oleh Dwysa
Kita terlalu mudah jatuh cinta pada cerita “dari bawah”. Seolah semua yang lahir dari kampung, pernah miskin, pernah tidak dianggap, otomatis layak duduk di kursi penting. Kita menyukai kisah orang yang “dulunya bukan siapa-siapa” lalu tiba-tiba menjadi “siapa-siapa”. Cerita seperti itu laku dijual. Diputar di seminar motivasi. Ditulis di baliho. Diceritakan guru di depan kelas sambil menghela napas kagum.
Padahal hidup bukan sinetron televisi yang selalu memberi hadiah kepada tokoh paling menderita.
Ada orang sederhana yang memang tumbuh menjadi bijaksana. Tapi ada pula yang sederhana hanya karena memang tidak pernah belajar apa-apa.
Sayangnya, masyarakat sering tidak bisa membedakan keduanya.
Maka lahirlah tokoh-tokoh inspirasi yang memalukan.
Seorang lulusan SMP yang dulu plonga-plongo mendadak menjadi pejabat tinggi. Orang-orang terharu. Katanya: “Lihat, pendidikan bukan segalanya.” Kalimat yang terdengar revolusioner itu biasanya diucapkan sambil melupakan satu hal penting: mengurus negara bukan lomba nekat.
Akhirnya jabatan berubah seperti truk besar yang diserahkan kepada orang yang bahkan belum selesai belajar naik sepeda. Stir dibanting ke sana kemari. Rem diinjak saat harus gas. Gas diinjak saat jurang sudah di depan mata. Tapi karena dia pejabat, kebodohan itu diberi nama lain: keberanian mengambil keputusan.
Padahal tetap saja bodoh.
Dan kebodohan di tangan rakyat kecil mungkin hanya merusak dirinya sendiri. Tetapi kebodohan di tangan penguasa bisa merusak satu kota, satu generasi, bahkan satu bangsa.
Begitu pula di pesantren.
Ada santri yang sepanjang mondok lebih sibuk “khidmah” daripada ngaji. Kitab tidak paham. al-Qur’an terbata-bata. Pelajaran selalu tertinggal. Tapi karena pandai mengambil hati masyarakat, sepulang dari pondok tiba-tiba dipanggil “Kiai”, “Gus”, atau “Ustadz”.
Lalu orang-orang mulai membangun mitologi.
Katanya: “Itulah barokah.” Katanya: “Ilmu itu bukan cuma hafalan.” Katanya: “Yang penting manfaat.”
Kalimat-kalimat itu terdengar indah sampai suatu hari ia mulai ceramah.
Fatwanya ngawur. Dalilnya comot sana-sini. Bicara agama seperti orang membaca peta dalam gelap. Kadang salah, kadang menyesatkan, kadang memalukan. Tapi jamaah telanjur hormat. Sebab gelar sudah lebih dipercaya daripada isi kepala.
Kita memang hidup di zaman ketika simbol lebih cepat dipercaya daripada kompetensi.
Sorban dianggap ilmu. Jabatan dianggap kecerdasan. Mikrofon dianggap kebenaran.
Nabi Muhammad ﷺ sebenarnya sudah memberi peringatan jauh-jauh hari:
“Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran.”
Hadis itu sering dibaca di pengajian. Dilagukan dengan suara merdu. Diberi harakat penuh kehormatan. Tapi anehnya, setelah selesai dibaca, kita tetap memilih orang yang bukan ahlinya.
Barangkali karena kita terlalu mencintai kisah “orang biasa menjadi luar biasa”, sampai lupa bahwa tidak semua orang biasa memang pantas diberi kuasa.
Ada yang memang harus tetap menjadi orang biasa.
Sebab tidak semua kegagalan masa lalu adalah proses menuju kebijaksanaan. Kadang memang murni tanda ketidakmampuan.
Tetapi masyarakat sering terlambat sadar. Mereka baru menyesal setelah kerusakan terjadi. Setelah kebijakan hancur. Setelah agama dipermainkan. Setelah institusi kehilangan wibawa.
Dan pada titik itu, orang-orang mulai berkata: “Dulu kami mengira beliau inspirasi.”
Padahal mungkin sejak awal, itu bukan inspirasi. Hanya kebetulan yang diberi panggung terlalu besar.