oleh Dwysa
Ada orang yang bertanya, mengapa Simtudduror terus dibaca? Mengapa para kiai, habaib, santri, dan masyarakat berkumpul, melantunkannya berulang-ulang? Bukankah kisah kelahiran Nabi Muhammad ﷺ sudah kita ketahui?
Pertanyaan seperti itu tidak perlu dijawab dengan kemarahan. Sebab cinta memang tidak selalu dapat diterangkan kepada orang yang belum merasakan. Tetapi cinta juga tidak boleh berhenti pada perasaan; ia perlu dikenalkan dengan ilmu.
Simtudduror fī Akhbār Maulid Khairil Basyar karya Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi bukan sekadar kumpulan syair yang enak dilagukan. Ia adalah untaian kisah, pujian, doa, dan ungkapan mahabbah kepada manusia yang paling dicintai Allāh: Nabi Muhammad ﷺ.
Namanya saja indah: Simtudduror, untaian mutiara.
Dan memang demikian isinya. Kalimat-kalimatnya seperti mutiara yang dirangkai dengan bahasa yang indah. Ada kisah kelahiran Rasulullah ﷺ, perjalanan kehidupan beliau, kemuliaan akhlaknya, keelokan sifatnya, hingga pujian dan kerinduan kepada beliau.
Barangkali di situlah salah satu rahasia mengapa para kiai begitu menyukainya.
Para ulama mengerti bahwa manusia tidak hanya mempunyai kepala yang harus diisi pengetahuan. Manusia juga mempunyai hati yang perlu disentuh.
Kita dapat mengetahui sejarah Nabi dari buku. Kita dapat menghafal tahun kelahiran, nasab, peperangan, hijrah, dan nama para sahabat. Tetapi mengetahui Nabi belum tentu membuat hati merindukan Nabi.
Simtudduror mencoba mengetuk pintu yang kedua itu.
Ia membawa sirah masuk melalui keindahan bahasa. Kisah Nabi tidak sekadar diterangkan, tetapi dirasakan. Nama Rasulullah ﷺ tidak sekadar disebut, tetapi disebut dengan penghormatan dan kerinduan.
Sebab agama bukan hanya perkara tahu.
Ada ilmu yang tinggal di kepala. Ada pula ilmu yang setelah masuk ke kepala, turun perlahan-lahan ke dada, kemudian membuat mata berkaca-kaca.
Para kiai kita memahami pendidikan semacam ini sejak lama.
Karena itu majelis Simtudduror tidak selalu berbentuk pengajian dengan kitab tebal dan penjelasan panjang. Orang kampung yang tidak mengerti bahasa Arab pun datang. Anak kecil ikut duduk. Orang tua membawa cucunya. Rebana ditabuh. Shalawat dilantunkan. Ketika sampai pada bagian tertentu, orang-orang berdiri dalam mahallul qiyam.
Mereka mungkin tidak memahami setiap susunan bahasa Arabnya.
Tetapi mereka mengenal satu nama: Muhammad ﷺ.
Dan dari satu nama itulah cinta dipelihara.
Simtudduror juga mempunyai perjalanan sejarah yang panjang hingga akrab dengan Nusantara. Hubungan keilmuan dan ruhani antara Hadhramaut dan para ulama di negeri ini membuat pembacaannya berkembang dari generasi ke generasi. Putra penyusunnya, Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, menetap di Solo dan menjadi salah satu mata rantai penting berkembangnya tradisi tersebut.
Maka ketika Simtudduror dibaca di sebuah pesantren, kampung, masjid, atau rumah sederhana, yang sedang berlangsung sesungguhnya bukan hanya pembacaan sebuah teks.
Ada warisan cinta yang sedang diteruskan.
Kakek membacanya, anak mendengarnya, cucu kemudian menghafalnya.
Begitulah tradisi bertahan: bukan karena diwajibkan kepada semua orang, melainkan karena dicintai oleh orang-orang yang menjalaninya.
Tentu tidak semua orang harus mempunyai selera keberagamaan yang sama. Ada yang menyukai majelis maulid dengan rebana. Ada yang lebih nyaman membaca sirah sendirian. Ada yang menangis ketika mendengar shalawat, ada pula yang lebih tersentuh ketika membaca hadis.
Tidak masalah.
Yang perlu dijaga adalah adab kita terhadap perbedaan cara mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ selama tidak bertentangan dengan syariat.
Kalau kita tidak menyukai iramanya, jangan buru-buru merendahkan orang yang menikmatinya. Kalau kita tidak terbiasa berdiri dalam mahallul qiyam, jangan segera menuduh orang yang berdiri telah kehilangan akal sehat. Sebelum mencela sebuah tradisi ulama, paling tidak duduklah sebentar dan pelajari: apa yang mereka baca, siapa yang menyusunnya, apa yang mereka maksudkan, dan mengapa orang-orang saleh mempertahankannya.
Sebab sering kali kita membenci sesuatu bukan setelah selesai mempelajarinya, melainkan sebelum sempat mengenalnya.
Dan yang lebih penting, jangan sampai perdebatan tentang Maulid justru membuat kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar: kecintaan kepada Nabi ﷺ.
Untuk apa menang berdebat tentang cara mencintai Rasulullah ﷺ, kalau setelah itu hati kita malah semakin jauh dari akhlak beliau?
Simtudduror mestinya membawa kita lebih jauh daripada sekadar merdunya suara dan ramainya rebana. Seusai membaca kemurahan hati Nabi ﷺ, semestinya kita menjadi lebih murah hati. Seusai mendengar kelembutan beliau, mestinya ucapan kita menjadi lebih lembut. Seusai memuji akhlaknya, mestinya kita malu mempertahankan akhlak buruk kita sendiri.
Sebab puncak mahabbah bukanlah suara yang paling keras ketika bershalawat.
Puncaknya adalah kehidupan yang perlahan-lahan menyerupai apa yang dicintainya.
Maka biarkanlah Simtudduror terus dibaca.
Biarkan rumah-rumah kembali ramai oleh shalawat. Biarkan anak-anak mengenal nama Muhammad ﷺ bukan pertama kali dari buku pelajaran, tetapi dari pangkuan ayahnya, suara ibunya, majelis kampungnya, dan wajah-wajah orang tua yang mendadak teduh ketika nama kekasih Allāh itu disebut.
Kita hidup pada zaman ketika anak-anak begitu mudah menghafal nama artis, pemain sepak bola, merek, dan tokoh-tokoh yang lewat sebentar di layar telepon.
Kalau ada sebuah majelis yang membuat mereka duduk satu jam untuk mendengar kisah Rasulullah ﷺ, mengapa kita begitu tergesa ingin membubarkan keindahan itu?
Silakan berbeda pendapat. Silakan tidak ikut membaca. Tetapi jangan mudah mengejek orang yang sedang belajar mencintai.
Sebab boleh jadi, dari sebuah rumah kecil, dari suara rebana yang sederhana, dari Simtudduror yang dibaca terbata-bata, tumbuh seorang anak yang sepanjang hidupnya menyimpan satu kerinduan: ingin mengenal Rasulullah ﷺ lebih dekat, mencintainya lebih dalam, meneladani akhlaknya, dan kelak dikumpulkan bersamanya.
Kalau sebuah tradisi mampu menjaga kerinduan semacam itu dari generasi ke generasi, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk bertanya mengapa ia masih dibaca.
Kadang-kadang mutiara memang tidak perlu berteriak bahwa dirinya berharga. Ia cukup diwariskan—dari tangan ke tangan, dari hati ke hati.