Oleh Abdul Wahab Ahmad
SS ini adalah potongan percakapan saya dengan claude, si AI paling cerdas saat ini soal Hawking yang sering berkata bahwa alam ini punya awal mula, yakni big-bang, tapi menurutnya tidak perlu ada Tuhan untuk menjelaskannya sebab alam semesta menurutnya bisa ada dengan sendirinya dari ketiadaan.
Sepintas memang terlihat bahwa Hawking meyakini alam semesta tidak qadim (tidak tak bermula) tapi huduts (punya awal mula). Dia berkata bahwa ketiadaan bisa memulai sebuah keberadaan. Namun ini hanya tampilan luar saja sehingga banyak yang salah paham terhadap ini. Claude, karena dia tak punya gengsi sebagaimana manusia ateis, bisa langsung mengakui hal ini tanpa perlu berbelit-belit seperti bisa anda baca di SS.
Jadi, perlu diketahui bahwa nothingness atau ketiadaan yang dimaksud hawking bukan ketiadaan murni, tapi ada sesuatu yang dianggap sudah ada sejak awal yang tidak perlu dibahas lagi asal usulnya, yakni gravitasi. Itu adalah syarat mutlak agar semesta bisa muncul dari "ketiadaan" dalam tanda kutip. Itu berarti gravitasi sendiri itu dia anggap qadim tapi dia menghindari istilah ini sebab akan langsung runtuh semua argumennya ketika menafikan Tuhan kalau dia memakai istilah ini.
Lalu dari mana gravitasi bermula? Tidak dibahas dan dihindari. Yang paling mentok, dalam bukunya yang berjudul The Grand Design, dia berkata kurang lebih: karena ada hukum gravitasi, alam semesta bisa menciptakan dirinya dari ketiadaan. Fenomena ini dia sebut sebagai spontaneus creation. Spontaneous creation (penciptaan secara spontan) menurutnya adalah alasan mengapa ada sesuatu daripada tidak ada.
Tapi dia tidak pernah menjelaskan:
Dari mana gravitasi itu?
Mengapa hukum alam itu ada?
Dalam medium apa hukum itu "berada" sebelum alam semesta ada?
Intinya, pokoknya ada gravitasi lalu semua tercipta. Titik, jangan tanya lagi. Ini tentu saja bukan posisi ilmiah tapi sebuah doktrin yang dilabeli sebagai sains. Sayangnya banyak pelajar sains masa kini yang tak mau berpikir sedalam itu hingga terjebak pada kesimpulan prematur bahwa kesimpulan Hawking itu saintifik.
Padahal, logika jernih sebagaimana sudah diajarkan dalam ilmu manthiq dan kalam sejak dulu mudah sekali menyingkap kelemahan argumennya. Gravitasi, atau makhluk apa pun jelas Mumkinul Wujud, selamanya ia tak mungkin jadi wajibul wujud. Yang Wajibul Wujud hanya Tuhan saja, tak mungkin yang lain.
Kalau meyakini ada sebagian dari alam yang selalu ada secara niscaya, terserah istilahnya mau disebut qadim atau tidak, maka akan terjadi tasalsul (infinite regress). Kalau terjadi tasalsul, maka pasti hasilnya tidak mungkin ada alam semesta sebab keberadaannya bergantung pada ujung yang tidak ada. Karena semesta ada, maka pasti tidak ada tasalsul. Ini kebenaran logis yang mustahil dibantah siapa pun hingga kiamat. Semua ateis yang mencoba membahas ini pasti berhenti di titik paling krusial lalu memalingkan ke tema lain yang tidak nyambung supaya bisa lari.
Makanya, orang seperti David Hume dan Russell lebih suka membahas hal lain seperti problem of evil yang intinya bertanya kalau Tuhan ada mengapa ada kesengsaraan? Ini argumen rapuh sebab berdasarkan asusmsi bahwa Tuhan mustahil membuat manusia sengsara. Padahal asumsi ini sudah salah sejak semula sebab Tuhan punya hak prerogatifnya untuk memberi kebahagiaan atau kesengsaraan. Faktanya, kesengsaraan itu pemandangan harian yang terjadi atas kehendak Tuhan.
Hawking dan sejenisnya lebih suka menghindar dari tema qadim tidaknya semesta dengan mengajukan argumen parsimoni atau occam's razor yang intinya menghindari penjelasan rumit yang "tidak diperlukan" sebab sudah ada penjelasan empiris yang membuat manusia yang tak kritis merasa cukup. Semua juga tahu ini hanyalah ngeles, bukan jawaban.
Hume dengan semangat terakhirnya yang tersisa untuk membuat seolah argumennya kuat hanya bisa bertanya balik untuk menyerang kemustahilan tasalsul:
"Kalau segala sesuatu butuh sebab, mengapa Tuhan tidak?".
Padahal jawabannya sederhana: sesuatu itu terbagi dua:
1. Ada yang butub sebab, namanya mumkinul wujud, dan
2. Ada yang tak butuh sebab, namanya wajibul wujud.
Keduanya memang kategori yang berbeda sejak awal. Eh, malah ditanya mengapa Tuhan yang merupakan kategori kedua tidak seperti kategori yang pertama? Hume ini sama seperti orang yang berkata bahwa muka dan badan menghadap ke depan tapi mengapa punggung dan pantat menghadap belakang? Jawabannya, ya memang sejak awal ada yang menghadap depan dan ada yang menghadap ke belakang. Simpel tapi anehnya orang yang dianggap cerdas bisa gagal paham.
Kalau ada yang berkata bahwa ilmu kalam adalah produk basi masa lalu, berarti dia tidak paham bagaimana menerapkannya untuk pembahasan masa kini. Dia sama seperti orang yang berkata sekarang sudah trennya berhitung dengan komputer, sudah tidak relevan belajar perhitungan manual; Kebodohan yang HQQ.
Semoga bermanfaat