Bismillahirrohmaanirrohiim

Sunyi yang Sempurna dari Ibnu Harjo Al-Jawi

Di Bawah Langit Kudus, di Atas Lembar Manuskrip: Sunyi yang Sempurna dari Ibnu Harjo Al-Jawi


Bagi warga desanya, lelaki bertubuh tegap itu adalah Supriyanto. Atau kalau mau lebih akrab, panggillah ia Mbah Riyan. 

Kesehariannya berjalan linier dengan debu, adukan semen, gergaji, dan batu bata. Ia adalah seorang kuli bangunan yang tangannya kasar oleh kerja fisik, yang sepulang kerja kerap menghabiskan waktu luang dengan memegang joran pancing di tepi sungai, menikmati riak air dalam kesunyian.

Namun, ketika malam memeluk Kudus dan dunia melambat, sosok rendah hati yang berkamuflase sebagai pemancing dan kuli bangunan ini bersalin rupa. 

Di bawah pendar lampu rumahnya yang bersahaja, ia bertransformasi menjadi Ibnu Harjo Al-Jawi seorang raksasa literasi, seorang mu’alliq (pemberi komentar naskah klasik) dan muhaqqiq (peneliti kritis teks tradisional) yang namanya bergaung di panggung keilmuan Islam internasional.

Dari tangan yang siangnya kotor oleh semen itu, malamnya lahir coretan pena yang menghidupkan kembali pemikiran para ulama besar lintas abad.

⚜️Dari Undaan Menembus LIPIA

Lahir di tanah Kudus yang kental dengan atmosfer santri, Mbah Riyan tumbuh dengan ketertarikan mendalam pada ilmu agama. Titik balik intelektualnya dimulai ketika ia nekat merantau ke Jakarta dengan modal tekad untuk mengikuti seleksi ketat di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA), sebuah kampus cabang dari Universitas Jami'atul Imam Riyadh, Arab Saudi.

Lolos tes tulis dan lisan, pada tahun 2005 ia mulai menyelami samudra Syariat Islam, dengan spesialisasi yang tergolong rumit: ushul fiqih. Ketekunannya bukan kaleng-kaleng. Di bawah bimbingan langsung para masyayikh dan dosennya Mbah Riyan menjelma menjadi mahasiswa yang brilian. Puncaknya pada tahun 2012, ia dianugerahi hadiah ibadah haji setelah memenangkan lomba hafalan kitab Arba’in Nawawi.

⚜️ Sunyi di Sukabumi: Melahirkan Seratus Kitab

Setelah menyelesaikan studinya pada tahun 2013, langkah kakinya membawa Mbah Riyan ke Sukabumi, Jawa Barat. Ia diminta mengajar sekaligus mengelola perpustakaan di sebuah pondok pesantren yang sedang merintis sekolah tinggi. Di sanalah ia menemukan "surga" tersembunyi: sebuah perpustakaan yang menyimpan sekitar 18.000 jilid kitab klasik.

Di Sukabumi pula, ritme hidupnya yang menakjubkan terbentuk. Pagi hingga sore ia gunakan untuk mengajar, namun malam hari adalah waktu sakralnya untuk menulis. Dalam kurun waktu lima tahun di sana, ia berhasil merampungkan 67 jilid kitab. Dedikasi ini terus berjalan hingga tahun 2025, di mana jumlah karya ilmiah yang lahir dari penanya telah menembus lebih dari 100 naskah ilmiah dan 12 jilid kitab monumental.

Beberapa karyanya bahkan telah menyeberangi lautan dan diterbitkan di Mesir, seperti Taufiq Jali dan Fathul Majid. Fokus utamanya adalah melakukan tahqiq sebuah kerja ilmiah tingkat tinggi untuk menyunting, melacak keaslian teks, dan menghidupkan kembali manuskrip kuno karya ulama Nusantara agar tidak punah ditelan zaman.

"Menghidupkan naskah klasik itu fardu kifayah. Kalau tidak kita yang menjaga, bisa hilang selamanya. Saat menulis, rasanya seperti berdialog dengan para ulama terdahulu. Itu tidak bisa diukur dengan materi." Mbah Riyan (Ibnu Harjo Al-Jawi)

⚜️Khazanah Karya Ibnu Harjo Al-Jawi

Cakupan keilmuan Mbah Riyan sangat luas, membentang dari ushul fiqih, hadis, akidah, hingga tasawuf. Berikut adalah beberapa karya penting yang berhasil diselamatkan dan ditulis oleh beliau:

Al-Istihsan, Haqiqotuhu wa Hujjiyyatuhu (Karya mandiri mengenai metodologi hukum Islam).

Dilalah Qorinah Al-Muwadlobah ‘Inda Al-Ushuliyyin.

Rodd Al-Hadits Al-Dlo’if bi Al-Kulliyyah Fitnah Kabiroh Mu’ashiroh.

Is’af Al-Mutholi’ (Pemberi ta'liqat/catatan kritis dalam bab Ijtihad, Taqlid, Aqidah, dan Tasawuf) karya ulama besar asal tremas, Syaikh Mahfudz Al-Tarmasy Al-Jawy (w. 1338 H).

Tahqiq Al-Kalimat fi Al-Ushul Al-Fiqhiyyat, karya Syaikh Abul Hasan Al-Bakri Al-Syafi’iy (w. 952 H).

Tuhfah Al-Nubala’ fi Tafahhumi Hukmi Taqbil Dloroih Al-Auliya’.

Al-Taufiq Al-Jaliy Bain Al-Asy’ariy wa Al-Hambaliy, karya Syaikh Abdul Ghoni Al-Nabulisy Al-Hanafiy (w. 1143 H).

⚜️ Pulang ke Kudus: Memilih Sembunyi dan Berkamuflase

Pada tahun 2018, Mbah Riyan memutuskan pulang ke kampung halamannya di Kudus. Alih-alih mencari panggung atau memanfaatkan jaringan akademisnya untuk meraih posisi mapan, ia justru memilih jalan khumul jalan kesunyian untuk menyembunyikan diri dari hiruk-pikuk dunia.

Ia kembali menjadi warga biasa, merawat empat anak laki-lakinya, dan bekerja serabutan. Di mata tetangganya, ia hanyalah buruh bangunan yang rajin, sesekali membantu memanen padi di sawah, atau mengambil pekerjaan kasar apa saja di desa. 

Ketika jagat maya sempat heboh karena profilnya bocor di media sosial, Mbah Riyan justru merasa sungkan dan tidak nyaman. Beliau dengan tegas menolak beberapa tawaran mengajar formal demi menjaga konsistensinya dalam menulis.

Ia tidak butuh validasi dunia. Ia tidak butuh kamera, klik, share, atau pujian manusia. Baginya, biarlah karyanya yang mengembara memberi manfaat, sementara jasadnya tetap membumi bersama semen dan batu bata di pelosok Kudus.

Mbah Riyan adalah tamparan keras bagi zaman ini, sebuah cermin sosial yang jernih. Ia membuktikan bahwa kemuliaan sejati tidak diukur dari megahnya jubah, menterengnya gelar sosial, atau riuhnya tepuk tangan publik. 

Melalui baju kerjanya yang basah oleh keringat, ia membangun rumah fisik untuk sesama manusia, namun melalui goresan penanya di keheningan malam, ia sedang membangun peradaban ilmu Islam yang abadi.


.

PALING DIMINATI

Back To Top