Oleh Adian Husaini
Gagasan Dr. Adian Husaini mengenai konsep universitas ideal—khususnya perguruan tinggi Islam—merupakan salah satu tema pokok yang mendominasi ribuan catatan pemikiran dan artikel beliau di www.adianhusaini.id. Pemikiran beliau bertumpu pada kritik mendalam terhadap paradigma pendidikan tinggi modern yang dinilai makin terseret ke arah sekularisme, materialisme, dan utilitarianisme semata.
Secara komprehensif, berikut adalah jabaran gagasan Dr. Adian Husaini mengenai esensi, prinsip, dan ciri-ciri universitas ideal:
1. Perubahan Paradigma: Dari "Pabrik Tenaga Kerja" ke Persemaian Manusia Beradab
Menurut Dr. Adian Husaini, kekeliruan mendasar pendidikan tinggi modern adalah pendangkalan tujuan universitas yang hanya difungsikan sebagai industri pencetak ijazah dan penyedia tenaga kerja (job seekers) bagi pasar modal. Universitas ideal tidak boleh direduksi sekadar menjadi lembaga pelatihan vokasional yang berorientasi materialistis.
Mengutip dan memproyeksikan konsep Ta’dib yang digagas oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, universitas ideal harus menempatkan penanaman adab (ta'dib) sebagai inti dari seluruh proses pendidikan. Tujuan utama universitas adalah melahirkan insan kamil atau manusia yang beradab—yakni individu yang mengenal Allah SWT, memahami posisi dirinya di hadapan Al-Khaliq dan makhluk, serta bertindak adil berdasarkan ilmu yang benar.
2. Integrasi Keilmuan dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan
Universitas ideal menolak tegas dikotomi antara "ilmu agama" dan "ilmu umum/sekuler". Dalam artikel-artikel pemikiran beliau, Dr. Adian menyoroti pentingnya pembentukan kerangka berpikir Islam (Islamic Worldview / Ru’yatul Islam lil Wujud) pada diri setiap mahasiswa.
Pembersihan dari Pandangan Dunia Sekuler: Universitas ideal menyaring dan membersihkan disiplin ilmu modern dari paham-paham yang bertentangan dengan akidah Islam, seperti sekularisme, rasionalisme ekstrem, relativisme moral, dan pluralisme agama.
Struktur Kurikulum Fardhu 'Ain dan Fardhu Kifayah:
Ilmu Fardhu 'Ain: Setiap mahasiswa—tanpa memandang jurusan atau fakultasnya—wajib menguasai landasan akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, adab, tahsin/tahfizh Al-Qur'an, fiqih ibadah praktis, serta sejarah dan pemikiran Islam mendasar.
Ilmu Fardhu Kifayah: Keahlian spesifik (seperti kedokteran, teknik, hukum, ekonomi, komunikasi, atau sains) dipelajari sebagai sarana pengabdian dan pemenuhan kebutuhan masyarakat luas dengan pijakan nilai tauhid.
3. Profil Lulusan: "Cendekiawan Pejuang" dan Pemimpin Beradab
Indikator utama keberhasilan universitas ideal versi Dr. Adian Husaini terletak pada kualifikasi lulusannya. Universitas bukan hanya melahirkan akademisi yang mahir menulis makalah teknis, melainkan Cendekiawan Pejuang (Ulul Albab).
Profil utama lulusan universitas ideal meliputi:
Beriman, Bertakwa, dan Beradab: Memiliki keteguhan akidah, kesalehan ritual, dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.
Kritis dan Berpikir Komprehensif: Mampu merespons arus pemikiran barat modern dan tantangan zaman dengan argumentasi keilmuan Islam yang kokoh.
Mandiri dan Kreatif: Mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, berjiwa kewirausahaan, serta tidak bergantung pada lapangan pekerjaan birokrasi atau korporasi.
Meneladani Tokoh Bangsa dan Negarawan: Mengambil inspirasi dari figur pendiri bangsa seperti Mohammad Natsir—seorang cendekiawan, dai, sekaligus negarawan yang berintegritas tinggi, berhidmat untuk umat, dan hidup bersahaja.
4. Metode Pembelajaran dan Keterampilan Kunci
Universitas ideal menerapkan proses pembelajaran yang holistik, tidak terbatas pada tatap muka di ruang kelas. Dr. Adian merekomendasikan beberapa metode dan fokus keahlian mendasar:
Tradisi Membaca dan Menulis (Literasi Pemikiran): Mahasiswa dibiasakan membaca literatur primer (turats dan karya ilmiah kontemporer) serta dilatih menulis karya ilmiah dan jurnalistik. Keterampilan menulis dianggap sebagai senjata utama cendekiawan dalam mengawal opini publik dan meluruskan pemikiran yang keliru.
Penguasaan Bahasa Internasional dan Bahasa Agama: Bahasa Arab diintegrasikan untuk memahami sumber-sumber ajaran Islam secara langsung, sedangkan Bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya dikuasai untuk merespons literatur dunia dan menyebarkan dakwah global.
Keteladanan Dosen (Uswah Hasanah): Dosen di universitas ideal bukan sekadar pengajar (lecturer), melainkan pendidik (mu'addib) dan pembimbing yang memberikan contoh nyata dalam ibadah, akhlak, dan integritas keilmuan.
5. Rekonstruksi Standar dan Indikator Keberhasilan
Dr. Adian Husaini mengkritik kriteria pemeringkatan perguruan tinggi global (seperti QS World University Rankings atau Times Higher Education) yang cenderung mekanistik dan sekuler. Bagi beliau, universitas ideal tidak boleh terjebak sekadar mengejar pemeringkatan formalistis atau jumlah publikasi di jurnal berbayar jika perguruan tinggi tersebut gagal membentuk karakter dan moral mahasiswanya.
Ukuran keberhasilan universitas yang hakiki mencakup:
Kualitas Moral dan Keimanan: Sejauh mana lulusannya takut kepada Allah SWT, menjauhi korupsi, dan menjaga kehormatan diri.
Kontribusi Real bagi Umat dan Bangsa: Sejauh mana karya, pemikiran, dan aktivitas universitas memberikan solusi atas problem riil masyarakat (seperti krisis kemanusiaan, kemiskinan, kebodohan, dan krisis moral).
Kemandirian Lembaga: Perguruan tinggi yang ideal mampu mengelola sumber daya secara mandiri tanpa mengorbankan independensi keilmuan demi kepentingan pragmatis.
Kesimpulan
Dalam pandangan Dr. Adian Husaini sebagaimana tertuang dalam karya dan catatannya di www.adianhusaini.id, universitas ideal adalah perguruan tinggi yang mengembalikan fungsi utama pendidikan sebagai sarana melahirkan manusia beradab, berilmu, dan bertakwa.
Universitas ideal memadukan kekuatan wahyu dan akal, mengintegrasikan tradisi keilmuan Islam dengan penguasaan sains modern, serta mencetak lulusan yang tidak hanya siap kerja, melainkan siap memimpin dan memperjuangkan kebenaran di tengah tantangan zaman. (***)