Bismillahirrohmaanirrohiim

DI BALIK KERUSAKAN AQIDAH DAN NALAR UMAT ISLAM: "DOGMA" LITERALISME SALAFI-WAHABI, "TEOREMA" KALAM ASY'ARI, ATAUKAH "AKSIOMA" ILMU EKSAKTA?

DI BALIK KERUSAKAN AQIDAH DAN NALAR UMAT ISLAM: "DOGMA" LITERALISME SALAFI-WAHABI, "TEOREMA" KALAM ASY'ARI, ATAUKAH "AKSIOMA" ILMU EKSAKTA?


Oleh Ahmad Thoha Faz

I. Tiga Kata yang Menentukan Segalanya

Dalam filsafat bahasa — khususnya dalam tradisi yang dimulai oleh Gottlob Frege dan dilanjutkan oleh Ludwig Wittgenstein — ada satu prinsip yang sering diabaikan dalam diskursus teologi Islam: makna sebuah pernyataan ditentukan bukan oleh bunyi katanya, melainkan oleh fungsi epistemiknya dalam sistem yang lebih besar. Kata yang sama bisa bekerja sebagai dogma, sebagai teorema, atau sebagai aksioma — dan ketiga fungsi itu menghasilkan konsekuensi yang sama sekali berbeda, bahkan bertentangan.

Dogma adalah pernyataan yang diterima karena otoritas — ia tidak dibuktikan dan tidak menghasilkan konsekuensi yang bisa diuji. Teorema adalah pernyataan yang diturunkan dari premis-premis yang mendahuluinya melalui inferensi yang memaksa — ia dibuktikan dan penolakan terhadapnya dianggap sebagai kesalahan logis. Aksioma adalah pernyataan yang dipilih sebagai titik pangkal — ia tidak dibuktikan, namun justru karena itulah ia produktif: dari sana seluruh konsekuensi dieksplorasi secara konsisten.

Ketika seorang Muslim mengucapkan āmantu billāh — aku beriman kepada Allah — pernyataan ini bisa bekerja sebagai salah satu dari ketiganya. Dan pilihan itu menentukan segalanya: apakah iman itu akan membekukan, memaksa, atau membangun. Seluruh perdebatan antara Salafi-Wahabi dan Kalam Asy'ari — yang telah menghabiskan energi intelektual umat selama berabad-abad — adalah, pada intinya, perdebatan antara dua cara yang salah dalam menempatkan pernyataan iman, sementara cara yang benar — cara yang telah dipraktikkan oleh peradaban ilmiah Islam terbaik dan yang dikonfirmasi oleh cara kerja ilmu eksakta — hampir tidak pernah disebutkan.

II. Salafi-Wahabi: Terjebak di dalam Indera Sendiri

Asumsi yang Tidak Pernah Dipertanyakan

Literalisme Salafi-Wahabi berdiri di atas sebuah asumsi filosofis yang sangat mendasar — dan yang tidak pernah secara eksplisit diakui, apalagi dikritisi. Asumsi itu bisa dirumuskan dalam satu kalimat dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
الْحَقِيقَةُ فِي الْأَعْيَانِ لَا فِي الْأَذْهَانِ
"Realitas ada pada benda-benda eksternal, bukan di dalam pikiran."

Ini adalah versi naif dari realisme langsung (naïve realism) — keyakinan bahwa dunia yang kita persepsi melalui indera adalah dunia sebagaimana adanya secara langsung dan tanpa distorsi. Bagi tradisi yang berpegang pada asumsi ini, teks yang menyebutkan "tangan Allah", "wajah Allah", "bersemayam di atas 'Arsy" harus dipahami secara harfiah — karena kata-kata merujuk langsung kepada realitas eksternal yang ada, dan realitas eksternal itu adalah apa yang dimaksud teks. Interpretasi metaforis atau ta'wil dianggap sebagai "penyimpangan" karena ia menyelipkan pikiran di antara teks dan realitas, sementara realitas seharusnya langsung terbaca dari teks.

Namun asumsi ini — bahwa realitas ada pada benda-benda eksternal dan bukan di dalam pikiran — adalah asumsi yang runtuh di bawah tiga serangan dari tiga arah yang berbeda, dan ketiganya sama-sama menghancurkan.

Descartes: Cogito Ergo Sum sebagai Pembongkaran Realisme Naif

René Descartes, dalam Meditationes de Prima Philosophia (1641), memulai proyek filsafatnya dengan satu pertanyaan yang sederhana namun mengacaukan seluruh bangunan realisme naif: dapatkah kita mempercayai indera kita sebagai jendela yang andal menuju realitas?

Jawabannya, setelah Descartes menerapkan keraguan metodisnya secara konsisten, adalah tidak. Indera bisa menipu — kita tahu bahwa mimpi terasa nyata selama kita bermimpi, bahwa orang yang demam merasa manis sebagai pahit, bahwa tongkat yang dicelupkan ke dalam air tampak patah padahal lurus. Satu-satunya yang tidak bisa diragukan adalah justru aku yang sedang ragu — cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Titik Archimedes pengetahuan bukan pada benda-benda eksternal yang terindera, melainkan pada kesadaran yang mengindera.
Ini adalah pembalikan langsung dari al-ḥaqīqatu fī l-a'yān lā fī l-adzhān: bagi Descartes, justru sebaliknya — kepastian pertama ada di dalam pikiran (adzhān), bukan di dalam benda-benda eksternal (a'yān). Dan posisi Descartes ini bukan sekadar pendapat satu filsuf — ia adalah titik berangkat seluruh epistemologi modern yang kemudian dikonfirmasi dan diperdalam oleh Kant, Husserl, dan neurosains kontemporer.

QS. Qāf: 22 dan Al-Ghazali: Wahyu Sendiri yang Membantah

Yang lebih menentukan: wahyu sendiri membantah asumsi ini — dan membantahnya jauh lebih awal dari Descartes.

لَقَدْ كُنتَ فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَٰذَا فَكَشَفْنَا عَنكَ غِطَاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَدِيدٌ
"Sungguh, engkau berada dalam kelalaian tentang hal ini; maka Kami singkapkan darimu penutupmu, dan penglihatanmu pada hari ini sangat tajam." (QS. Qāf: 22)

Ayat ini adalah pernyataan ontologis yang sangat berat: manusia, dalam kehidupan dunia ini, berada dalam kondisi lalai (ghafla) terhadap realitas yang sesungguhnya. Ada ghiṭā' — penutup, tirai — yang menghalangi penglihatan. Dan tirai itu baru tersibak di akhirat. Artinya: persepsi inderawi manusia selama di dunia secara struktural adalah persepsi yang tidak menjangkau realitas penuh.

Al-Ghazali mengutip ayat ini — atau merefleksikan spirit yang sama — dalam Al-Munqidh min aḍ-Ḍhalāl, autobiografi intelektualnya yang paling jujur. Ia menceritakan bagaimana ia mengalami krisis epistemologis yang dalam: bagaimana ia tidak bisa mempercayai indera secara mutlak karena indera terbukti menipu, bagaimana ia tidak bisa mempercayai akal semata karena akal sendiri bisa keliru secara sistematis. Krisis ini yang kemudian mendorongnya melampaui kalam dan filsafat menuju pengalaman langsung (dzawq) — karena ia menyadari bahwa al-ḥaqīqatu fī l-a'yān lā fī l-adzhān adalah asumsi yang tidak tahan uji.

Salafi-Wahabi, dengan menjadikan teks harfiah sebagai cermin langsung realitas — seolah kata "tangan" dalam teks merujuk langsung kepada tangan dalam pengertian yang bisa dibayangkan secara inderawi, bilā kayf tetapi tetap dengan kerangka imajinasi inderawi — sedang melakukan persis yang diperingatkan QS. Qāf: 22: mereka berada dalam ghafla, mengira persepsi inderawi mereka tentang makna kata adalah realitas, padahal ada tirai yang belum tersibak.

Aristoteles dan Perangkap Substansi

Dari sisi filsafat Aristoteles, problem Salafi-Wahabi bisa didiagnosis dengan lebih presisi. Aristoteles membedakan antara substansi (ousia) — apa yang sesuatu itu sesungguhnya — dan aksiden (symbebekos) — sifat-sifat yang melekat pada substansi secara kontingen. Realisme naif Aristotelian berasumsi bahwa nama-nama dan kata-kata merujuk kepada substansi-substansi yang ada di dunia eksternal — dan inilah yang menjadi fondasi metafisika abad pertengahan, termasuk dalam kalam Islam.

Namun Aristoteles sendiri sudah menyadari kompleksitasnya: ketika kita berbicara tentang sesuatu yang melampaui kategori substansi-aksiden biasa — sesuatu yang tidak terbatas, tidak terkondisi, tidak berada dalam ruang dan waktu — bahasa yang dirancang untuk merujuk kepada substansi-substansi dalam dunia terindera tidak lagi memadai. Ini adalah apa yang dalam tradisi teologi disebut via negativa atau tanzīh: kita bisa mengatakan apa yang Allah bukan, namun tidak bisa mengatakan apa Allah itu secara positif menggunakan bahasa yang dirancang untuk merujuk kepada makhluk.

Salafi-Wahabi mengabaikan kompleksitas ini. Dengan berpegang pada asumsi al-ḥaqīqatu fī l-a'yān, mereka mengasumsikan bahwa kata "tangan" dalam teks merujuk kepada sesuatu yang substansial dan real dalam pengertian yang sama dengan tangan makhluk — lalu menambahkan bilā kayf untuk menolak pertanyaan lanjutan. Namun bilā kayf tidak menyelesaikan masalah; ia hanya menutup pintu pertanyaan sebelum pertanyaan itu dijawab. Ini bukan filsafat bahasa yang matang — ini adalah pengakuan implisit bahwa sistem itu tidak bisa menjawab pertanyaan yang paling mendasar tentang referensi bahasa teologis.

III. Kalam Asy'ari: Terjebak dalam Silogisme

Premis --> Konklusi, Bukan Aksioma --> Konsekuensi

Kalam Asy'ari melakukan kesalahan yang berbeda namun sama destruktifnya. Tradisi ini membangun argumen keberadaan Allah melalui struktur silogisme Aristotelian: premis mayor, premis minor, konklusi. Dalil huduts: (1) setiap yang baru pasti ada yang membuatnya baru; (2) alam semesta adalah baru; (3) maka alam semesta pasti ada yang membuatnya baru. Konklusi itu lalu diidentifikasi dengan Allah.

Dalam filsafat logika, struktur ini disebut modus ponens — dan ia valid secara formal. Namun ada problem mendasar yang tidak bisa diselesaikan dari dalam struktur ini sendiri: validitas formal tidak menjamin kebenaran konklusi jika premis-premisnya bisa dipertanyakan. Dan premis-premis dalil huduts memang bisa dipertanyakan secara serius — apakah prinsip kausalitas berlaku secara universal? Apakah "alam semesta" sebagai keseluruhan bisa diperlakukan sama dengan objek-objek di dalam alam semesta? Apakah "permulaan" dalam pengertian kosmologi modern sama dengan "huduts" dalam pengertian kalam klasik?

Namun problem yang lebih dalam bukan pada validitas argumennya, melainkan pada fungsi epistemik yang salah dari seluruh proyek. Kalam Asy'ari menggunakan struktur premis --> konklusi — yang adalah struktur teorema — untuk mencapai pernyataan tentang Allah. Ini berarti Allah ditempatkan sebagai konklusi dari argumen, bukan sebagai aksioma yang mendahuluinya. Dan konklusi yang diturunkan dari premis-premis selalu lebih lemah dari premis-premisnya: ia bergantung pada kebenaran premis, ia bisa runtuh jika premis dipersoalkan, dan ia menempatkan sesuatu yang lain — dalam hal ini, prinsip kausalitas dan asumsi tentang alam semesta — sebagai lebih fundamental dari konklusinya sendiri.

Dalam bahasa Aristoteles: Kalam Asy'ari melakukan apodeixis — demonstrasi dari yang lebih diketahui menuju yang kurang diketahui. Namun Aristoteles sendiri sudah memperingatkan bahwa ada archai — prinsip-prinsip pertama — yang tidak bisa didemonstrasikan karena justru merekalah fondasi dari segala demonstrasi. Jika Allah adalah archē yang sesungguhnya — prinsip pertama yang mendasari segala sesuatu — maka menjadikan-Nya sebagai konklusi dari demonstrasi adalah kekeliruan kategori yang fundamental: ia menurunkan yang paling fundamental menjadi yang paling tergantung.

Silogisme yang Membunuh Iman

Aristoteles membedakan antara syllogismos — silogisme sebagai inferensi formal — dan nous — intuisi intelektual yang langsung menangkap prinsip-prinsip pertama tanpa melalui inferensi. Bagi Aristoteles, nous lebih tinggi dari syllogismos karena ia menyentuh archai secara langsung. Ilmu yang sesungguhnya (episteme) berdiri di atas nous terhadap prinsip-prinsip pertama, bukan di atas rantai silogisme yang tak berujung.

Kalam Asy'ari mengabaikan distinsi ini. Ia menjadikan silogisme sebagai metode utama untuk mencapai iman — padahal iman kepada Allah, sebagai archē yang sesungguhnya, seharusnya bersifat nous: penerimaan langsung yang kemudian menjadi fondasi bagi seluruh inferensi selanjutnya, bukan konklusi yang dicapai melalui inferensi dari premis-premis yang lebih awal.

Konsekuensinya sudah kita ketahui: ketika silogisme itu ditolak — ketika premis-premisnya dipersoalkan — tidak ada jalan keluar selain menyebut penolak sebagai pembangkang. Karena dalam sistem teorema, penolak konklusi yang valid adalah orang yang salah secara logis — dan dari "salah secara logis" ke "pembangkang yang harus dipaksa" hanya selangkah. Kalimat fastukhrijūhu bis-sayf aw yamūt (فاستخرجه بالسيف او يموت) — dikeluarkan dengan pedang atau ia mati — dalam Ummul Barāhīn adalah konsekuensi logis yang niscaya dari menjadikan iman sebagai teorema. Bukan kecelakaan sejarah. Bukan ekses yang bisa dibuang sambil mempertahankan sistemnya.

IV. Kesalahan Bersama: Membela Iman, Bukan Menerapkan Iman

Di balik perbedaan antara dogma Salafi-Wahabi dan teorema Kalam Asy'ari, terdapat satu kesalahan yang keduanya bagi bersama — dan yang mungkin lebih merusak dari kesalahan masing-masing: Keduanya sibuk membela iman, bukan menerapkan iman.

Salafi-Wahabi membela iman dengan mempertahankan teks secara harfiah dari setiap interpretasi yang dianggap menyimpang — seolah pertahanan iman adalah pertahanan terhadap ta'wil, terhadap filsafat, terhadap sains yang tampak bertentangan dengan pembacaan literal. Kalam Asy'ari membela iman dengan membangun benteng argumentasi rasional — seolah iman perlu dijaga melalui konstruksi dalil yang tidak bisa dibantah oleh musuh-musuh intelektual Islam.
Keduanya berangkat dari asumsi yang sama: iman adalah posisi yang terancam dan perlu dipertahankan. Dan asumsi ini, tanpa disadari, menempatkan iman dalam posisi defensif yang permanen — selalu merespons serangan, selalu membangun tembok, selalu mendefinisikan diri melalui oposisi terhadap yang lain.

Dalam filsafat bahasa Wittgenstein — terutama dalam Philosophical Investigations — ada konsep language games (Sprachspiele): makna sebuah pernyataan ditentukan oleh permainan bahasa tempat ia berfungsi. Kalam Asy'ari dan Salafi-Wahabi keduanya bermain dalam permainan bahasa apologetika — pembelaan dan pembuktian. Dan dalam permainan itu, āmantu billāh berfungsi sebagai posisi yang perlu dipertahankan atau dibuktikan, bukan sebagai titik pangkal untuk berangkat.

Hadis Rasulullah ﷺ bermain dalam permainan bahasa yang sama sekali berbeda:
قُلْ آمَنتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Di sini, āmantu billāh bukan posisi yang perlu dipertahankan — ia adalah titik keberangkatan. Tsumma istaqim adalah program yang dijalankan dari titik itu. Ini bukan permainan bahasa apologetika — ini adalah permainan bahasa konstruksi: dari fondasi ini, bangunlah sesuatu.

V. Aksioma: Cara Kerja Eksakta yang Mengubah Dunia

Ilmu eksakta tidak pernah membuktikan aksiomanya — dan itulah justru kekuatannya.
Newton tidak membuktikan hukum inersia dari prinsip yang lebih dalam. Einstein tidak membuktikan konstannya laju cahaya. Euklides tidak membuktikan postulat garis sejajarnya. Planck tidak membuktikan bahwa energi bersifat diskrit dari prinsip yang lebih fundamental. Mereka memilih fondasi — dengan kesadaran penuh bahwa ia adalah fondasi, bukan konklusi — lalu dengan konsisten mengeksplorasi seluruh konsekuensinya.

Dan konsekuensi dari keistiqamahan atas aksioma yang tepat adalah peradaban: mekanika Newton menghasilkan revolusi industri; relativitas Einstein menghasilkan teknologi nuklir dan GPS; geometri non-Euklides Riemann menghasilkan fisika ruang-waktu yang melengkungkan seluruh kosmologi modern; kuantum Planck menghasilkan semikonduktor, laser, dan seluruh peradaban digital.

Tidak satu pun dari teknologi ini membuktikan aksioma yang mendasarinya. Yang mereka lakukan adalah mengonfirmasi produktivitas dan konsistensi aksioma itu. Ini adalah perbedaan epistemik yang sangat mendasar: kita tidak membuktikan fondasi; kita menilai fondasi dari buahnya.

كشجرة طيبة أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا
"Pohon yang baik — akarnya kokoh dan cabangnya menjulang ke langit, menghasilkan buahnya setiap saat dengan izin Tuhannya." (QS. Ibrāhīm: 24-25)

Aksioma yang benar adalah pohon yang baik: akarnya kokoh — tidak perlu dibuktikan karena ia adalah fondasi — dan cabangnya menjulang ke langit dalam konsekuensi-konsekuensi yang produktif. Iman yang berfungsi sebagai aksioma dinilai bukan dari validitas argumentasi yang mendukungnya, melainkan dari buah peradaban yang lahir darinya.
Al-Khawarizmi tidak menulis Kitāb al-Mukhtashar fī Ḥisāb al-Jabr wa al-Muqābalah karena ia sedang membuktikan Allah. Ia menulisnya karena imannya bahwa alam semesta teratur — bahwa Allah yang Maha Mengetahui menciptakan dunia yang bisa dipahami oleh akal yang juga pemberian-Nya — dan ia konsisten mengeksplorasi konsekuensi dari aksioma itu. Dari keistiqamahan itu lahir aljabar, yang hari ini menjadi tulang punggung seluruh komputasi modern.

Ibnu al-Haytsam tidak menemukan metode saintifik karena ia sedang membangun apologetika Islam. Ia menemukannya karena keyakinannya bahwa cahaya adalah ciptaan Allah yang bekerja dengan keteraturan yang bisa diteliti — dan ia konsisten mengikuti keteraturan itu ke manapun ia membawa. Thumma istaqim dalam bentuknya yang paling produktif secara peradaban.

VI. Kesimpulan: Mengembalikan Iman ke Fungsinya yang Benar

Tiga kata — dogma, teorema, aksioma — bukan sekadar klasifikasi filosofis. Ia menentukan ke mana iman membawa manusia dan peradaban.

Dogma bilā kayf Salafi-Wahabi terjebak pada asumsi realisme naif — al-ḥaqīqatu fī l-a'yān — yang bertentangan dengan QS. Qāf: 22, dengan Al-Ghazali dalam Munqidz, dengan Descartes, dengan Kant, dan dengan neurosains tentang predictive processing. Ia menerima teks secara harfiah sebagai cermin realitas, tidak menyadari bahwa setiap pembacaan teks adalah aktivitas pikiran yang aktif — dan bahwa adhhān yang mereka anggap transparan justru adalah tempat di mana seluruh asumsi yang tidak mereka sadari bekerja tanpa kontrol.

Teorema Kalam Asy'ari terjebak pada pola silogistik — premis menuju konklusi — yang secara struktural menempatkan Allah sebagai yang paling tergantung dalam sistemnya sendiri. Ia lupa distinsi Aristotelian antara syllogismos dan nous, antara demonstrasi formal dan penerimaan langsung terhadap prinsip pertama. Dan ketika konklusinya ditolak, sistemnya tidak bisa merespons selain dengan paksaan — karena ia tidak menyediakan ruang untuk perbedaan fondasi.

Aksioma — jalan yang diajarkan Rasulullah ﷺ dalam āmantu billāh tsumma istaqim, yang dikonfirmasi oleh cara kerja seluruh ilmu eksakta, yang dipraktikkan oleh Al-Khawarizmi, Ibnu al-Haytsam, Al-Biruni, dan seluruh peradab ilmiah Islam terbaik — menempatkan iman bukan sebagai posisi yang perlu dibela, bukan sebagai konklusi yang perlu dibuktikan, melainkan sebagai titik pangkal yang dipilih secara bebas dan diistiqamahkan dalam seluruh konsekuensinya.

Dari titik pangkal itu, pertanyaan yang muncul bukan "bagaimana membuktikan iman?" dan bukan "bagaimana mempertahankan iman dari serangan?" — melainkan pertanyaan yang jauh lebih produktif: apa konsekuensi-konsekuensi yang konsisten dari beriman kepada Allah sebagai Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm, sebagai Al-'Alīm, sebagai Al-Khāliq? Dan dari pertanyaan- pertanyaan itu lahirlah sains, matematika, seni, etika, dan peradaban — bukan sebagai pembuktian iman, melainkan sebagai buah dari istiqamah atas iman.
Itulah yang dimaksud dengan:
قُلْ آمَنتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Bukan dogma yang membeku. Bukan teorema yang memaksa. Melainkan aksioma yang — ketika diistiqamahkan dengan jujur, konsisten, dan berani — mengubah dunia.


.

PALING DIMINATI

Back To Top