Bismillahirrohmaanirrohiim

Rokok vs Gula

Oleh Ahmad Sarwat

Dalam kajian fiqih klasik tema tentang keharaman makanan itu hanya berkutat pada keharaman secara ritual yaitu tidak boleh makan yang najis. Selain itu keharaman yang disebabkan faktor mabuk. 

Dalam disertasi saya, ada tambahkan 'llat keharaman yang ketiga,  yaitu madharat atau hal yang merusak diri bahkan mematikan nyawa. 

Contoh makanan haram yang mematikan adalah racun.  Tapi itu kan sudah sangat template. Mana ada orang mau minum racun dalam keadaan normal. 

Yang sering luput itu adalah makanan-makanan atau hal-hal yang dikonsumsi yang berpotensi membahayakan tetapi luput dari perhatian.  

Sebagian kalangan muslimin sudah mulai menyebut rokok sebagai konsumsi yang membahayakan bahkan mematikan. 

Tapi banyak yang lupa bahwa selain Rokok ternyata banyak sekali makanan yang berada di tengah masyarakat yang sangat berpotensi merusak tubuh bahkan mematikan salah satunya adalah gula. 

Rokok dan gula sama-sama sudah terbukti berbahaya bagi kesehatan, tetapi keduanya diperlakukan sangat berbeda oleh negara dan oleh masyarakat. 

Rokok diserang habis-habisan. Bungkusnya dipenuhi foto mengerikan, tulisan besar menyatakan “rokok membunuhmu”, iklannya dibatasi, harganya dipajaki tinggi, dan perokok perlahan didorong ke sudut rasa bersalah. 

Sementara gula, yang dampak kesehatannya tidak kalah serius, justru dibiarkan merajalela, masuk ke hampir semua makanan dan minuman, bahkan yang sama sekali tidak terasa manis di lidah.

Perbedaannya sering dibungkus dengan alasan teknis. Rokok dianggap membunuh secara langsung, sedangkan gula dianggap hanya berbahaya jika berlebihan. 

Padahal, kematian karena gula jarang tercatat sebagai “mati karena gula”, melainkan berubah nama menjadi diabetes, penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, atau obesitas. 

Gula tidak membunuh dengan cara dramatis dan cepat seperti rokok, tetapi membunuh pelan-pelan, menggerogoti tubuh bertahun-tahun sampai akhirnya tubuh menyerah. Justru karena jalurnya panjang dan sunyi, gula menjadi lebih mudah diabaikan.

Ada pula perbedaan dalam soal kesadaran. Orang yang merokok umumnya tahu bahwa yang ia hisap adalah rokok dan tahu bahwa itu berbahaya. 

Ia mengambil keputusan dengan sadar, meskipun keputusan itu buruk bagi kesehatannya. Konsumen gula sering kali tidak memiliki kemewahan kesadaran itu. 

Gula disamarkan dengan berbagai nama, diselipkan ke dalam roti, saus, minuman, makanan instan, bahkan produk yang diklaim “sehat”. 

Seseorang bisa merasa tidak sedang mengonsumsi makanan manis, padahal tubuhnya tetap dibanjiri gula setiap hari.

Ironinya paling terasa ketika menyangkut anak-anak. Rokok dianggap tabu dan terlarang keras bagi anak, sementara gula justru menjadi pintu masuk utama industri makanan ke dunia anak. 

Kemasan dibuat lucu, iklan disusun ceria, rasa dimaniskan berlebihan, lalu semua itu dijual sebagai bagian dari kebahagiaan masa kecil. 

Lidah anak dibentuk sejak dini untuk mencintai rasa manis, dan ketika dewasa mereka diminta bertanggung jawab atas pilihan yang sebenarnya sudah direkayasa sejak kecil.

Negara berani bersikap keras terhadap rokok karena rokok tidak menyentuh dapur rumah tangga. Rokok bukan kebutuhan pokok, tidak menjadi bahan dasar hampir semua makanan, dan mudah dijadikan musuh bersama. 

Gula berbeda. Gula adalah tulang punggung rasa industri pangan modern. Ia murah, stabil, memperpanjang umur simpan, menutup kualitas bahan yang biasa-biasa saja, dan membuat produk cepat laku. 

Melawan gula berarti mengguncang sistem pangan, industri besar, UMKM, bahkan kebiasaan makan sehari-hari masyarakat. Itu sebabnya keberanian yang ditunjukkan pada rokok mendadak lenyap ketika berhadapan dengan gula.

Kalau negara konsisten, mestinya gula juga diperlakukan dengan kejujuran yang sama. Jika rokok boleh ditulis “membunuhmu”, maka gula seharusnya diakui sebagai penyebab utama berbagai penyakit kronis yang membebani sistem kesehatan dan merampas kualitas hidup jutaan orang. 

Namun kejujuran seperti itu mahal secara politik dan ekonomi. Lebih mudah menyalahkan individu dengan slogan “konsumsi secukupnya” daripada mengakui bahwa lingkungan pangan telah rusak secara sistemik.

Pada akhirnya, perbandingan rokok dan gula membuka satu kenyataan pahit. Rokok diperangi karena mudah diperangi. 

Gula dibiarkan karena terlalu penting bagi mesin industri dan terlalu dalam tertanam dalam kehidupan sehari-hari. 

Padahal, jika ukuran utamanya adalah dampak kesehatan massal, gula layak mendapatkan kewaspadaan publik yang sama, bahkan mungkin lebih. 

Bedanya hanya satu: rokok membunuh dengan keras dan cepat, gula membunuh dengan senyap dan sabar.


.

PALING DIMINATI

Back To Top