KH Ahmad Mutamakkin atau Mbah Mutamakkin adalah ulama besar asal Desa Kajen, Pati, Jawa Tengah. Nama "Mutamakkin" sendiri berarti orang yang kokoh dan tidak bergeser pendiriannya meskipun menghadapi banyak ujian—gelar yang diberikan sepulang beliau menimba ilmu di Timur Tengah .
Tirakat 40 Hari dan Keluarnya Hawa Nafsu
Kisah paling populer tentang Mbah Mutamakkin bermula saat beliau menjalani riyadhah (tirakat spiritual) dengan berpuasa selama 40 hari . Di hari terakhir, beliau meminta istrinya memasak hidangan paling lezat. Namun ketika makanan terhidang dan aroma menggoda tercium, Mbah Mutamakkin justru meminta istrinya mengikat kedua tangannya di tiang rumah .
Peristiwa aneh pun terjadi: muncullah dua ekor anjing dari dalam tubuhnya—yang merupakan perwujudan dari hawa nafsu duniawi. Anjing-anjing itu bernama Abdul Qohar dan Qomaruddin . Dalam penglihatan orang awam, itu tampak seperti anjing biasa. Namun bagi ulama berilmu tinggi, mereka memahami itu adalah nafsu yang berhasil dikeluarkan dan ditaklukkan .
Makna Simbolis
Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Raudloh, Muhammad Farid Abbad, menjelaskan bahwa "anjing" dalam bahasa Jawa (asu) merupakan singkatan dari menebe nafsu—nafsu yang mengendap dan terkendali . Kisah ini mengajarkan bahwa manusia yang berhasil mengendalikan nafsunya bagaikan pemilik anjing peliharaan yang jinak, bukan seperti binatang buas yang liar . Mbah Mutamakkin menjadi tuan atas nafsunya, bukan sebaliknya .
Kontroversi dan Pengakuan
Karena kisah ini, Mbah Mutamakkin sempat dituduh sesat oleh ulama istana, termasuk Katib Anom yang meragukan keilmuannya . Beliau dipanggil ke Keraton Solo pada masa Pakubuwono II untuk mempertanggungjawabkan ajarannya . Namun Mbah Mutamakkin berhasil membuktikan kealimannya dan akhirnya dibebaskan dari segala tuduhan . Hingga kini, makamnya di Kajen, Pati, menjadi destinasi ziarah yang ramai dikunjungi .