Bismillahirrohmaanirrohiim

Shalat di atas pesawat dalam pandangan dua Mufti

oleh Yendri Junaidi


Syekh Ali Jum’ah (Mufti Mesir 2003-2013) ketika ditanya, “Bagaimana caranya shalat di atas pesawat?” Beliau menjawab:

“Saya berpendapat, dan pendapat ini didukung oleh Mazhab Syafi’i, bahwa shalat yang boleh dilakukan di atas pesawat adalah shalat sunnah. Adapun shalat fardhu, tidak bisa dikerjakan di atas pesawat karena syarat sahnya tidak terpenuhi. Ketika sudah mendarat, baru dikerjakan. Jadi, tidak ada shalat di atas pesawat.” (Lalu beliau menegaskan dengan kata: عندي “Itu menurut saya”).

Kemudian beliau menukil pendapat Imam Rafi’i:

فلو صلى أحدهم في أرجوحة معلقة لا هي على الأرض مستقرة ولا هي في السماء مربوطة فإنها لا تصح الصلاة
 
“Kalau seseorang shalat di atas ayunan yang tergantung, tidak tetap di atas tanah, tidak juga terikat ke atap, maka shalatnya tidak sah.”

(Video beliau bisa dilihat di link berikut: https://youtu.be/1tHhTBNC0hM?si=W_fgdJjuLhWe2SJe )
 
Sementara itu Syekh Syauqi ‘Allam (Mufti Mesir 2013 – 2024) cenderung kepada pendapat yang mengatakan shalat di atas pesawat itu sah. Uniknya, pendapat Imam Rafi’i yang yang dijadikan Syekh Ali sebagai pijakan tidak bolehnya shalat di atas pesawat, justru dijadikan Syekh Syauqi diantara dalil yang membolehkan. Karena ternyata, Imam Ramli dalam Nihayatul Muhtaj mengatakan sah shalat di atas ayunan. Berikut ibaratnya:

(ولو صلى) شخص (فرضا) عينيا أو غيره (على دابة واستقبل) الفبلة (وأتم ركوعه وسجوده) وبقية أركانه بأن كان في نحو هودج (وهي واقفة) وإن لم تكن معقولة، أو كان على سرير يمشي به رجال أو في زورق أو أرجوحة معلقة بحبال (جاز) لاستقرار ذلك في نفسه

Kemudian Syekh Syauqi berkata: 

وهذا التعليل الأخير مطرد في الطائرة ، فالبقعة التي يصلي عليها المصلي في الطائرة مستقرة في نفسها واستقرار المصلي عليها وتمكينه لأعضاء سجوده من الأرض حاصل بلا إشكال فتصح الصلاة فيها كما صحت في الزورق والأرجوحة 

“Ta’lil yang terakhir ini bisa ditarik pada kondisi pesawat, karena area tempat seseorang shalat di atas pesawat itu tenang dan stabil yang memungkinkan seseorang untuk shalat dengan baik sehingga shalatnya sah sebagaimana sahnya shalat di atas sekoci dan ayunan.”

Namun demikian, Syekh Syauqi menegaskan: 

“Kalau seseorang tahu bahwa pesawat yang dinaikinya akan mendarat sebelum waktu shalat berakhir dan ada cukup waktu untuk melakukan shalat pada waktunya, atau sebelum habisnya waktu shalat kedua jika ia mengambil rukhshah jama’ maka sebaiknya ia menunggu sampai pesawat mendarat dan shalat di darat untuk menghindari khilaf ulama yang mengatakan tidak sah.”

(Fatwa Syekh Syauqi ‘Allam bisa dibaca di link berikut: حكم صلاة الفريضة في الطائرة - دار الإفتاء المصرية https://share.google/1GKN0SRrSm1XPoWuX )

*** 

Ini masalah khilafiyah. Bahkan sejak dulu. Diantara ulama dulu yang berpendapat sah shalat di atas pesawat adalah Syekh Yusuf ad-Dijwi sebagaimana dinukil oleh Syekh Shalih al-Ja’fari dalam Fatawa Ja’fariyyah. Demikian juga Syekh Muhammad al-Amin asy-Syinqithi dalam risalah berjudul al-Ijabah as-Shadirah fi Shihhati shalat fi at-Tha`irah. Sementara yang berpendapat shalat di atas pesawat tidak sah adalah Syekh Ismail Zain dalam risalahnya: I’lam az-Zumrah as-Sayyarah bi Tahqiq Hukm ash-Shalat fi Thayyarah”.

Syekh Ali Jumah sendiri, meski cenderung kepada pendapat yang tidak membolehkan shalat fardhu di atas pesawat, tetap membuka peluang bagi yang ingin mengikuti pendapat yang membolehkannya. Beliau menukil satu kaidah yang disampaikan Imam Baijuri dalam Hasyiyah ‘ala Ibnu Qasim:

من ابتلي بشي من المختلف فيه فليقلد من أجاز

“Siapa yang diuji (dapat problem) dengan masalah yang diperselisihkan maka silahkan ikuti pihak yang membolehkan.”

Lalu cara wudhuknya bagaimana? Sepertinya kita lanjutkan di tulisan berikut, insya Allah.


.

PALING DIMINATI

Back To Top