Oleh KH Ma'ruf Khozin
Pertanyaan ini terkesan benar, karena jika tidak menemukan seorang Sahabat yang membaca Tahlil otomatis akan meruntuhkan kebolehan Tahlilan. Tentu dengan wafatnya Nabi berarti sudah tidak ada syariat lagi kok ditanya siapa yang membaca Tahlil untuk Nabi. Lagian, doa Tahlil adalah untuk keselamatan orang yang meninggal di alam kubur (seperti hadis yang akan kami sampaikan), sementara Nabi sudah jelas-jelas manusia yang selamat.
Lanjut dengan pertanyaan, kenapa saat keluarga Nabi wafat, misalnya Sayidah Khadijah, kenapa Nabi tidak membacakan Tahlil? Jawab saja memang belum ditemukan riwayat saat wafatnya Keluarga Nabi. Tapi bagaimana jika ada dalil bahwa Nabi membacakan Tahlil dan kalimat zikir lain kepada Sahabat yang wafat, apakah anda akan menerima? Mereka mulai mikir sambil puyeng 😇 Kalau ternyata ada Hadis yang mereka minta, apakah mereka akan mengamalkan? Saya yakin tidak. Sebab mereka tidak mau menerima hadis kecuali dari ustaz mereka. ini menunjukkan mereka ikut ustaznya, bukan ikut Nabi, karena hadis yang kita sampaikan tidak akan mereka terima.
Riwayat bahwa Nabi membaca serangkaian kalimat Thayibah -termasuk Tahlil- di makam setelah pemakaman Sa'ad bin Mu'adz adalah:
ﻓﺠﻌﻞ ﻳﻜﺒﺮ ﻭﻳﻬﻠﻞ ﻭﻳﺴﺒﺢ، ﻓﻠﻤﺎ ﺧﺮﺝ ﻗﻴﻞ ﻟﻪ ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﻨﺎﻙ ﺻﻨﻌﺖ ﻣﺜﻞ ﻫﺬا ﻗﻂ. ﻗﺎﻝ: ﺇﻧﻪ ﺿﻢ ﻓﻲ اﻟﻘﺒﺮ ﺿﻤﺔ ﺣﺘﻰ ﺻﺎﺭ ﻣﺜﻞ اﻟﺸﻌﺮﺓ، ﻓﺪﻋﻮﺕ اﻟﻠﻪ ﻋﺰﻭﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻪ ﻋﻨﻪ
Hadis: "Kemudian Nabi membaca Takbir, TAHLIL dan Tasbih. Setelah keluar, Nabi ditanya: "Wahai Rasulullah, kami tidak pernah melihat engkau melakukan seperti ini." Nabi menjawab: "Sungguh kubur ini menyempit hingga seperti sehelai rambut. Aku berdoa meminta kepada Allah agar dilebarkan" (HR Al-Hannad dalam kitab Az-Zuhd).
Kalau dituduh ini hadis daif, maka sampaikan hadis berikut:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِيِّ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا إِلَى سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ حِينَ تُوُفِّيَ، قَالَ: فَلَمَّا صَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَسُوِّيَ عَلَيْهِ، سَبَّحَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَبَّحْنَا طَوِيلًا، ثُمَّ كَبَّرَ فَكَبَّرْنَا، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَ سَبَّحْتَ؟ ثُمَّ كَبَّرْتَ؟ قَالَ: " لَقَدْ تَضَايَقَ عَلَى هَذَا الْعَبْدِ الصَّالِحِ قَبْرُهُ حَتَّى فَرَّجَهُ اللهُ عَنْهُ "
“Jabir bin Abdillah berkata: “Pada suatu hari kami keluar bersama Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallam menuju sahabat Sa’ad bin Mu’adz ketika meninggal dunia. Setelah Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat jenazah kepadanya, ia diletakkan di pemakamannya, dan tanah diratakan di atasnya, maka Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wa sallam membaca TASBIH. Kamipun membaca TASBIH dalam waktu yang lama. Kemudian Nabi membaca takbir, maka kami membaca takbir. Lalu Nabi ditanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau membaca tasbih kemudian membaca takbir?” Nabi menjawab: “Kuburan hamba yang shaleh (Sa’ad bin Mu’adz) ini benar-benar menjadi sempit kepadanya, hingga Allah melapangkannya baginya.” (HR Ahmad)
Terkait status hadis ini Syekh Qadhi Shibghatullah berkata:
ﻗﻠﺖ ﺭﺟﺎﻝ اﻹﺳﻨﺎﺩﻳﻦ ﺛﻘﺎﺕ ﻭاﺑﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﻗﺪ ﺭﻭاﻩ ﺑﺼﻴﻐﺔ اﻟﺘﺤﺪﻳﺚ ﻓﺎﻧﺘﻔﺖ ﺗﻬﻤﺔ اﻟﺘﺪﻟﻴﺲ ﻭﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺭﻓﺎﻋﺔ ﻗﺪ ﺳﻤﻊ ﻣﻦ ﺟﺎﺑﺮ ﺑﻐﻴﺮ ﻭاﺳﻄﺔ
Para perawi kedua sanad ini orang-orang terpercaya. Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan redaksi "menceritakan". Maka hilanglah tuduhan tadlis (memanipulasi sanad). Mu'adz bin Rifa'ah mendengar dari Sahabat Jabir tanpa perantara orang lain (Dzail Qaul Al-Musaddad, 1/80).
Itu kan penilaian subjektif kalian? Kata mereka. Jawab saja bahwa Dosen ilmu hadis dari Salafi juga menilai Sahih. Berikut takhrij yang terdapat dalam Musnad Ahmad oleh Syekh Syuaib al-Arnauth:
ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺣﺴﻦ ﻣﻦ ﺃﺟﻞ اﺑﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ، ﻭﻣﺤﻤﻮﺩ- ﻭﻳﻘﺎﻝ: ﻣﺤﻤﺪ- ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ ﻟﻢ ﻳﺮﻭ ﻋﻨﻪ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺭﻓﺎﻋﺔ، ﻭﻭﺛﻘﻪ ﺃﺑﻮ ﺯﺭﻋﺔ ﻛﻤﺎ ﻓﻲ "اﻟﺠﺮﺡ ﻭاﻟﺘﻌﺪﻳﻞ" ٧/٣١٦، ﻭﺫﻛﺮﻩ اﺑﻦ ﺣﺒﺎﻥ ﻓﻲ "اﻟﺜﻘﺎﺕ" ٥/٣٧٣.
"Sanadnya Hasan, karena Ibnu Ishaq. Sementara Mahmud adalah Muhammad bin Abd Rahman, yang meriwayatkan darinya hanya Muadz bin Rifaah. Ia dinilai terpercaya oleh Abu Zur'ah dalam al-Jarh wa at-Ta'dil (7/316) dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam ats-Tsiqat" (5/373)
Tapi itu kan cuma dilakukan sekali saja sama Nabi? Ah, udahlah. Kalau memang tidak mau selamanya tidak akan mau menerima kebenaran meski datangnya dari Nabi.
• Alhamdulillah 2 Tempat Pondok di Sumenep, Mahwil Ummiyah Lombang Dan Ponpes Al Muqri Prenduen, melaksanakan Lulusan Sekolah dengan memakai VideoTron, sehingga ngaji begitu nyaman menampilkan dalil-dalil Aswaja. Khusus di Pondoknya Yai Zainur Rahman van Hamme banyak nuansa kembang di pentas, sangat berpengaruh ke sarung batik motif bunga desa.