Bismillahirrohmaanirrohiim

Agama, Sains dan Agnostik

oleh Kang Irvan Noviandana

Saya di-mention di Threads soal postingan dr. Ryu Hasan yang viral yang digabungkan dengan postingan Hasanuddin Abdurahman alias Kang Hasan. 

Keduanya ini ilmuwan yang lahir sebagai muslim kemudian menjadi agnostik. Kang Hasan sendiri seorang doktor fisikai, sementara Ryu Hasan adalah seorang dokter spesialis bedah saraf. 

Mereka menyampaikan pandangan yang mempertanyakan perjalanan Nabi ke langit dan menganggapnya sebagai dongeng atau omong kosong.

Bagi saya, ini justru menarik, orang-orang seperti mereka tantangan yang sebenarnya bagi seorang Muslim, bagaimana kita membangun hujjah ketika keyakinan itu dipertanyakan?

Saya sedikit flashback.

10 tahun lalu, tepatnya sekitar tahun 2016, saya pernah menantang Kang Hasan untuk berdebat secara langsung, justru saya mau menguji pandangan - pandangan kritisnya soal keyakinan agama khususnya Islam yang ia sering kritisi.

Pertemuan kami tepatnya berlangsung di Hotel Mulya, saya rekam dan saya upload di Facebook lama sebagai komitmen saya sebagai penantang debat waktu itu.

Saya berani bukan karena merasa lebih hebat, tapi karena saya melihat ada persoalan yang menurut saya menarik untuk diuji dari orang orang seperti mereka, apakah kesimpulan yang dibangun benar-benar mengikuti premisnya?

Dan menurut saya, persoalan itu masih relevan sampai hari ini.

Dalam perdebatan agama dan sains, sering kali kita menemukan pola seperti mereka. Tidak bisa dijelaskan oleh sains, kemudian berubah menjadi tidak mungkin, kemudian disimpulkan “Berarti itu dongeng”

Padahal tiga pernyataan ini tidak sama dalam sains

Tidak diketahui bukan berarti mustahil.
Tidak dapat dibuktikan dengan metode tertentu bukan berarti tidak terjadi.
Dan sesuatu yang berada di luar akal atau pemahaman manusia tidak otomatis menjadi omong kosong.

Di sinilah saya kira para ilmuwan ini memiliki cacat logika.

Sains tentu memiliki wilayah yang sangat kuat. Sains bekerja melalui observasi, pengujian, dan penjelasan terhadap fenomena yang dapat diteliti.

Tapi apakah dari sana kita boleh menarik kesimpulan. Apa pun yang tidak dapat dijelaskan oleh sains berarti tidak ada?.

Inilah yang membuat para ilmuwan agnostik sering terjebak.

Apakah sesuatu harus dapat dijelaskan oleh sains agar boleh dianggap mungkin?

Kalau jawabannya “ya”, maka konsekuensinya sangat besar. Karena kita sedang mengubah batas metode ilmiah menjadi batas realitas. Padahal itu tidak otomatis sah.

Sains sangat kuat untuk menjawab pertanyaan bagaimana fenomena alam bekerja. Tetapi ketika seseorang mengatakan “Apa pun yang tidak dapat dijelaskan oleh metode ilmiah pasti tidak ada,” dia sudah tidak sedang membuat pernyataan ilmiah murni. Dia sedang membuat klaim filosofis tentang apa yang boleh dianggap ada.

Dan klaim tersebut perlu dipertanggungjawabkan secara filsafat, bukan sekadar dengan menyebut “saya ilmuwan”.

Sebab ketika mereka mengatakan demikian, mereka bukan lagi sekadar menggunakan sains. Mereka sudah membuat klaim filosofis tentang batas realitas berdasarkan batas metode ilmiah.

Ambil contoh Isra Mi'raj. Kalau seseorang mengatakan "Manusia pada abad ke-7 tidak memiliki teknologi untuk melakukan perjalanan seperti itu.” memang benar, pernyataan seperti ini bisa diterima 

Tapi itu baru menunjukkan keterbatasan teknologi manusia pada masa tersebut. Persoalannya menjadi berbeda ketika kemudian disimpulkan “Karena teknologi manusia tidak memungkinkan, maka Isra Mi'raj mustahil terjadi.”

Mengapa?

Isra Mi'raj dalam keyakinan Islam sejak awal bukanlah klaim bahwa Nabi Muhammad melakukan perjalanan dengan teknologi manusia abad ke-7.

Isra Mi'raj adalah klaim tentang mukjizat.

Sesuatu yang melampaui kemampuan manusia tidak otomatis merupakan sesuatu yang mustahil bagi Tuhan.

Kebenaran Isra Mi'raj bagi seorang Muslim harus dibangun melalui hujjah yang relevan, tentang kenabian Muhammad, wahyu, Al-Qur'an, kesaksian sejarah, dan dasar epistemologis mengapa seorang Muslim menerima sumber-sumber tersebut sebagai kebenaran. 

Jadi persoalan sebenarnya bukan memaksa sains untuk membuktikan mukjizat.

Persoalannya adalah apakah sains memang memiliki kewenangan untuk menyimpulkan bahwa sebuah mukjizat adalah dongeng hanya karena mekanismenya tidak dapat dijelaskan oleh keterbatasan pengetahuan ilmiah kita?

Menurut saya, di sinilah titik kritisnya.

Jangan mengubah batas pengetahuan manusia menjadi batas realitas, karena pengetahuan manusia itu faktanya terus mengalami perkembangan. Bahkan pengetahuan manusia hari ini bisa dianggap pengetahuan "zaman batu" bagi manusia di masa depan yang sudah lebih berkembang.

Kalau kita belum mampu menjelaskan sesuatu, kesimpulan paling jujur adalah “Kita belum tahu.”

Bukan "Karena saya tidak tahu, maka itu tidak mungkin.” lebih fatalnya lagi "Karena tidak mungkin, maka itu dongeng.” Itu adalah lompatan yang harus diuji.

Karena itu saya melihat orang seperti Kang Hasan dan Ryu Hasan bukan semata-mata sebagai ancaman bagi umat Islam.

Saya melihat mereka sebagai tantangan intelektual. Dan menurut saya, tantangan seperti ini bagus.

Sebab mereka ini memaksa kita keluar dari zona nyaman. Jangan menjawab kritik dengan umpatan.

Kalau kita percaya bahwa Islam adalah kebenaran, maka kita seharusnya berani menguji keyakinan itu dengan pertanyaan yang serius.


.

PALING DIMINATI

Back To Top