Oleh : Muhammad atid
Beredar luas dicannal youtube ungkapan orang yang biasa dipanggil UAH oleh loversya dengan angkuh dan sombong secara tidak langsung menyalahkan bacaan doa iftitah sebagian orang NU yang disertai nada provokasi ketika menyampaikan. kurang lebih ungkapan sombong dan arogan serta penuh profokasi itu sebagaimana berikut :
"Jadi إني وجهت _inni wajjahtu_ itu kalau anda teliti dikitab hadisnya itu bukan doa istiftah, tapi doa saat selesai menyembelih hewan qurban. alhamdulillah kami punya koleksi 1.235 kitab hadis, saya sempat mengecek itu, satu satu saya cek itu, itu jangankan hadis soheh, dihadis palsu aja gak ketemu."
Benarkan tidak ada sama sekali doa iftitah yang dimulai dengan redaksi إني وجهت _inni wajjahtu_ yang disebutkan didalam kitab kitab hadis, bahkan hadis palsupun tak mewakili kesalahan redaksi doa iftitah yang diawali dengan kalimat إني hingga orang yang solat khususnya sebagian orang NU dengan menggunakan redaksi doa iftitah إني وجهت teramat jauh dan dalam kesalahannya ?.
Sebenarnya ungkapan provokatif itu sudah dibantah oleh ketum PWNU jatim KH. marzuki mustamar, hanya saja oleh para loversnya UAH reaksi KH. marzuki mustamar dinilai tidak nyambung karna UAH mengkritik redaksi إني وجهت dalam doa iftitah, akan tetapi dibantah oleh KH. marzuki mustamar dengan pembahasan lafad ألله أكبر كبيرا yang juga bagian dari permulaan redaksi doa iftitah.
Baik, mari kita lihat didalam salah satu kitab hadis yang disusun oleh imam al-baihaqi yaitu kitab _syu'abul imam_ hadis no. 2864. didalam hadis itu ternyata terdapat redaksi doa iftitah yang diawali dengan kalimat إني وجهت seperti dibawah ini :
أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْأَهْوَازِيُّ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَلِيٍّ، وَعُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، قَالَا: حَدَّثَنَا ابْنُ رَجَاءٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ الْمَاجِشُونِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْفَضْلِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اسْتَفْتَحَ كَبَّرَ ثم قَالَ: " إني وَجَّهْتُ وَجْهِي لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، قل إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ، اللهم أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي كُلَّهَا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَخْبَرَنَا بك وإليك، تَبَارَكْتَ ربنا وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ "، وَإِذَا رَكَعَ قَالَ: " اللهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، خَشَعَ لَكَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعِظَامِي وَعَصَبِي ": وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ قَالَ: " سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ "، فَإِذَا سَجَدَ قَالَ: " اللهُمَّ لَكَ سَجَدْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلْقَهُ وَصَوَّرَهُ فَأَحْسَنَ صُوَرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ "، - فَإِذَا سَلَّمَ فِي الصَّلَاةِ قَالَ: " اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ، وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ، وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ " وَقَدْ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْمَاجِشُونِ، عَنْ عَمِّهِ وحدِيثِ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْمَاجِشُونِ، عَنْ عَمِّهِ وَيُوسُفُ الْمَاجِشُونُ عَنْ أَبِيهِ كِلَاهُمَا عَنِ الْأَعْرَجِ قَالَ الْبَيْهَقِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: " كَذَا وَجَدْتُهُ وَإِنَّمَا يُعْرَفُ مِنْ حَدِيثِ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْفَضْلِ، وَمِنْ حَدِيثِ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْمَاجِشُونِ، عَنْ عَمِّهِ كِلَاهُمَا، عَنِ الْأَعْرَجِ وَقَدْ قِيلَ أَيْضًا عَنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ عَبْدِ اللهِ "
Didalam hadis diatas redaksi doa iftitah ternyata jelas sekali menggunakan awalan kalimat إني, secara lengkap sebagaimana berikut :
إني وَجَّهْتُ وَجْهِي لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، قل إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Memang didalam kitab kitab hadis yang lain seperti shoheh muslim dan lainnya, doa iftitah setelah takbirotul ihrom dalam solat tidak diawali dengan kalimat إني , melainkan langsung lafad وجهت , tetapi ada juga hadis lain yang yang memuat redaksi doa iftitah dengan awalan kalimat إني , seperti hadis yang diriwayatkan imam al-baihaqi diatas.
Nah, kalo begitu sudah jelas bukan !! yang katanya punya koleksi 1.235 kitab kitab hadis tidak jujur dalam dalam mengemban amanah ilmiyah, sebab nyatanya ada hadis yang memuat redaksi doa iftinah إني وجهت tidak hanya ketika menyembeleh hewan qurban saja, atau kalau tidak demikian berarti koleksi kitabnya masih kurang banyak, atau kitab segitu banyak hanya dikoleksi saja tidak pernah dibaca, atau hanya untuk menakut nakuti lawan bicaranya, atau cuma dijadikan pajangan diruang tamu untuk mengintimidasi psikologi pengunjungnya, wallohu a'lam saya juga tidak tau.
Apakah hadisnya imam al-baihaqi diatas yang terdapat didalam kitab _syu'abul iman_ adalah hadis paslu ?. mari kita amati perkataan imam al-baihaqi didalam muqoddimah kitab itu sebagaimana berikut :
ثُمَّ أَنِّي أحْبَبْتُ تَصْنِيفَ كِتَابٍ جَامِعٍ أَصْلَ الْإِيمَانِ وَفُرُوعَهُ وَمَا جَاءَ مِنَ الْأَخْبَارِ فِي بَيَانِهِ وَحُسْنِ الْقِيَامِ بِهِ لِمَا فِي ذَلِكَ مِنَ التَّرْغِيبِ وَالتَّرْهِيبِ، - إلى أن قال - وأَنَا (عَلَى رَسْمِ أَهْلِ الْحَدِيثِ) أُحِبُّ إِيرَادَ مَا أَحْتَاجُ إِلَيْهِ مِنَ الْمَسَانِيدِ وَالْحِكَايَاتِ بِأَسَانِيدِهَا، وَالِاقْتِصَارِ عَلَى مَا لَا يَغْلِبُ عَلَى الْقَلْبِ كَوْنُهُ كَذِبًا. فَفِي الْحَدِيثِ الثَّابِتِ عَنْ سَيِّدِنَا الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ:" مَنْ حَدَّثَ بِحَدِيثٍ وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ".
_Kemudian aku ingin menyusun kitab yang mengakomodir dasar iman dan cabangannya, serta apa apa yang datang dari hadis hadis nabi saw tentang penjelasannya dan menjaganya dengan baik, karna didalam kitab itu terkandung motifasi dan ancaman -sampai perkataan- dan aku (dalam penulisannya mengikuti jejak para ahli hadis) ingin mendatangkan apa apa yang aku rasa butuh untuk disampaikan baik dari segi sanad sanadnya dan bahkan hikayat hikayat tetang sanad sanad itu, dan dicukupkan atas apa apa yang tidak diduga kuat dalam hati bahwa sesuatu (hadis) itu adalah palsu._
kutipan muqoddimah kitab _syu'abul iman_ diatas menegaskan bahwa imam al-baihaqi tidak memasukkan hadis hadis palsu kedalam kitab _syu'abul iman_ nya. jadi jelaslah sudah kalau hadisnya imam al-baihaqi diatas yang memuat redaksi doa iftitah dengan awalan kalimat إني وجهت bukan hadis palsu. itulah kenyataannya, dan dusta mana lagi yang akan digoreng demi memperoleh panggung diinternal golongannya yang dengan angkuh dan sombong menyebutkan "jangankan hadis soheh, dihadis palsu aja gak ketemu".
perbedaan riwayat riwayat hadis yang memuat redakai doa iftitah yang berbeda itu seharusnya makin memperluas pengetahuan pemula dalam mempelajari ilmu agama, bukan sok menggurui leluhur leluhur yang kepakarannya dalam bidang ilmu hadis tidak diragukan lagi dinegri ini. jika merasa punya panggung didalam organisasi muhammadiyah, tidak lantas merasa sok alim dan bebas melontarkan kata kata apa saja yang menyudutkan bahkan melukai hati orang orang yang tergabung didalam organisasi lain yang sudah lama hidup berdampingan dengan rukun.
Sekian wallohu a'lam.