Bismillahirrohmaanirrohiim

Kolom Gus Nur Hamid : Valentine's Day

Harian Jogja (Jum'at, 12 Februari 2010 10:43:23 )

Bagi Anda yang sudah tidak (merasa) terlalu muda, apalagi yang terlalu sibuk dengan tugas masing-masing mungkin sempat heran ketika dalam beberapa hari ini pada pekan kedua Februari, dan menyempatkan diri memasuki toko-toko, supermarket, atau tempat-tempat belanja lainnya. Ada yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. 

Namun, bagi kawula muda tentunya tidaklah demikian. Karena memang jauh-jauh hari mereka telah menunggu hari yang begitu mereka 'keramat'kan, hari kasih sayang atau yang lebih dikenal sebagai Valentine’s Day atau Hari Valentine yang diperingati setiap 14 Februari.

Bicara tentang cinta dan kasih sayang, saya teringat dua buah cerita yang terdapat dalam beberapa buku-buku karya ulama sufi. Cerita pertama tentang seorang pelacur yang masuk surga lantaran seekor anjing. Diceritakan pada suatu siang yang terik, pelacur tersebut berjalan seorang diri di tengah padang pasir. Tiba-tiba dilihatnya seekor anjing yang terkulai  lemas karena kehausan. Hatinya pun tergerak untuk menolong makhluk malang tersebut.  Tanpa berpikir panjang ia berikan air minum bekalnya yang sebenarnya tinggal sedikit. 

Singkat cerita anjing tersebut terselamatkan dan justru perempuan itulah yang kemudian akhirnya meninggal karena kehausan. Akan tetapi ternyata kematinnya adalah awal sebuah kebahagiaan. Ia tercatat sebagai calon penghuni surga. Padahal sebelumnya hidupnya bergelimang dengan dosa.

Lain lagi dengan kisah kedua tentang seorang wanita yang tercatat sebagai ahli neraka (hanya) gara-gara seekor kucing. Ia masuk neraka dengan sebab yang--menurut pandangan manusia--terlihat sepele. Seekor kucing yang dibiarkan mati karena ia kurung tanpa memberinya makan dan minum ternyata menjadi lantaran murka Allah. 

Sedikitnya terdapat dua hal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran dari dua cerita di atas. Yang pertama, betapa tinggi penghargaan Allah atas kasih sayang kita kepada makhuk-Nya hatta seekor anjing dan kucing sekalipun. Dapat kita duga bagaimana penghargaan Allah atas jiwa manusia, seperti dalam firmanNya,” Barang siapa membunuh, kecuali karena orang itu membunuh atau berbuat kerusakan di bumi, maka seolah-olah ia membunuh manusia keseluruhan. Dan barang siapa menyelamatkan satu nyawa, maka seolah-olah ia menyelamatkan seluruh umat manusia.”

Pelajaran kedua, Janganlah kita berputus asa akan rahmat dan ampunan Allah. Akan tetapi jangan pula disalahartikan dengan anggapan boleh berbuat dosa sesukanya asalkan masih mempunyai jiwa sosial yang tinggi. Karena kita tidak mengetahui kapan ajal menjemput kita, dan kapan pula Allah murka. 

Kembali pada Valentine’s Day. Karena merupakan warisan budaya umat di luar Islam, sebagian orang enggan untuk menerimanya. Apalagi fenomena yang sekarang terjadi adalah pengkerdilan atau pemiskinan makna asal yang diusungnya. Sejarah yang dianggap paling mendekati 'sohih' adalah bahwa Valentine diambil dari nama seorang tentara Inggris yang bernama Sir Valentino. Melihat kekejaman perang antara Inggris melawan Irlandia pada waktu itu, tersentuhlah hatinya untuk menyerukan perdamaian dan menebar kasih  sayang. 14 Februari yang merupakan hari kelahirannya kemudian diabadikan sebagai hari kasih sayang atau Valentine’s Day. 

Jika merunut sejarahnya, kasih sayang yang dimaksudkan dalam perayaan Valentine’s Day adalah kasih sayang dalam arti universal, antar sesama makhluk tuhan. Tidak terbatas kasih sayang antara dua sejoli berlainan jenis seperti anggapan kebanyakan. Pengerdilan makna lainnya terlihat dalam perayaannya yang kadang merupakan tindakan penghambur-hamburan dan glamour. 

Bahkan tidak jarang sebagai bukti cinta, kesucian pun terkorbankan. Tidak lagi pengerdilan  , akan tetapi penodaan makna. Sehingga mungkin jika perayaan Valentine’s Day tidak mengalami pengerdilan dan penodaan makna, banyak pihak yang masih bisa menerima. Sebagaimana penggunaan kalender miladiah, perayaan tahun baru masehi, dan masih banyak lagi. 

Kemudian bentuk perayaannya pun tidak sebatas pesta dan kegiatan sebangsanya, akan tetapi berupa kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan tanpa perlu diekspose seperti fenomena yang sering kita lihat. Lebih dapat diterima lagi seandainya kegiatan itu didengungkan bahwa setiap hari adalah hari kasih sayang. Everyday is Valentine’s Day. 

Karena menebar kasih sayang tidaklah terikat oleh waktu dan tempat. Setiap detak jantung, denyut nadi, dan hembusan napas betapa indahnya jika kita penuhi dengan kasih sayang. Wallohu a’lam bish Showab.

Ustadz Noor Hamid, Pimpinan Pon Pes Assalafiyyah  Mlangi


.

PALING DIMINATI

Back To Top