Bismillahirrohmaanirrohiim

INTERNET MELEMAHKAN TAFAKUR (Oleh: Jum’an)

Kadang-kadang saya merasa seperti malaikat yang bisa terbang dengan cepat seperti kilat. Menukik kesudut-sudut bumi dan dalam sekejap sudah mengetahui keadaan dunia. Saya membaca Newyork Times dan Fox News di Amerika, lalu Republika dan Timika Pos di Jakarta dan Papua, Gulf News dan Aljazeera di Timur Tengah, Shanghay Daily dan Beijing News di China. Kalau saya teruskan bertandang ke rumah teman-teman di facebook lalu mampir ke youtube atau multiply pasti saya baru bisa mulai bekerja jam 11 siang. Sejam kemudian kita istirahat makan siang, praktis hanya bekerja setengah hari. Internet memang luar biasa. Semua ada semua dekat dan cepat. Yang kita sukai maupun yang tidak. Dapat mengakses informasi dari sumber yang begitu melimpah sangat memperluas wawasan dan meningkatkan pemikiran.
Menurut Samuel Johnson sastrawan Inggris abad 18, pengetahuan itu ada dua jenis yaitu pertama kita sendiri mengetahui tentang suatu masalah, yang kedua kita tahu dimana mencari informasi tentang masalah itu. Mungkin anda tahu caranya membuat bolu kukus karena anda juru masak ditoko kueh, tetapi saya dapat memperoleh resep bolu kukus, dari situs kotakresep.com/bolu-kukus/, misalnya. Jadi kalau saya mau mebuatnya juga bisa, termasuk bolu gulung dan bolu pandan yang anda belum tentu tahu. Marissa Mayer, Vice President Google sekaligus dosen computer programming di universitas Stanford California bahkan berani mengatakan bahwa lebih baik memiliki akses terhadap pengetahuan daripada memiliki pengetahuan itu sendiri. Yang penting bukan apa yang anda tahu, katanya, tetapi apa yang anda bisa temukan. Kalau kalimat ini kurang enak ditelinga anda, harap diketahui bahwa begitulah etika Google yang hidupnya dari jualan search engine atau mesin pencari.
Masya Alloh internet, apa saja ada dan instan. Media informasi yang bermanfaat.  Tetapi kata ahli teori media McLuhan, media bukanlah sekedar saluran informasi yang pasif. Sambil memberikan informasi sebagai bahan pemikiran, mereka juga membentuk proses berfikir kita. Nicholas Carr pengamat teknologi dan budaya dalam blognya Is Googe Making Us Stupid?  menjelaskan bagaimana internet  mempengaruhi dirinya. Katanya internet telah mengikis kemampuannya untuk berkonsentrasi, berfikir dan merenung. Otaknya cenderung menyesuaikan diri menerima informasi dengan cepat, secepat internet memberikan kepadanya. Dulu membaca buku ibarat menyelam dalam lautan kata-kata, sekarang dengan internet orang seperti berselancar diatas permukaan saja.
Saya ingin tahu kandungan gizi dalam beras. Maka saya ketik beras. Google menemukan 13 juta kata beras dalam waktu seper enam detik. Waktu saya klik yang pertama, dari Wikipedia bahasa Indonesia, disamping uraian tentang gizi beras, ada 60 hyperlink yang tampak menunggu untuk di-klik, 10 diantaranya daftar negara produsen beras. Waktu saya klik Jepang, disamping produksi beras pertahun, banyak lagi hyperlink yang menunggu. Diantaranya tentang pariwisata di Jepang yang berujung pada travel guide. Menurut Nicolas Carr, pola demikian memang merupakan bagian terencana dari program search engine Google. Kita memang perlu bersikap. Tergantung kita.


.

PALING DIMINATI

Back To Top