Oleh Abdul Wahab Ahmad
Kalimat yang menjadi judul ini bisa menjadi jawaban bagi hampir semua pertanyaan dan kemusykilan tentang ketuhanan, bahkan yang dianggap sulit sekalipun, misalnya:
1. Allah kan wujud, kita juga wujud, sama dong? Nggak, sebab hanya Allah pemilik sifat 20, kita nggak. Jadi, wujudnya beda banget.
2. Surga kan kekal, sama dong seperti Allah? Nggak, sebab hanya Allah pemilik sifat 20,, surga nggak. Jadi kekalnya Tuhan itu memang asal sedangkan kekalnya surga hanya karena dikehendaki begitu oleh Tuhan.
3. Allah kan hidup, melihat, mendengar, sama dong dengan kita? Nggak, sebab hanya Allah pemilik sifat 20, jadi semu itu beda level.
4. Allah kan berkalam dan nuzul, kita juga gitu kan? Nggak sama sebab hanya Allah pemilik sifat 20, jadi semua istilah itu beda makna.
5. Semesta ini kan nggak bertempat, sama dong dengan Allah yang juga katanya nggak bertempat? Nggak, sebab hanya Allah pemilik sifat 20, alam nggak.
6. Katanya Tuhan Maha pengasih, kok ada penderitaan di dunia? Nggak gitu konsepnya, sebab Allah pemilik sifat 20 yang salah satunya adalah kehendak bebas untuk menciptakan apapun, termasuk kebahagiaan dan penderitaan.
7. Semua agama kan sama punya Tuhan versinya masing-masing, sama benar dong? Nggak, sebab hanya Allah pemilik sifat 20, dan cuma ini syarat ketuhanan yang benar secara rasional.
8. Manusia kan nyembah macam-macam dalam sejarahnya, ada yang nyembah patung, sosok manusia unik, api, bintang, malaikat, roh, bahkan alam, gimana dong? Semua sesembahan itu salah sebab tidak punya sifat 20. Karena itu, semuanya tidak layak dipertuhankan.
9. Ada yang bilang Tuhan ada dua, ada Tuhan baik dan Tuhan jahat, ada juga yang bilang ada tiga dengan tugas masing-masing, gimana itu? Konsep itu salah sebab artinya masing-masing Tuhan itu tidak punya sifat 20 yang berarti bukan Tuhan.
10. Ada yang nyari sosok Tuhan di luar angkasa, pakai teropong dan alat-alat canggih, tapi tetap saja nggak ketemu hingga dia jadi ateis. Gimana itu? Sosok Tuhan seperti itu adalah Tuhan palsu alias bukan Tuhan, ya jelas saja tidak bakal ketemu. Tuhan yang asli pastilah punya sifat 20 yang salah satunya adalah Tuhan pasti bukan materi.
11. Bisa nggak Tuhan menciptakan batu yang saking besarnya Tuhan nggak bisa mengangkatnya? Tuhan itu pemilik sifat 20 yang artinya mau seberapa pun besar batunya tetap mudah untuk Dia angkat, mustahil ada kondisi di mana Tuhan tidak mampu.
12. Tuhan itu ada sejak kapan sih? Tuhan itu pemilik sifat 20 yang salah satunya adalah tidak berawal, jadi nggak berlaku pertanyaan "sejak kapan" baginya.
13. Katanya Tuhan tidak berawal, tapi ketiadaan itu kan juga tidak berawal, sama dong? Nggak, sebab Tuhan memiliki sifat 20 sedangkan ketiadaan nggak.
14. Tuhan itu di mana sih? Tuhan itu pemilik sifat 20 sehingga sudah ada sebelum semua tempat tercipta dan tidak juga hinggap atau bertempat di ciptaannya. Jadi pertanyaan itu nggak berlaku baginya.
15. Tapi kan ada yang bilang bahwa Tuhan di langit atau di atas Arasy, ada juga yang bilang bahwa Tuhan itu terpisah dari makhluk. Bagaimana itu? Karena yang dibahas adalah Tuhan, maka itu semua hanyalah istilah untuk menekankan makna yang layak berlaku bagi pemilik sifat 20. Intinya hanya penekanan bahwa Tuhan tidak bertempat di makhluknya, nggak kayak kita, manusia, malaikat atau jin yang bertempat dengsn cara menempel di makhluk atau mengambang di atas makhluk.
16. Kalau Allah disebut tidak ada di atas, bawah, depan, belakang dan samping, maka sama dong dengan ketiadaan? Jelas nggak sama sebab Allah pemilik sifat 20 sedangkan ketiadaan nggak.
Jadi, setiap muslim harus memahami apa itu sifat 20 untuk membedakan mana Tuhan dan mana yang bukan Tuhan, apa saja sifat Tuhan, dan bagaimana konsep bertuhan yang benar. Semua selain Allah hanya mempunyai satu atau beberapa sifat yang Istilahnya sama dengan yang dimiliki Allah, tapi tidak ada yang memiliki lengkap 20 sifat ketuhanan tersebut, bahkan istilah yang sama itu pun sejatinya tidak ada yang sama definisi operasionalnya..
Istilah sifat 20 ini sebuah rumusan pembelajaran baru yang dirancang oleh para ulama Ahlussunnah wal Jamaah untuk mempermudah para pelajar. Namun demikian, isinya sama sekali bukan hal baru tapi justru merupakan intisari akidah Islam yang diajarkan oleh para Nabi seluruhnya, dilanjutkan oleh para Sahabat, Tabi'in dan seterusnya hingga kini.