Oleh Rizal Mumazziq Z
1. “Ceramah ojo sak angger njeplak. Mutholaah ndisek. Sinau ben ngerti lan sadar kowe sik go blok. Sinau iku nuduhne yen kowe sik tahap muta’allim, dudu ‘alim.”
2. Niatkan mengajarkan ilmu yang telah kamu pelajari dari gurumu, menyampaikan apa yang telah kamu baca dan dengar, menuturkan lelaku ataupun kisah orang lain, dari keberhasilan maupun kegagalannya, supaya menjadi bekal ngelmu urip dirimu dan para pendengar.
3. Mutholaah sebelum pegang mik. Yo, elingo, mutholaah, supaya apa yang kamu sampaikan punya bobot, bukan sekadar memperindah kata-kata, bukan sekadar nggedabrus. Masyarakat melalui panitia mengundangmu lantaran merka percaya kamu bisa menyampaikan ilmu, bukan mengundang cosplay ulama.
4. Kalau menukil hadits, hati-hati, jangan yang maudhu’, minimal dhaif-lah, itupun untuk fadhail a’mal. Hati-hati menukil kalimat yang diatasnamakan Kanjeng Nabi, ancamannya ngeri lho ya. Paling aman nukil yang sahih atau hasan. Karena sudah ditelaah oleh para pakarnya. Kalau mau berkisah, nukil saja cerita-cerita yang dituturkan oleh Nabi melalui sabdanya, khususnya terkait peristiwa umat terdahulu. Kalau cerita tentang orang salafusshaleh, seabrek pula rujukannya. Banyak lah kitabnya. Baca, baca dan baca.
5. Ketika duduk di atas kursi, atau berdiri di podium, jangan gumedhe, ojo keminter, karena seringkali orang-orang yang duduk di belakang, samping maupun depanmu, ilmu, pengalaman serta kesalehannya melampaui kita.
(Dan memang benar, ketika hadir di pengajian, saya profiling para tokoh sebelum/pada saat tiba. Dari panitia saya dengar, si A yang duduk diam di pojok ruangan itu adalah guru yang paling dihormati, si B pakai peci lusuh dan kemeja batik itu adalah pakar bahtsul masail, si C yang bersorban putih sederhana itu merupakan ayah dari para penghafal Al-Qur’an, si D perempuan sepuh yang duduk di barisan kedua undangan adalah perempuan ahli riyadhoh wirid dan puasa bertahun-tahun, si E petani-pengusaha yang royal dalam mendukung pengembangan pendidikan di desa, dlsb)
6. Tak perlu berlebihan dalam penampilan. Sopan, rapi, wangi disertai gestur yang elegan dan menyenangkan itu sudah bagus.
7. Mubaligh akan diberi cobaan atas apa yang dia sampaikan. Hati-hati. Ini wilayah godaan konsistensi atas apa yang telah kamu lakukan. Perilakumu itu sesuai apa nggak dengan apa yang kamu bicarakan.
8. Jangan mengkritik seseorang yang duduk di antara undangan dengan kritik terbuka. Itu namanya mempermalukan.
9. Kalau ada sesuatu yang kurang berkenan di hatimu, baik dilakukan sengaja atau tidak oleh panitia, jangan meledakkan emosi di depan khalayak. Disikapi santai saja. Kepala dingin. Kalau perlu jadikan bahan meledek diri sendiri, bukan mempermalukan panitia. Sebab, panitia sudah bekerja keras mempersiapkan acara yang kamu hadiri.
10. Hindari guyon saru, tak perlu humor jo rok, tak usah menjadikan janda sebagai bahan roasting apalagi ejekan sek sis. Kalau kamu mati, relakah jika janda-mu dan anak perempuanmu dijadikan bahan guyonan cab ul begitu? Atau jika ibumu yang janda jika dijadikan bahan lelucon? Rela….?!
11. Muballigh itu melaksanakan karakteristik Rasulullah, yaitu Tabligh. Jadi pilihlah materi yang sesuai konteks, jangan nglantur dan ngawur. Sebab kalau yang diingat oleh pendengar, baik dewasa maupun anak-anak, cuma hal-hal yang nirfaedah, berarti kamu gagal menjadi muballigh.
12. Jangan membeda-bedakan pengundang berdasarkan status sosialnya. Kaya atau miskin, yang hadir ribuan atau segelintir, jauh berkelok di pelosok atau sekadar berbelok di pojok desa, tetap hadirilah karena mereka sudah mempercayaimu.
13. Jangan pernah mematok tarif. Orang lain boleh begitu, tapi aku TIDAK RIDLO jika kamu ikut-ikutan begitu. Ojo wedi luwe, ojo wedi kere! Gusti Allah mboten sare!
Terimakasih para guru yang telah menasehati saya, saat saya sowani, maupun ketika saya meminta nasehat via telepon maupun melalui chat WA.
Saya bangga dan bahagia menjadi santri panjenengan semua. Sehat selalu penuntunku…