Bismillahirrohmaanirrohiim

NABI ISMAIL ATAU NABI ISHAQ YANG DIQURBANKAN NABI IBRAHIM ?

Oleh Rumail Abbas


Saya ingin melakukan eksperimen kecil-kecilan sebelum kalian membaca artikel ini.

Coba kalian tanyakan ke siapa pun sekarang: siapa anak Nabi Ibrahim yang nyaris dikurbankan? Jawabannya, kemungkinan besar dan hampir refleks, Nabi Ismail.

Dulu, saya pikir juga begitu. Hhe~

Berikut ini catatan yang pernah saya tulis 3-4 tahun silam ketika 'perdebatan' ini muncul di media sosial setahun sebelumnya. Saya juga menambahkan beberapa kutipan karena mendapatkan informasi baru ketika membaca literatur yang baru.

Disclaimer: sebelum lebih jauh, saya mau pisahkan dua hal terlebih dahulu.

Pertanyaan pertama: siapa yang sebenarnya dikurbankan. Itu wilayah iman. Pertanyaan kedua, dan inilah yang mau saya jawab: di tiga abad pertama Islam, posisi mana yang lebih dulu hadir dan lebih banyak diriwayatkan?

Catatan saya ini cuma menyentuh yang kedua. Dan tidak pernah bermaksud untuk menggugat keyakinan siapa pun, ya~

PERTAMA

Mulai dari orang yang paling rajin mengumpulkan riwayat ini, Imam al-Tabari, wafat 310 H. Dalam Jami al-Bayan, begini pembukaannya:

واختلف أهل التأويل في المفدى من الذبح من ابني إبراهيم، فقال بعضهم: هو إسحاق. حدثنا أبو كريب قال: حدثنا ابن يمان، عن مبارك، عن الحسن، عن الأحنف بن قيس، عن العباس بن عبد المطلب: هو إسحاق. حدثني الحسين بن يزيد قال: ثنا ابن إدريس، عن داود بن أبي هند، عن عكرمة، عن ابن عباس، قال: الذي أمر بذبحه إبراهيم هو إسحاق

"Ahli takwil berselisih tentang siapa yang ditebus dari kedua putra Nabi Ibrahim. Sebagian berkata: dia Nabi Ishaq. Menceritakan kepada kami Abu Kuraib, dari Ibnu Yaman, dari Mubarak, dari al-Hasan, dari al-Ahnaf bin Qais, dari Abbas bin Abdul Muthalib: dia Nabi Ishaq. Menceritakan kepadaku al-Husain bin Yazid, dari Ibnu Idris, dari Dawud bin Abi Hind, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: yang diperintahkan Nabi Ibrahim mengurbankannya adalah Nabi Ishaq."

(Sumber: al-Tabari, Jami al-Bayan, jil. 21 hlm. 79-80)

Coba kalian perhatikan: yang berpendapat di sini bukan sembarang, tapi Abbas bin Abdul Muthalib, paman Baginda Nabi. Ditambah Ibnu Abbas, dalam salah satu dari dua riwayat darinya. Lalu Al-Nahhas (w. 338 H) dalam I'rab al-Quran menghitung enam Sahabat lain yang menyatakan Nabi Ishaq adalah yang akan dikurbankan, di antaranya:

1. Jabir,
2. Khalifah Ali bin Abi Thalib, dan
3. Ibnu Umar.

Al-Nahhas memang sudah masuk abad keempat, jadi ia bukan saksi dari periode itu sendiri, melainkan perekam hitungan yang lebih awal. Tapi tahan dulu nama Ibnu Umar di kepala kalian. Ia akan muncul lagi nanti.

Ibnu Qutaybah (w. 276 H), dalam al-Maarif, menambah Ibnu Masud, dan kesaksian Kab al-Ahbar kepada Abu Hurairah.

حدثنا أبو الخطاب قال، حدثنا أبو داود، عن شعبة، عن أبي إسحاق، عن عبد الله: الذبيح إسحاق. وعن ابن المبارك، عن يونس، عن الزهري، عن عمرو بن أبي سفيان، قال: سمعت كعبا يحدث أبا هريرة: أن الذبيح إسحاق. ويقول قوم: إن الذبيح إسماعيل

"Menceritakan kepada kami Abu al-Khattab, dari Abu Dawud, dari Syubah, dari Abu Ishaq, dari Abdullah bin Masud: yang dikurbankan itu Nabi Ishaq. Dan dari Ibnu al-Mubarak, dari Yunus, dari al-Zuhri, dari Amr bin Abi Sufyan, ia berkata: aku mendengar Kab menceritakan kepada Abu Hurairah bahwa yang dikurbankan itu Nabi Ishaq. Sebagian orang berkata: yang dikurbankan itu Nabi Ismail."

(Sumber: Ibnu Qutaybah, al-Maarif, bab anbiya)

Perhatikan: posisi Nabi Ishaq ia bawakan bersanad lengkap, sementara posisi Nabi Ismail cuma ia sebut sebagai "sebagian orang berkata".

Kalau sebuah riwayat hanya hidup di satu kota lewat satu guru, maka kita wajar menduga itu hanya pendapat lokal saja. Sayangnya, riwayat Nabi Ishaq tidak begitu:

1. Di Kufah ia lewat Abdullah bin Masud,
2. Di Bashrah lewat al-Hasan al-Bashri, dari al-Ahnaf, dari Abbas,
3. Di Madinah dan Syam lewat Ka'b al-Ahbar, diteruskan al-Zuhri.

Jadi sudah ada tiga spektrum kota berbeda yang menyatakan bahwa Nabi Ishaq adalah putra Ibrahim yang hendak dikurbankan.

Bagi saya, keserempakan semacam ini sulit dijelaskan sebagai kebetulan. Lebih masuk akal kalau posisi itu sudah tersebar luas sejak generasi awal. Tapi "saluran ketiga", lewat Ka'b al-Ahbar, memiliki titik lemahnya sendiri.

KEDUA

Pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Ismail adalah putra Nabi Ibrahim yang nyaris dikurbankan, memang ada. Ibnu Umar memegangnya lewat jalur Mujahid, atribusi Sahabat Nabi terkuat untuk riwayat bahwa Nabi Ismail adalah anak yang dimaksud.

Sekarang. Ini Ibnu Umar yang sama yang barusan saya hitung di "kubu Nabi Ishaq" lewat al-Nahhas. Jadi ia berdiri di dua sisi sekaligus, persis seperti Ibnu Abbas. Saya simpan dulu informasi ini, nanti saya kembali ke sana.

Sampai titik ini saya mau mengatakan: sejak teks paling awal yang kita punya, posisi Nabi Ismail ternyata sudah cukup berpolemik. Saya akan menjelaskan alasan kenapa disebut "polemik".

Lihat riwayat Ibnu Abbas yang masyhur, yang dibawakan Imam Thabari di pendapat kedua, berbunyi:

وقال آخرون: الذي فدي بالذبح العظيم من بني إبراهيم: إسماعيل. حدثني يونس قال: أخبرنا ابن وهب قال: أخبرني عمر بن قيس، عن عطاء بن أبي رباح، عن عبد الله بن عباس أنه قال: المفدى إسماعيل، وزعمت اليهود أنه إسحاق وكذبت اليهود

"Yang lain berkata: yang ditebus dengan kurban yang agung dari putra Nabi Ibrahim adalah Nabi Ismail. Menceritakan kepadaku Yunus, dari Ibnu Wahb, dari Umar bin Qais, dari Atha bin Abi Rabah, dari Abdullah bin Abbas, ia berkata: yang ditebus itu Nabi Ismail, dan Yahudi mengaku itu Nabi Ishaq, dan Yahudi berdusta."

(Sumber: al-Tabari, Jami al-Bayan, jil. 21 hlm. 82-83)

Coba perhatikan kalimat penutupnya yang menuding "Yahudi berdusta".

Menurut saya, itu bukan hasil penimbangan sanad. Tapi entah apapun alasannya, cukup sulit membuktikan kebenaran informasi Ahli Kitab ini jika yang sampai kepada kita adalah tuduhan bahwa "lawan tidak jujur".

Tapi ada juga pola yang saya lihat ketika membaca kisah yang Imam Thabari rekam di hadapan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, awal abad kedua Hijriah.

Waktu itu, seorang bekas ulama Yahudi yang baru masuk Islam dimintai pendapat:

فقال له عمر: أي ابني إبراهيم أمر بذبحه؟ فقال: إسماعيل والله يا أمير المؤمنين، وإن يهود لتعلم بذلك، ولكنهم يحسدونكم معشر العرب، على أن يكون أباكم الذي كان من أمر الله فيه ما كان

"Umar bertanya: yang mana dari kedua putra Nabi Ibrahim yang diperintahkan dikurbankan? Ia menjawab: Nabi Ismail, demi Allah, wahai Amirulmukminin. Sungguh Yahudi mengetahuinya, tetapi mereka dengki kepada kalian bangsa Arab, bahwa ayah kalianlah yang mengalami perintah Allah itu."

(Sumber: al-Tabari, Jami al-Bayan, jil. 21 hlm. 85)

Polanya, kan, jadi dibalik. Tadinya, riwayat Nabi Ishaq punya bobot karena tersambung ke ahli kitab seperti Ka'b al-Ahbar. Di sini, otoritas bekas Yahudi tetap dipakai. Tapi untuk "membela" Nabi Ismail, ternyata memakai tuduhan bahwa kalangan Ahli Kitab menyembunyikan kebenaran karena iri pada orang Arab.

Saya tidak sedang bilang riwayat ini tidak sahih. Yang mau saya katakan adalah: posisi Nabi Ismail, sejak teks awalnya, ternyata datang dengan muatan polemik.

Sementara, posisi Nabi Ishaq lebih datar sebagai laporan biasa.

KETIGA

Setelah menderet semua jalur, Imam Thabari memberikan kesimpulan, dan pilihannya jatuh kepada Nabi Ishaq.

قال أبو جعفر: وأولى القولين بالصواب في المفدى من ابني إبراهيم خليل الرحمن على ظاهر التنزيل قول من قال: هو إسحاق، لأن الله قال: وفديناه بذبح عظيم، فذكر أنه فدى الغلام الحليم الذي بشر به إبراهيم، وكان الله قد بين في كتابه أن الذي بشر به هو إسحاق، ومن وراء إسحاق يعقوب: فبشرناها بإسحاق ومن وراء إسحاق يعقوب

"Abu Jafar berkata: pendapat yang lebih tepat tentang siapa yang ditebus dari kedua putra Nabi Ibrahim, menurut zahir wahyu, adalah pendapat yang mengatakan: dia Nabi Ishaq. Sebab Allah berfirman, Kami tebus dia dengan kurban yang agung, dan yang ditebus itu anak penyantun yang dikabarkan gembira kepada Nabi Ibrahim. Allah telah menjelaskan dalam kitab-Nya bahwa yang dikabarkan itu Nabi Ishaq, lalu di belakang Nabi Ishaq ada Nabi Yaqub: Kami kabarkan gembira kepadanya dengan Nabi Ishaq, dan di belakang Nabi Ishaq ada Nabi Yaqub."

(Sumber: al-Tabari, Jami al-Bayan, jil. 21 hlm. 86)

Argumennya ini tekstual, ya, bukan genealogis: anak yang ditebus adalah anak yang dikabarkan gembira kepada Nabi Ibrahim, dan kabar itu menyebut nama Nabi Ishaq.

Imam Yahya bin Main (w. 233 H), kritikus hadis terbesar di zamannya, membawakan dua jalur senada dalam Sualat Ibnu al-Junaid (lalu menimbang keduanya):

قلت ليحيى بن معين: مبارك، عن الحسن، عن الأحنف، عن العباس، قال: قال: (الذبيح إسحاق)، ح، وحماد بن سلمة، عن علي بن زيد، عن الحسن، عن الأحنف، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الذبيح إسحاق»، قلت ليحيى: أيهما أصح عندك؟ قال: «لا تبالي أيهما كان»، كأنه ضعفهما جميعًا.

"Aku berkata kepada Yahya bin Main: Mubarak, dari al-Hasan, dari al-Ahnaf, dari Abbas, ia berkata: yang dikurbankan itu Nabi Ishaq. (Peralihan sanad) Dan Hammad bin Salamah, dari Ali bin Zaid, dari al-Hasan, dari al-Ahnaf, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda: yang dikurbankan itu Nabi Ishaq. Aku bertanya kepada Yahya: mana di antara keduanya yang lebih sahih menurutmu? Ia menjawab: tidak usah kau pedulikan yang mana pun. Seakan-akan ia melemahkan keduanya sekaligus."

(Sumber: Ibnu al-Junaid, Sualat Ibn al-Junaid li-Yahya bin Main)

Singkatnya, kesimpulan Imam Thabari punya pendukung satu versi yang ternyata "diangkat" (disebut: hadis marfu') sampai sabda Nabi lewat jalur Hammad bin Salamah.

Andaikan versi hadis marfu' ini sahih, ya, urusan polemik ini sudah rampung.

Tapi begitu ditanya mana yang lebih sahih antara jalur mauquf pada Abbas dan jalur marfu' lewat Hammad bin Salamah, ternyata Imam Yahya bin Main tidak memilih salah satu.

Bagi saya, seolah-olah beliau mengatakan: "tidak usah peduli yang mana pun." Sudah seperti Gus Dur yang pernah bilang: "mau siapapun yang bakal dikurbankan, pada intinya gak jadi semua." Sementara penyusun Sualat berkata: seakan-akan ia melemahkan keduanya sekaligus.

Jadi, Yahya bukan menguatkan versi mauquf, tapi ia justru mengisyaratkan bahwa kedua jalur itu sama-sama lemah.

Dan al-Bazzar (w. 292 H) menyandingkan jalur marfu' tadi dengan catatan bahwa jamaah perawi meriwayatkannya secara mauquf pada Abbas. Dalam studi hadis, ini sebuah isyarat adanya cacat (illah), meski tanpa ada vonis tarjih yang gamblang.

Sampai di sini saya bisa mengatakan: menurut pendapat para Sahabat Nabi, ditambah penilaian para imam awal Islam, ternyata "Nabi Ishaq adalah putra Ibrahim yang hendak dikurbankan" jauh lebih unggul dari segi jumlah dan persebaran jalurnya.

Hal ini karena penyokongnya lebih banyak, dan jalurnya tersebar di banyak kota lewat rantai yang tidak saling bergantung.

Soal mutu tiap rantai, itu wilayah yang berbeda, dan justru di situ posisi Nabi Ishaq punya titik lemahnya sendiri (jika referensi saya lengkap, saya berencana menulis tentang hal ini).

KEBERATAN

Saya menduga akan ada yang mengatakan begini:

"Itu kan Israiliyyat. Lawong sumbernya Ka'b al-Ahbar, seorang Yahudi yang masuk Islam."

Baik, pernyataan yang sangat bisa dimaklumi. Memang konsentrasi terbesar riwayat Nabi Ishaq berkumpul di sekitar Ka'b al-Ahbar dan jalur ahli kitab.

Tapi bagi saya, justru di situlah ironinya.

Kerentanan itulah yang belakangan dipakai untuk membalik keadaan: karena posisi Nabi Ishaq terlihat "tersangkut" pada bekas orang Yahudi (yang masuk Islam), maka pihak yang "membela" Nabi Ismail bisa mencapnya sebagai "riwayat impor dari luar".

Padahal, asal-usul sebuah riwayat dan keluasan persebarannya di umat Islam awal adalah dua pertanyaan berbeda. Lagipula riwayat Nabi Ishaq tidak cuma lewat Ka'b al-Ahbar. Kenapa? Karena salah satunya ia juga lewat Ibnu Masud di Kufah, yang tak ada urusannya dengan tradisi ahli kitab.

Uniknya, ada beberapa tokoh yang muncul di dua riwayat yang berbeda. Semisal Muhammad bin Ka'b al-Quradzi. Satu sumber menempatkannya melaporkan informasi dari Ka'b al-Ahbar, jadi ia ada di kubu Nabi Ishaq. Sementara sumber lainnya menempatkannya dalam riwayat Umar bin Abdul Aziz yang "membela" Nabi Ismail.

Lalu Ibnu Umar, yang tadi saya minta kalian tahan dulu di kepala.

Al-Nahhas menghitungnya sebagai "pendukung Nabi Ishaq", sementara jalur Mujahid menjadikannya atribusi terkuat untuk Nabi Ismail. Terakhir adalah al-Sha'bi: al-Nahhas mencatatnya di deretan tabiin "pendukung Nabi Ishaq", padahal lewat jalur Bayan ia justru meriwayatkan Nabi Ismail dari Ibnu Abbas.

Koreksi jika saya keliru, bagi saya tokoh-tokoh yang muncul di dua kubu lewat jalur berbeda adalah penanda bahwa isu ini benar-benar diperdebatkan pada masanya, bukannya diwariskan utuh lalu pecah kemudian.

Maka, dari sini yang sebenarnya saya hadapi 3-4 tahun lalu itu perdebatan yang juga dihadapi oleh umat muslim tiga abad pertama Islam. Dari beberapa riwayat lain (yang tidak bisa saya tulis lengkap di artikel pendek ini), sebenarnya dulu sudah ada dua tradisi yang sama-sama tua dan ternyata "saling berkompetisi".

Hanya saja, di awal-awal Islam, riwayat tentang Nabi Ishaq lebih banyak penyokongnya. Dan "kemenangan" riwayat Nabi Ismail sebagai pendapat arus utama, sejauh yang bisa saya lacak dari sumber-sumber ini, baru matang sesudah abad ketiga.

Bagaimana persisnya pergeseran "Nabi Ishaq" menjadi "Nabi Ismail" terjadi setelah masa Imam Tabari, tentu saja butuh penelusuran lebih jauh dari catatan yang sedang kalian baca.

Mungkin nanti saja akan saya tuangkan (jika memang ketemu asal-usulnya).

PENUTUP

Kembali ke awal. Pertanyaan iman tidak saya sentuh. Tapi pertanyaan sejarah-teks punya jawaban cukup tegas dari dokumen: di tiga abad pertama, posisi Nabi Ishaq lebih tua, lebih banyak diriwayatkan, dan dipilih oleh imam para mufasir sendiri.

Pertanyaan saya: kalau posisi yang paling awal dan paling padat sanadnya ternyata Nabi Ishaq, dan justru itu yang belakangan kalah, apa sebenarnya yang menentukan sebuah pendapat menjadi keyakinan umum? Kepadatan bukti, atau daya tahan sebuah narasi?

Penilaian akhir saya serahkan kepada kalian.

DEKLARASI:

Saya memakai ClaudeAI (Sonnet) untuk mengoreksi teks non-KBBI, mengubah transliterasi yang tidak berstandar, dan memintanya memberikan transisi di beberapa paragraf supaya lebih mulus. Selain itu, teks merupakan hasil pikiran sendiri yang dipertahankan seperti asli. Dan seluruh kutipan bisa diakses secara daring melalui Maktabah Syamilah. 


.

PALING DIMINATI

Back To Top