Bismillahirrohmaanirrohiim

Metode KKN Dakwah binaan berkesinambungan

Oleh Rizal Mumazziq

Sejak lama saya memang nggak puas dengan metode KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang 40 hari. Program hanya “nyelup”, semacam say hello kepada masyarakat. Apalagi jika sekadar “mbantu ngetik di kantor desa”, bikin gapura dan ngecat tembok musholla, atau paling banter menuntaskan laporan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk berkas tebal yang seringkali nggak dibaca. Babar blas nggak puas. 

Solusinya? Yang begitu tetap ada, tentu. Karena keterbatasan SDM dan sumberdana program. Pertimbangan lain, kampus bukan ormas. Ada skala prioritas pertimbangan akademik. 

Tapi tentu tetap harus ada yang berdampak jangka panjang. Caranya? Tentukan satu desa target, yang minus di bidang pendidikan, keagamaan dan kategori “zona kuning”, bahkan “merah”. Kirim sekelompok mahasiswa dengan kualifikasi tahan banting secara mental, mumpuni keilmuannya, dan punya komunikasi yang baik. Ini sebagai tim perintis. Beri 1 target utama yang harus terwujud dalam jangka 40 hari. Jika belum ada TPQ, misalnya, ya sudah dirikan saja, cari dukungan dan dekengan tokoh masyarakat di situ. Setelah terbentuk TPQ, jangan langsung ditinggal dan dipasrahkan ke tokoh setempat, karena kadang ada “dinamika” (baca: gesekan) dengan sesama tokoh. Bisa bubar. 

Kalaupun tim mahasiswa perintis ini sudah purna tugas 40 hari, tapi harus ada 3-4 orang yang ditinggal di situ untuk mengawal TPQ agar tidak bubar. Beri mereka waktu perpanjangan 40 hari sampai 6 bulan dengan diberi insentif, semacam dana mondar-mandir. 

Di waktu bersamaan, pihak kampus mencari pengganti 4 orang tadi dari adik tingkatnya. Standar kualifikasi sama: telaten, punya jiwa survival dan mentalitas pendidik. Tugasnya menjadi tim pengganti pendamping pengembangan TPQ. Bisa disewakan tempat tinggal di desa binaan ini, bisa juga pulang pergi. Kampus menanggung biayanya. Baik dari anggaran internal maupun eksternal.

4 orang pengganti ini bertugas selama satu semester. Jika sudah rampung, maka diganti lagi oleh tim berikutnya. Demikian seterusnya. Ini konsep Ribath, penjaga garnisun perbatasan di zaman Nabi dan para sahabat, dengan sistem rotasi tim inti setiap sekian bulan sekali. Dalam kisah sahabat, Amirul Mukminin Sayyidina Umar bin Khattab, yang antara lain menentukan durasi waktu rotasi pasukan perbatasan ini, setelah konsultasi dengan putrinya, Ummul Mukminin Hafshah.

Oke balik lagi ke bahasan. Kampus Universitas Al-Falah As-Sunniyah (UAS) Kencong Jember sudah melaksanakan konsep di atas, khususnya di wilayah Jember. Di Umbulsari, tepatnya di Mundurejo, di dusun Rigasen yang letaknya di pinggir sungai Tanggul. Ketika ngisi pengajian tasyakuran pemasangan paving bersama Mas Agus Nur Yasin, beberapa tahun lalu, saya dicurhati masyarakat. Di dusun tersebut ada masjid, Miftahul Jannah namanya, tapi jika menggelar shalat Jumat jumlahnya tidak genap 40 kepala. Sering mendatangkan para Banser dari dusun lain untuk menggenapi jumlah jamaah Jumat. Anak-anak jika mau mengaji harus nyeberang kali, lewat dam peninggalan Londo, lantas nyeberang jalan raya ke Pondok Waluh, Kencong. Riskan.

Belum lagi laporan masuk: kasak kusuk ada kubu misi agama sebelah yang mulai “gerilya”. Uhuk uhuk! Maka, solusinya KKN Kampus UAS diletakkan di sana. Juli 2024, tim perintis masuk. Menggelar KKN di sana dengan target mendirikan TPQ, supaya anak anak tidak lagi ngaji jauh. Misi terlaksana, mahasiswa pamitan rampung KKN, tapi saya minta 2 orang mengawal TPQ, Mas Bagus dan Mas Syahrul. Yang terakhir ini hafal al-Qur’an. Ketika TPQ sudah mulai kokoh, saya tambah lagi pengajar yang juga adik kelas keduanya. Mas Faiq namanya, hafal al-Qur’an juga. Didampingi Mas Rofi, non-mahasiswa, tapi punya kemampuan di bidang al-Qur’an juga.

Ketika Mas Bagus dan Mas Syahrul sudah selesai bertugas karena sudah lulus kuliah, dan Mas Faiq serta Mas Rofi sudah rampung masa tugas 6 bulan, maka dirotasi lagi. Penggantinya Mas Imtisal dan Mas Rozikin, mahasiswa UAS juga. Supaya tidak pontang panting dalam metode dan terkait kurikulum pembelajaran, semua pengajar secara bergilir saya ikutkan diklat Metode Tilawati.

Alhamdulillah, sejak Juli 2024 hingga kini, TPQ Miftahul Jannah di Rigasen, yang bertempat di garasi ndalem Bapak @Subandi Sarkoen, pensiunan TNI, bisa lestari. Bahkan ada kawan Pak Soebandi yang menyumbang meja dan kursi, juga banyak mushaf. Jangan lupa, pendidikan dasar ubudiyah di sini juga pakai lalaran syair terjemah bahasa Indonesia dari buku Safinatus Sholah yang disusun oleh Gus Najih Ibn Abdil Hameed. 

Sedangkan untuk bisyaroh para guru di sini selalu saya ambilkan dari dana titipan para aghniya. Termasuk malam ini, dana titipan Bang Surya Bhs saya pakai untuk bisyaroh Mas Imtisal dan Mas Rozikin, dua mahasiswa Kampus UAS Kencong Jember yang mendidik para santri cilik ini.

Alhamdulillah maturnuwun atas kolaborasinya dalam dakwah ini. Semoga Allah meridloi. 


.

PALING DIMINATI

Back To Top