Bismillahirrohmaanirrohiim

Manhaj Adab: Beda Guru, Beda Warna

Oleh Maimun Nafis

Kita semua tahu bahwa manhaj sikap itu pasti berbeda-beda, dan mereka yang berakal akan memilih untuk menikmatinya, bukan justru sibuk memperdebatkannya.
....
Di Sarang, almarhum Mbah Maimun Moen misalnya, punya manhaj unik: santri yang sudah paham makna kitab justru dilarang memberi makna (gandul) agar terus berpikir. Sementara itu, di banyak pesantren Jawa Timur, syarat mengikuti ujian justru maknanya harus lengkap dan rapat. "Petenge kitab, padange ati" begitu kira-kira.

Mbah Maimun juga kurang berkenan, bahkan bisa "dhuko" (marah), jika melihat santri yang belum haji tapi sudah memakai peci putih. Namun, di lingkungan yang sama, Abah Najih justru mewajibkan santri Ribath Darusshahihain memakai jubah dan peci putih setiap malam Jumat. Menariknya, setelah Mbah Maimun wafat dan Abah Najih melanjutkan estafet kepengasuhan, tradisi "peci hitam" dan "peci putih" ini tetap dipertahankan sebagaimana adanya. Ajib.

Ini murni perbedaan pilihan sikap. Hal yang sangat lumrah, karena setiap pilihan pasti punya landasan hujah. Santri? Tinggal sam’an wa tha’atan saja.
....
Contoh lagi. Di rumah, saya pun menemukan banyak "ajaran" serupa.

Ayah saya punya prinsip: jangan suka memuji anak di depan orang lain, khawatir tidak berkah. Saking ketatnya menjaga hal ini, kami putra-putrinya setengah dilarang ikut lomba keagamaan. Kecuali jika guru yang memerintah, barulah beliau memberi restu penuh.

Dalam pilihan yang lumayan unik, beliau juga kurang berkenan hadir di acara syukuran keberangkatan atau kepulangan umrah. Ketika saya tanya alasannya, beliau menjawab "Kasihan, tiap kita datang, dia akan menceritakan amal ibadahnya di Makkah. Pahalanya bisa tergerus."

Masih banyak contoh lainnya.

Apakah ada manhaj pembandingnya? Tentu ada. Itulah manhaj adab tiap tokoh. Hal ini menjadi refleksi nyata bagi maqolah:

لكل رجال مقام ولكل مقام رجال
(Setiap orang punya porsinya, dan setiap porsi ada orangnya.)

Kesimpulan saya: yang lebih penting dari sebuah sikap adalah alasan dan motif di baliknya. Apakah sikap itu muncul untuk akhirat atau dunia, berdasar kebijaksanaan ilmu atau hawa nafsu? Itu~

Saya sendiri tidak berani "mengarang" manhaj sendiri; cukup nderek dan mengikuti jejak orang-orang saleh saja.

Sudah.

📷: Hasil karya sahabat saya, HerMan esJarang.


.

PALING DIMINATI

Back To Top