oleh Taufiqurrahman
Kasus kekerasan seksual di pesantren kembali terjadi. Kali ini dilakukan oleh seorang kiai di Pati. Konon, korbannya sampai sekitar 50 orang. Entah jumlah korban itu akurat atau tidak, yang jelas, ini bukan kasus yang pertama kali terjadi. Sebelumnya juga sudah pernah terjadi di Jombang, dilakukan oleh seorang anak kiai, dengan jumlah korban yang juga banyak. Saya jadi penasaran: ada apa sebenarnya dengan pesantren kok kasus seperti ini terus berulang?
Beberapa orang mungkin berusaha menghapus rasa penasaran saya dengan mengeksklusi pesantren dan kiai yang terkena kasus tersebut dari komunitas pesantren dan kiai yang asli. Entah ukuran pesantren dan kiai yang “asli” ini seperti apa, tidak jelas juga. Namun, yang jelas, pesantren di Jombang dan Pati yang menjadi latar kekerasan seksual itu memiliki kultur dan struktur organisasional seperti pesantren pada umumnya. Ada kiai dengan otoritas tertinggi, santri mukim, pengurus, serta kultur kepatuhan pada otoritas tertinggi. Jadi, pengeksklusian “pesantren-berkasus” dari “pesantren-asli” tampaknya hanya upaya menyangkal persoalan. Kata orang Madura bagian barat: itu adalah “burying your head in the sand”.
Rasa penasaran itu kemudian mengingatkan saya pada Kim Sterelny, seorang filsuf biologi di ANU yang banyak membahas kebudayaan dan perilaku sosial manusia dari perspektif evolusioner. Ia pernah menulis artikel berjudul “The Agential View of Misfortune” (2024), dan tahun lalu memberikan kuliah berjudul “The Rise of the Dark Shaman” di forum mingguan School of Philosophy ANU sebagai kelanjutan dari artikel tersebut. Sebagai filsuf naturalis-evolusioner to the bone, dalam artikel dan kuliahnya itu, Kim penasaran mengapa dalam komunitas tertentu santet masih dipercaya, padahal secara evolusioner kepercayaan terhadap santet itu bukan hanya keliru, tetapi juga punya ongkos sosial yang mahal (yaitu, menyebabkan konflik dalam kelompok karena adanya saling curiga soal siapa pelaku santet).
Ada banyak penjelasan yang sudah atau mungkin diberikan dan semua penjelasan itu, menurut Kim, kurang memuaskan. Misalnya, penjelasan kewaspadaan. Setiap kekeliruan itu punya ongkos. Dalam konteks santet, ada dua kemungkinan kekeliruan: tidak percaya santet ada padahal sebenarnya ia ada (false negative) atau percaya santet ada padahal sebenarnya ia tidak ada (false positive). Kekeliruan pertama menghasilkan efek lebih fatal daripada yang kedua. Dalam kekeliruan kedua, ongkos yang harus Anda bayar hanyalah rasa takut dan waspada terhadap sesuatu yang tidak nyata. Namun, dalam kekeliruan pertama, ongkos yang harus Anda bayar bisa jadi adalah nyawa Anda karena Anda tidak hati-hati dan waspada menjaga diri dari serangan santet. Untuk alasan kewaspadaan inilah, orang-orang cenderung memilih “false positive”.
Namun, menurut Kim, psikologi manusia itu secara evolusioner tidak diseleksi untuk mengutamakan “false positive” daripada “false negative”, sebab manusia adalah predator, bukan mangsa. Sebagai predator, manusia tidak banyak menghadapi ancaman fisik yang membahayakan nyawanya. Sementara itu, jika dia terlalu takut pada ancaman yang sebenarnya tidak nyata, maka ia akan kehilangan kesempatan untuk berburu makanan, sehingga ia bisa mati kelaparan.
Kim lalu mengajukan penjelasan teknik pemasaran tipu daya (“bait-and-switch”) lintas generasi. Kepercayaan terhadap santet itu lahir dari praktik shamanisme atau perdukunan. Sebelum ada praktik medis modern, dukun adalah andalan banyak orang untuk mengobati atau menghindari penyakit. Orang-orang datang ke dukun untuk mendapatkan penyembuhan, dan mereka merasa diuntungkan dengan keberadaan sang dukun sebab dalam beberapa kasus praktik perdukunan itu memang bekerja dengan baik. Ini adalah fase pemberian umpan (bait).
Namun, pada generasi kesekian, saat praktik perdukunan ini sudah benar-benar mengakar dalam suatu masyarakat, terbuka lebar adanya pembelokan (switch), yang antara lain adalah penanaman kepercayaan terhadap santet. Para dukun itu mengajarkan bahwa ada suatu kemalangan (misfortune), seperti gagal panen, sakit, dan mati, yang disebabkan bukan oleh faktor alamiah melainkan oleh tindakan magis tukang sihir. Para dukun itu melakukan pembelokan tentu untuk kepentingan mereka sendiri. Dalam catatan etnografi yang direkam Kim, misalnya, ada dukun yang menukar jasa perdukunannya dengan seks. Orang-orang rela memberikan layanan seksual kepada para dukun karena sejak awal mereka sudah memakan umpannya: mereka berpikir itu untuk keselamatan mereka dari serangan penyihir.
Setelah saya pikir-pikir, strategi “bait-and-switch” ini tampaknya juga bisa bekerja dengan baik dalam menjelaskan fenomena kekerasan seksual di pesantren. Masyarakat Muslim tradisional, secara turun-temurun, menaruh kepercayaan tinggi pada kiai. Peran sosial kiai di kalangan masyarakat tradisional ini memang sangat signifikan. Kiai yang mengajarkan pengetahuan agama, dan kiai juga yang sering dimintai nasihat-nasihat kehidupan oleh jamaahnya. Orang-orang yang mengikuti ajaran kiai juga bisa punya peluang untuk melakukan mobilitas sosial. Kiai pun dipercaya nyaris tanpa celah. Ia dipercaya punya “barokah” yang bisa membuat pengikutnya sukses dan punya "tulah" yang bisa membuat penentangnya malang. Pada titik inilah, peluang pembelokan terbuka lebar. Kiai generasi N bisa jadi memang punya keutamaan moral yang tinggi. Namun, saat sudah di generasi N+1 dan seterusnya, keutamaan moral itu bisa hilang. Maka, terjadilah apa yang terjadi: kita mengenal Gus Bechi di Jombang dan Kiai Ashari di Pati.
Jika kultur dan struktur relasi kuasa di pesantren tidak direformasi, saya menduga kasus Kiai Ashari Pati itu dapat terulang kembali. Tapi semoga saja saya salah. Amin!