit al-ardi*, melawan imperialisme, demikian kata Husain. Sayangnya sejarah mainstream kurang berpihak kepada Husain. Kelompok paling benar adalah yang "diam". Sejak kapan diam atas kezaliman menjadi kebenaran?
Berdirinya Husain, cucu Muhammad saw, di Kufah dengan kakinya sendiri kini terulang lagi dalam bentuk yang berbeda. Ali Khamenei, keturunan Husain dari jalur Hasan al-Afthas, berdiri mempertahankan tanah Persia, tanah bertuah yang telah berabad-abad melahirkan manusia unggul. Di tanah Persi itu, dengan bahasa Persia pula (karena bahasa Arab sudah dihegemoni oleh "kaum diam"), si Tanda-tanda Allah (Ayat-u-Llah) berdiri gagah meniru datuknya, Husain, yang dulu berdiri sendirian di Karbala'.
Kita boleh berdebat apakah pilihan strategi Ayatullah betul secara politis atau tidak. Tapi kalau apa yang dia lakukan tidak disebut keberanian, maka saya tak tahu apa lagi definisi berani bagi umat islam. 48 jam sejak berita kematiannya, saya mencoba mencari suara dukungan kepada Ayatullah dari kelompok-kelompok yang disebut mewakili muslimin.
@Emwlorg, yang katanya menyatukan dunia muslim, dalam surat yang ditanda tangani Sekjennya, malah mengecam tindakan Iran. Saya tidak tahu lagi, ego muslim mana yang membiarkan pedofil macam Trump membiarkan membunuh ksatria saleh macam Ayatullah.
@Emuslimelders yang katanya terdiri dari orang-orang bijak, sampai ini ditulis saya tak menemukan dukungan moral apa pun. Saya tak tahu lagi mungkin mereka lebih semangat kalau hanya mengadakan konferensi di hotel.
@Giumsonline yang katanya persatuan ulama-ulama, diam tak bersuara. Entah lirih karena ketakutan atau apa.
@Gofficialazhareg, yang menyebut dirinya sebagai menara pendidikan Islam dunia, seperti biasa diam saja. Hanya sayup-sayup qunut nazilah yang terlalu jelas saya intip di akunnya; justru menunjukkan bahwa ia takut bersuara kencang. Entah menara pendidikan Islam mana yang ia klaim kalau-kalau pendidikannya tak mengajarkan membenci kezaliman. Tak jauh beda juga dengan grand syaikh-nya, hingga igs ini ditulis saya belum mendapat pernyataan spesifik tentang eskalasi konflik ini.
Di Hadramaut, Umar b. Hafidz, setidaknya dari akun Instagram-nya (©habibomarcom), tak tampak menyuarakan apa pun; seperti biasa hanya berzikir dan membakar dupa. Juniornya, Ali Al-Jufri (Galhabib.ali), sama saja masih jualan kasih sayang.
Di Timur Jauh, Indonesia, yang katanya negara muslim terbesar, tak kalah pengecut. Ulamanya diam saja. Garang di grup WhatsApp. Empat pemimpin @nahdlatululama, yang di tiap-tiap mimbar mengaku sebagai ormas Islam terbesar, hanya sanggup berseru qunut nazilah, sebuah bare minimum (batas minimal) bagi sebuah ormas Islam.
Bare minimum maksudnya: Ya harusnya emang qunut nazilah, itu bukan prestasi.
Entahlah, tak pernah saya merasa semalu ini sebagai "pengikut sunnah". Sunnah nabi mana yang mengajarkan kepengecutan?
"Kalau menjadi Rafidah/Syiah adalah menjadi berani, maka saksikanlah, wahai jin dan manusia, bahwa aku adalah rafidah!" - Shafi'i, paraphrased.
-
Tulisan ini diambil dari Instagram Story akun resmi beliau (@gm.five)_