Dalam kitab Iḥyāʾ ʿUlūm al-Dīn, imam al-Ghazālī menjelaskan adab makan secara sangat rinci. Berikut penjelasan yang bersandar langsung pada teks yang tersedia.
Adab sebelum makan
Imam Al-Ghazālī membuka pembahasan adab makan dengan syarat pertama: memastikan makanan itu halal dan baik, serta diperoleh dengan cara yang bersih dari perkara syubhat. Ia menukil firman Allah:
كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا.
Ia menjelaskan bahwa makanan halal adalah bagian dari “أصول الدين” atau pondasi agama, dan bahwa Allah mendahulukan larangan makan harta dengan batil sebelum larangan membunuh sebagai bentuk pengagungan atas keharaman tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya niat, bahwa makan adalah sarana untuk kuat dalam ibadah, bukan sekadar memenuhi syahwat. Ia mengutip sabda Nabi :
ﷺ: إن الرجل ليؤجر حتى في اللقمة يرفعها إلى فيه وإلى في امرأته.
Adab lain sebelum makan adalah mencuci tangan. Ia menukil perkataan Nabi :
ﷺ: الوضوء قبل الطعام ينفي الفقر وبعده ينفي اللمم.
Adab ketika makan
Al-Ghazālī menguraikan beberapa adab pokok:
- Memulai dengan membaca “Bismillah” dan menutup dengan “Alhamdulillah”. Disebutkan,
“وهو أن يبدأ ب بسم الله في أوله وب الحمد لله في آخره” .
- Makan dengan tangan kanan.
- Tidak terburu-buru, memperkecil suapan, dan mengunyah dengan baik:
“ويصغر اللقمة ويجود مضغها .
- Tidak mendahului suapan baru sebelum menelan suapan sebelumnya, karena itu adalah bentuk ketergesaan dalam makan.
- Tidak makan dari bagian tengah makanan, tetapi dari sisi yang dekat: Nabi ﷺ bersabda كل مما يليك.
- Tidak makan sambil bersandar; disebut bahwa Nabi ﷺ tidak makan dalam keadaan “متكئا”.
- Tidak mencela makanan. Disebut dalam riwayat:
كان لا يعيب مأكولا إن أعجبه أكله وإلا تركه .
Nabi ﷺ juga digambarkan makan dengan tawadhu’,
“إنما أنا عبد آكل كما يأكل العبد وأجلس كما يجلس” .
Selain itu, dianjurkan memperbanyak tangan di atas makanan karena membawa berkah. Nabi ﷺ bersabda: اجتمعوا على طعامكم يبارك لكم فيه
Adab setelah makan
Imam Al-Ghazālī menyebutkan bahwa seseorang dianjurkan berhenti sebelum kenyang, “أن يمسك قبل الشبع , kemudian menjilati jari-jari sebelum mencucinya, mengikuti sunnah Nabi.
Ia juga menukil doa setelah makan, sebagaimana sabda Nabi :
ﷺ: الحمد لله الذي جعله عذبا فراتا برحمته ولم يجعله ملحا أجاجا بذنوبنا .
Adab saat makan bersama
Terdapat sejumlah etika khusus:
- Tidak mendahului makan jika ada yang lebih layak didahulukan, kecuali jika ia adalah pemimpin majelis sehingga tidak memperpanjang waktu menunggu .
- Tidak diam sepenuhnya di meja makan, tetapi berbicara yang baik:
“أن لا يسكتوا على الطعام… ولكن يتكلمون بالمعروف”.
- Tidak makan lebih banyak dari porsi sahabat di satu wadah karena itu dapat menjadi kezaliman kecuali dengan kerelaan mereka .
- Menghindari perbuatan yang menjijikkan bagi orang lain, seperti menjulurkan kepala terlalu dekat ke wadah atau menggoyang tangan di atas hidangan .
Disebut pula bahwa Nabi ﷺ tidak makan sendirian. Riwayat Anas:
كان رسول الله لا يأكل وحده
Tujuan spiritual adab makan
Al-Ghazālī menekankan bahwa makan bukan tujuan, tetapi sarana untuk ibadah. Ia berkata bahwa makan seperti halnya kebutuhan alami lainnya, sehingga tidak sepatutnya menjadi fokus hati. Ia menegaskan bahwa niat yang benar terlihat dari tiga hal: waktu makan, kadar makan, dan jenis makanan yang dipilih—cukup sekali sehari, tidak melebihi sepertiga perut, dan tidak mencari makanan-makanan yang memanjakan hawa nafsu.