Oleh Beben
Syaikh Ibrahim Khuli mengkritik Syaikh Azhar, Muhammad Sayyid Thanthawi ketika beliau menerima Rabbi Yahudi di kantornya. Syaikh Ibrahim Khuli, ulama kelahiran Silent Generation ini menulis sebuah artikel di publik. Beliau menuntut syaikh Azhar untuk meminta maaf kepada umat Islam atau meninggalkan jabatan Syaikh Azhar. Akibat kritikan ini, syaikh Ibrahim Khuli diberhentikan sementara dari mengajar di kampus Al-Azhar. Beliau mengajukan perkara ini kepengadilan hingga beliau akhirnya kembali mengajar di kampus Al-Azhar.
Syaikh Ibrahim Khuli adalah potret ulama yang hanya benar-benar takut kepada Allah. Beliau tidak takut mengkritik pemerintah. Beliau sering mengkritik presiden Husni Mubarak, Mursi sampai Al-Sisi. Beliau juga mengkritik syaikh Azhar Ahmad Thayyib dan syaikh Ali Jum'ah ketika menjadi mufti Mesir. Aku teringat perkataan beliau
لا مجاملة في العلم
"Tidak ada basa-basi dalam keilmuan."
Suatu hari ada ada seorang mahasiswa al-Azhar yang menyanjung beliau dengan gelar Allamah. Syaikhuna al-Allamah. Namun ketika mahasiswa tersebut menyebut Imam Ibnu Asyur, Mufassir kenamaan Tunisia itu, ia hanya menyebutkan namanya saja. Tanpa gelar apapun. Syaikh Ibrahim Khuli menanggapi:
"Anda munafik. Menyebutkan gelar Allamah kepada saya, tapi tidak menyebutkan gelar apapun kepada Syaikh Imam Ibnu Asyur."
Syaikh Ibrahim Khuli mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada supremasi tertinggi melebihi ilmu. Bukan nasab. Bukan jabatan. Bukan juga status sosial.
Syaikh Fauzi pernah bilang:
"Ada dua ulama al-Azhar yang sangat fasih ketika berorasi dan berbicara bahasa Arab: Syaikh Ibrahim Khuli dan Syaikh Ibrahim Hudhud."
Aku pernah bertanya kepada Syaikh Ibrahim Khuli:
"Maulana, apakah sebuah keharusan bagi orang yang ingin menafsirkan Alquran memiliki ilmu Mauhibah?" Beliau menjawab
"Tidak harus. Seseorang yang ingin menafsirkan Alquran harus membersihkan dan mensucikan hatinya. Jangan sampai ia menulis Tafsir Alquran karena ingin dipuji oleh manusia. Karena ingin dikatakan mufassir. Jika hatinya tulus dalam niatnya, Allah akan menfutuh dan membukakan pemahaman kepadanya."
Beliau juga mengatakan:
لا يفسر القرآن إلا من أوتي له البصيرة. والقرآن لا يكون إلا في قلبه ولسانه ووجدانه حتى يصبح القرآن أية واحدة
"Tidak akan menafsiri Alquran kecuali orang yang telah diberi bashirah oleh Allah. Alquran telah berada dalam lisan dan sanubarinya seakan-akan keseluruhan Alquran (dalam mata batin sang mufassir tersebut) hanya seperti satu ayat."
Sebelum beliau pulang ke rumah, sekitar jam 11 malam, aku mengajukan pertanyaan kepada beliau:
"Maulana, aku ingin fasih berbicara bahasa Arab sepertimu." Syaikh Ibrahim Khuli merangkulku pundakku. Aku menunduk.
"Datang ke rumah saya." Ucap beliau singkat.
Sayangnya tak lama setelah itu covid. Dan beliau tidak pernah lagi mengajar di Azhar karena faktor kesehatan. Hingga beliau wafat tahun 2023.
Di depan publik, beliau tampil sebagai ulama pemberani. Di belakang layar, beliau adalah sosok penyayang kepada penuntut ilmu. Setiap habis ngaji, ketika mahasiswa asing ingin mencium tangan syaikh Ibrahim Khuli, beliau langsung mencium kepala para pencari ilmu tersebut. Memandang mereka dengan penuh kasih sayang.
Para rektor dan dekan-dekan al-Azhar kebanyakan adalah murid-murid beliau. Namun beliau tidak pernah mengajar di masjid al-Azhar, karena sikap tegas beliau mengkritik pemerintah. Syaikh Salim Abu Ashi, mantan dekan S2 al-Azhar, pernah bilang:
"Maulana, Anda pantas sekali mengajar di masjid al-Azhar." Syaikh Ibrahim Khuli menjawab
"Kullu Dzalika Ilal Fana' (Semua itu: mendapatkan keistimewaan mengajar di al-Azhar fana, akan hilang (tidak kekal)."
Semoga Allah merahmati Syaikh Ibrahim Khuli dan melapangkan kuburannya. Ya Rabb.
Tangsel, 13 Januari 2026