Bismillahirrohmaanirrohiim

Tata Cara Mencuci Pakaian dengan Mesin Cuci

Berikut Tata Cara Mencuci Pakaian dengan Mesin Cuci


1. Jika Seluruh Pakaian dalam Keadaan Suci
Apabila semua pakaian yang dicuci adalah suci, maka proses mencuci dapat dilakukan dengan urutan apa pun: memasukkan air terlebih dahulu, pakaian terlebih dahulu, atau sabun terlebih dahulu—semuanya tidak bermasalah.

Demikian pula, tidak berpengaruh jika setelah pencucian masih tersisa bau sabun, karena seluruh pakaian dan media pencucian sejak awal berada dalam keadaan suci.

2. Jika Sebagian atau Seluruh Pakaian Bernajis
Apabila terdapat pakaian yang bernajis—baik sebagian maupun seluruhnya—maka terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan:

a. Cara Pertama

Jika najis masih memiliki wujud (misalnya menggumpal), maka wajib dihilangkan terlebih dahulu.

Najis tersebut dibersihkan hingga hilang bau, warna, dan rasanya, lalu dibasuh dengan air mengalir hingga suci.

Setelah pakaian tersebut suci, barulah dimasukkan ke dalam mesin cuci bersama pakaian lain, kemudian dicuci seperti biasa dengan air dan sabun hingga selesai.

Cara ini merupakan metode yang disepakati para ulama.

b. Cara Kedua

Apabila terdapat najis yang masih berwujud, maka dihilangkan terlebih dahulu hingga berubah menjadi najis hukmiyyah (tidak tampak wujud, bau, warna, dan rasa).

Pakaian tersebut kemudian dimasukkan bersama pakaian lain yang suci ke dalam mesin cuci.
Air dialirkan hingga menggenang dan menutupi seluruh pakaian, lalu digerakkan sedikit. Dengan proses ini pakaian dianggap suci.

Setelah itu, penggunaan sabun dan proses pencucian lanjutan diperbolehkan.
Namun, cara ini masih terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

c. Cara Ketiga
Cara ini yang paling sering dilakukan oleh masyarakat awam, yaitu mencampur pakaian suci dan bernajis secara langsung, kemudian mencucinya sekaligus dengan air dan sabun.

Dalam metode ini terdapat perbedaan pendapat ulama:

Imam Ath-Thobalawi, sebagaimana dikutip oleh Syekh Sa‘id Ba‘asyin dalam Busyrol Karim, berpendapat bahwa pakaian telah suci selama najisnya telah hilang secara nyata, meskipun masih tersisa bau sabun setelah pencucian. Pendapat ini juga disebutkan dalam kitab Itsmidul ‘Ainain karya Syekh Ali bin Ahmad Bashabrin al-Hadhrami.

Imam Ramly berpendapat bahwa pakaian belum suci selama masih tersisa bau sabun, karena dikhawatirkan bau najis tertutupi oleh bau sabun. Pendapat ini juga tercantum dalam kitab-kitab yang sama.

Dengan demikian, mencuci pakaian najis dengan cara mencampurkannya langsung bersama pakaian suci—meskipun najisnya masih berwujud—menurut pendapat Imam Ath-Thobalawi tetap dihukumi suci selama najisnya telah hilang secara lahiriah, meskipun masih ada bau sabun. Pendapat ini boleh diikuti.

Namun, jika ingin mengambil sikap yang lebih hati-hati dan kuat, maka cara pertama adalah yang paling utama karena telah disepakati oleh para ulama. Adapun cara kedua masih diperselisihkan.

Wallāhu ta‘ālā a‘lam.

Pendapat Imam Ath-Thobalawi dan Imam Ramly:

تنبيه آخر: إذا غسل ثوباً متنجساً بنحو صابون حتى زالت النجاسة .. طهر وإن بقي ريح الصابون، قاله الطبلاوي. وقال (م ر): لا يطهر حتى تصفو الغسالة من ريح الصابون، أي: لإمكان استتار ريح النجس في ريحه.

[سعيد باعشن، بشرى الكريم، ١٤٤]

قوله (مسألة) لو زالت النجاسة بالاستعانة بالصابون وبقي ريح الصابون طهر قاله الطبلاوي وقال (م ر) لا تطهر حتى تصفو الغسالة إهـ

[علي بن أحمد باصبرين، إثمد العينين في بعض اختلاف الشيخين ابن حجر الهيتمي والشمس الرملي، ١٢]

(Edit dari postingan FB M Syihabuddin Dimyathi)


.

PALING DIMINATI

Back To Top