Oleh Oman Fatkhurrahman
Manuskrip kuno mengungkap, sekira 106 tahun lalu, tepatnya pada akhir Sya’ban 1338 H/Mei 1920 M, Kiai Muhammad Hasan Asy’ari bin Abdurrahman al-Pasuruani (1875-1921) melukiskan bahwa berdasar hisab, hilal sudah ada (wujud) pada Selasa malam Rabu, namun mustahil terlihat karena durasi posisinya di atas ufuk setelah matahari terbenam (al-mukts) hanya sebentar sekali (qalil jiddan). Kalau Rabu malam Kamis, hilal sudah terlihat secara meyakinkan. Sedikit mirip dengan kondisi hilal Ramadan 2026 ini.
Menantu Syekh Nawawi al-Bantani yang ahli Falak itu menjelaskan, kalau ada yang mengaku melihat hilal pada hari Senin (saat itu), kesaksiannya tertolak, karena hilal memang belum “wujud”.
Dari catatan singkat manuskrip kuno Nusantara koleksi Pesantren Qomaruddin, Bungah, Sampurnan, Gresik, Jawa Timur ini, tersirat bahwa jika berpatokan pada hisab wujudnya hilal, mulai berpuasa pada Rabu sudah dimungkinkan. Namun, Mbah Hasan Asy’ari sendiri, bersama para santrinya, memilih puasa pada Kamis berdasar patokan telah terlihatnya hilal.
Bagaimana kalau mulai berpuasa berdasar Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)? Nanti saya cari dulu yah manuskripnya…
Kapan pun mulainya, saya ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa, mari kita lengkapi selalu amaliah Ramadan dengan menjaga (Ngariksa) ilmu, menatap masa depan dengan merawat masa silam.
Kredit Foto: DREAMSEA (DS 0097 00063; https://www.hmmlcloud.org/dreamsea/detail.php?msid=4505)