oleh Dwysa
Sudah kira-kira enam tahun Sidogiri seperti “meliburkan libur”.
Dulu, dalam setahun santri bisa libur dua kali. Sekarang libur panjang cukup sekali. Bukan berarti hak santri untuk beristirahat dikurangi. Yang diubah justru cara memaknai istirahat itu sendiri. Pada waktu tertentu, santri tetap di pondok, sementara orangtualah yang datang menyambang.
Kelihatannya sederhana. Tetapi di balik itu ada pendidikan yang dalam: bahwa senang tidak selalu berarti pulang, dan libur tidak selalu berarti berhenti.
Kita sering memahami libur sebagai jeda dari kesibukan: pulang, bermain, berjalan-jalan, tidur lebih panjang, lalu kembali setelah puas. Padahal bagi seorang santri, kegembiraan perlahan perlu dipindahkan tempatnya. Dari kegembiraan meninggalkan pesantren menjadi kegembiraan menjalani kehidupan pesantren.
Sebab mondok bukan sekadar menunggu hari pulang.
Pesantren sedang mengajari anak-anak bahwa hidup yang menyenangkan bukan hidup tanpa kegiatan. Justru ada kebahagiaan yang lebih matang ketika seseorang menemukan kesenangan dalam kegiatan yang bernilai: mengaji, berjamaah, membaca kitab, bercengkerama dengan teman, melayani guru, membersihkan kamar, antre makan, bahkan menjalani rutinitas kecil yang dahulu terasa membosankan.
Mungkin itulah salah satu pelajaran penting dari “libur yang tetap di pondok”: yang diistirahatkan bukan semangat belajarnya, tetapi kejenuhannya.
Dan orangtua ikut belajar.
Biasanya anak yang menempuh perjalanan pulang. Kini pada waktu tertentu, ayah dan ibu yang menempuh perjalanan menuju pondok. Anak tetap di tempat perjuangannya; orangtua datang membawa rindu.
Ada pemandangan yang indah di sana. Seorang anak yang dahulu selalu ingin pulang, pelan-pelan belajar bahwa rumah tidak harus selalu didatangi. Kadang-kadang rumah yang datang menemuinya—melalui wajah ibu, tangan ayah, sebungkus makanan, beberapa jam percakapan, lalu doa sebelum berpisah lagi.
Barangkali pendidikan memang seperti itu.
Anak tidak selamanya harus didekatkan kepada segala sesuatu yang menyenangkan. Kadang-kadang ia perlu diajari menemukan kesenangan pada sesuatu yang harus diperjuangkan.
Sebab kelak kehidupan juga tidak menyediakan “libur” setiap kali kita lelah. Ada tanggung jawab yang tetap harus dijalani, ada kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, dan ada keadaan yang hanya bisa dilewati dengan sabar.
Maka pesantren perlahan mengubah pengertian tentang bahagia.
Bahagia bukan hanya ketika bel pulang berbunyi.
Bahagia juga ketika tetap tinggal, tetap mengaji, tetap bergiat—lalu menyadari bahwa tempat yang dahulu ingin segera ditinggalkan itu, tanpa terasa, telah menjadi rumah kedua.
Dan mungkin di situlah mondok mulai berhasil: ketika santri tidak lagi menghitung berapa hari menuju pulang, tetapi mulai merasa sayang jika satu hari di pesantren berlalu tanpa sesuatu yang ia pelajari.