Gak tebar Syubhat, gak asik. Meskipun dibulan romadhon yang penuh berkah ini. Orang-orang sedang berlomba-lomba untuk mendapat ghonimah pahala berlimpah dibulan ini, Akun Al-Mizan Study Club komunitas diskusi pemikiran liberal (atau minimal mas-mas) satu ini malah terus konsisten menebar syubhat, yang bisa merenggut dan merusak aqidah orang awam. Mungkin baginya ini adalah cara dia mendapat pahala berlipat ganda dibulan romadhon ini.
Kali ini mas-mas satu ini menebar syubhat lewat buku karya habib Ali Al Jufry, yang berjudul : "Al Insaniyyah Qobla At-Tadayyun" yang pemahamannya diplintir oleh mas-mas ini "Tidak ada masalah jika mendahulukan kemanusiaan diatas agama". Mas-mas ini juga mempertegas : "karena itu Al-Habib Ali Aljufry berpendapat dibeberapa kondisi kita tidak selalu mendahukuan teologi, kita perlu mendahukuan aspek humanitas"
Berarti secara tidak langsung mas-mas ini sadar atau tidak ini menuduh habib Ali Al Jufry membolehkan kemanusiaan (meskipun kufur) daripada agama, mendahulukan humanitas daripada teologi (akidah keimanan). Sungguh ini adalah penyelewengan (distorsi) dan pemelintiran makna yang tidak dimaksudkan oleh habib Ali Al Jufry. Atau bisa dikatakan ini orang berbohong atas nama Habib Ali Al Jufry dan memfitnah beliau.
Sikap saya pribadi terhadap yg mulia habib Ali Al Jufry memang tidak mengikuti seluruh pandangannya (dengan tanpa mengurangi kecintaanku padanya). Namun, saya juga tidak terima ketika judul kitab tersebut dipelintir maknanya oleh mas-mas satu ini demi menebar syubhat pada orang orang awam dipublik sebagaimana biasanya.
Kalau kita teliti, mas-mas satu ini terlihat ceroboh dan awam dalam memahami apa itu "Tadayyun" (praktek keberagamaan) dengan "Din" (agama) itu sendiri. Karena ketidakmampuannya dalam membedakan mana itu "Tadayyun" dan mana itu "Din" maka membuatnya menerjemahkan "Tadayyun" itu sebagai "agama". Sehingga membuatnya terjatuh pada kesalahan yang sangat fatal nan sangat berbahaya, yaitu menganggap bahwa boleh disaat saat tertentu "kemanusiaan" diatas "agama". Dengan kata lain terkadang kekufuran boleh didahulukan, yg penting kemanusiaan!
Kalau kita lihat video yg saya lampirkan dibawah ini, habib Ali Al Jufry jelas mengatakan:
" نحن لا نقول الإنسانية قبل الدين، نحن نقول الإنسانية قبل التدين، فالدين ليس قبله شيء فآدم عليه السلام لما هبط إلى الأرض، هبط بدينه"، دين الله
"Kami gak mengatakan bahwa kemanusiaan sebelum agama, tetapi kami mengatakan kemanusiaan sebelum keberagamaan, tidak ada sesuatu sebelum agama sama sekali, Maka Nabi Adam ketika turun ke bumi itu turun dengan agamanya (agama Allah, islam)".
Dari sini nampak sekali kecerobohan dari mas-mas ini. Tidak faham apa itu "din" apa itu "tadayyun".
Habib Ali jelas mengatakan bahwa agama itu tidak ada yang mendahului. Hanya saja tadayyun (praktek keberagamaan) itu hendaknya harus menggunakan sikap kemanusiaan, agar tidak merusak agama itu sendiri. Karena banyak orang yang beragama, karena tidak ada sisi kemanusiaannya maka akhirnya melakukan aksi-aksi ekstrimisme terorisme yang mengatasnamakan agama.
Dalam kesempatan yg lainnya beliau menjelaskan bahwa keberagamaan itu harus dengan membawa rahmat (kemanusiaan) sebagaimana kisah masyhur seorang perempuan pelacur (yg muslimah) masuk surga karena memberikan minum anjing yang kehausan, dan perempuan muslimah masuk neraka karena mengikat kucing, meskipun sholat, puasa dst. Itu artinya kedua-kedua perempuan tersebut sudah mengantongi tiket "Agama" pada diri mereka, atau sudah berstatus muslimah. Kalau tidak, bagaimana mungkin perempuan pelacur tadi masuk surga ketika masih dalam keadaan kafir?!
Kemudian mas-mas ini dalam mendukung kecacatan berfikirnya yaitu "kemanusiaan sebelum agama" dengan mengutip hadits :
إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
"sesungguhnya aku diutus 'hanya' untuk menyempurnakan akhlak".
Dari sini lagi lagi kita diperlihatkan oleh kecerobohan dan kemiskinan referensi dari mas-mas satu ini. Kecerobohan dia dengan membatasi misi datang nya islam, dengan mengatakan : "Misi Islam datang itu hanya untuk menyempurnakan akhlak, orang arab yg telah ada akhlaq yang terpatri seperti keberanian, karomah". Dikiranya diustusnya nabi hanya sekedar menyempurnakan akhlaq. Dia tidak tau bahwa di banyak ayat Al-Quran dijelaskan bahwa tujuan nabi diutus, bahkan seluruh nabi diutus itu adalah membawa tauhid dan untuk menjauhkan orang dari kesyirikan serta kekufuran. Dalam QS An-Nahl ayat 36 :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّٰغُوتَ
"Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut".
Dalam ayat lain Al-Anbiya : 25 :
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".
Dalam shohih Bukhori riwayat ibnu Abbas :
عن ابن عباس -رضي الله تعالى عنهما- أن النبي ﷺ قال لمعاذ
لما بعثه إلى اليمن: ادعهم إلى أن يوحدوا الله
"Sesungguhnya Nabi Shallahualaihi wasallam ketika menutus Sayyidina Mu'adz ke Yaman, berkata : "Ajaklah mereka untuk meng-Esakan Allah".
Dan banyak lagi ayat ayat maupun hadits yang meriwayatkan bahwa Nabi, bahkan seluruh nabi itu diutus dengan misi untuk Agama dan melawan kekufuran. Tidak hanya menyempurnakan akhlak. Artinya dua duanya bukan hal yang saling menegasikan, justru keduanya bisa dan harus disinergikan. Tidak dipisah-pisahkan, sebagaimana yang mas-mas ini halusinasikan.
Narasi yang mas mas ini sampaikan berupa boleh dalam keadaan tertentu kemanusiaan lebih didahulukan atau diatas agama itu adalah ajakan untuk sekularisme. Sehingga gak heran ketika ada orang mengatakan "dalam bernegara jangan bawa-agama, dalam pekerjaan jangan bawa-bawa agama dst. Juga bisa menghantarkan terjatuh pada konsekuensi ridho terhadap kekufuran. Sebagaimana kaidah yang telah disepakati :
الرضا بالكفر كفر والرضا بالمعصية معصية.
"Ridho (apalagi membolehkan) terhadap kekufuran itu kufur. Dan ridho terhadap kemaksiatan itu maksiat".
Ala kulli hal, agama diatas segalanya. Kapan pun dan dimanapun. Sebagaimana yang dijelaskan habib Ali tersebut. Memang ungkapan "Al-Insaniyyah Qoblat tadayyun" itu rentan disalahpahami, sehingga bagi orang-orang yang tidak teliti, akan salah dalam memahami. Apalagi bagi pemilik nalar liberal, hal ini maka akan dimanfaatkan untuk menebar syubhat berkedok humanisnya.
Semoga bermanfaat!
Ahmad Muqoffa Najib