Bismillahirrohmaanirrohiim

Kesaksian kecil dari santri kecil pada KH. Anwar Manshur

Abah waktu nyantri di Lirboyo (Tamat 69/70 M). Mustahiq (wali kelasnya) adalah Mbah Yai Anwar (Almukarram Mbah Yai Anwar Manshur athalallahu umrahu ma'assihhah. Amin).


Waktu SD saya diajak sowan ke Lirboyo. Pertama ke almaghfurlah Mbah Yai Idris. Waktu pamitan pulang, kepala ini di elus beliau sambil berkata, "Sing alim koyo bapake".

Setelah itu langsung menuju ke ndalem almukarram Mbah Yai Anwar yang hanya beberapa puluh meter dari dalem Mbah Yai Idris. Begitu pamitan pulang. Kata-kata sama persis Mbah Yai Idris di dawuhkan beliau, "Sing alim koyo bapake!".

Kejadian itu begitu melekat hingga sekarang. Dulu tidak mikir bagaimana dizaman yang masih minim HP doa beliau berdua begitu sama persis. Sehingga saya jadikan sebagai doa sekaligus pemahat hati ini.

Abah, ketika dihadapan Mbah Yai Idris biasanya langsung di panggil nama, "Nahrowi, piye kabare?" Seperti itu. Kalau Mbah Yai Anwar, lebih singkat lagi, "Wi, awakmu dadi kyai, biasa shalat wengi?" Abahpun mringis lebar. Lalu menceritakan kepada putra-putrinya bahkan santrinya, "... Ya shalat lah" sambil senyum lebar.

Abah ketika dihadapan Mbah Yai Anwar seperti anak kecil! Iya! Ini hamba lihat dengan mata kepala sendiri. 

Waktu itu kami sekeluarga mengunjungi kakak pertama yang mondok di Mubtadiaat (Pondok asuhan Mbah Yai Anwar). Posisi di ruang tunggu. Abah membelakangi pintu. Tiba-tiba, dari luar pintu, terdengar suara halus, "Nyuwun sewu, mobil yang di depan itu punya njenengan nggih? Tolong di pindah. Saya mau keluar". 

Mak slengak abah otomatis menoleh kebelakang. "Hi, sanes nggen kulo, Yai (Bukan milik saya, Yai)" sambil mringis.

"Oh, awakmu to, Wi. Yowes nek ngono". Kata beliau Mbah Yai Anwar singkat lalu berlalu.

Sekejap setelah kepergian Mbah Yai. Abah mringis lagi persis anak kecil, "Hihi Mbah Yai" gumam beliau.

Jadi, jangan tanya bagaimana perasaan dan sikap saya kepada beliau Mbah Yai. Sebab diturunkan dari abah yang notebene panutan dhahir batin hamba mulai dari kecil hingga sekarang, dimana bukan cuma perkataan, laku abahpun jadi semacam kompas bagi perjalanan hidup ini.

Perasaan ta'dhim itu semakin bersemi ketika mulai mondok di Lirboyo. Dimana beliau sekolah, ngaji weton, mendatangi undangan senantiasa tepat waktu. Sekolah jam tujuh, di kelas juga jam tujuh! Jadi berangkat dari ndalem sebelum jam tujuh. Pulangpun juga tepat waktu.

Waktu misanan nikah. Di undangan tertera jam 8 pagi. Beliau sampai di tempat acara juga jam 8 pagi! Padahal kebiasaan jam karet masih membumi di daerah hamba. 😀🤧

Ketika bertamu. Kok pas ngaji. Beliau dawuh. "Kulo ngaji riyen nggih".

Waktu jadi santri baru. Karena semangat membara. Hari jum'at guna jum'atan, saya berangkat ke masjid jam setengah sepuluh WIS (WIB nya kira2 jam 9 an). Begitu masuk, masjid sudah hampir penuh. "Aha" batin saya bersorak, "di belakang tiang masjid depan-utara itu ada satu tempat kosong!". Tanpa ragu saya melangkah dan duduk di belakang tiang itu. Anehnya, santri yang berada di kanan kiri tempat kosong itu sama melihat aneh ke saia. Anehnya lagi, disitu sudah ada aqua gelas. Curiga, saya berbisik ke santri yang ada di samping kiri, "Kang, ini tempatnya siapa?". Ia menjawab singkat, "Mbah Yai Anwar". "Astaghfirullah!" Kaget langsung kabur cari tempat lain. Dan ternyata saya baru tahu bahwa beliau kalau jum'atan berangkat jam sepuluh WIS (setengh sepuluhan WIB)! Dan pulang ketika santri sudah banyak yang bubaran.

Beliau ahli wirid! Berkali-kali santri "roan" wiridan di masjid ketika terjadi hal-hal genting dengan imam beliau. Bukan hitungan menit tapi jam-jaman! Beliaupun ahli jamaah terutama subuh! Dan setelah subuh pasti ada ngaji bandongan di ndalem.

Ingat sekali beliau melarang memujinya dengan dawuh, "Tasma'u bil-mu'aydiyyi khairun min an-tarahu (Mendengar muaid lebih baik daripada melihatnya). Bahkan dalam sebuah acara. MC menyebut beliau dengan Shahibul fadhilah wal karamah (pemilik keutamaan dan keramat), beliau langsung membantah, "Jangan begitu. Iya kalau iya. Kalau tidak?!". Tapi dilain kesempatan beliau juga dawuh yang kira-kira, "Prasangka baik orang, kalau bisa kita wujudkan dan jadi penyemangat!" Ibarat orang berprasangka kita selalu shalat tahajjud padahal sangat jarang, ya harus semangat tahajjud dan lain sebagainya.

Saya ikut di sawah beliau enam bulanan. Pegang traktor G.1000 dan kubota rd 85. Suatu ketika komandan sawah yang mengurusi kami saya tanya, "Dhe, sawah mbah yai sing mbok atasi ombone piro? (Sawah Mbah Yai yang kamu urusi lebarnya berapa?)". Dia menjawab: "Lima hektar". Itu baru yang diurusi teman saya, belum lainnya. Beliau itu berkecukupan! Sangat cukup. 

Tapi ada kejadian, yakni waktu mengunjungi mbak yu di pondok. Setelah ada orang dusun keluar dari ndalem beliau. Tiba-tiba terdengar almarhumah Mbah Nyai Um (Mbah Nyai Umi Kulsum binti KH. Mahrus Ali), "Ndi kimeng sing adol tanah? Piye to Cak, aku lho nduwe duwet (Tadi mana yang mau jual tanah? Bagaimana tho Cak, aku lho punya uang)". Ternyata orang yang keluar dari ndalem itu ingin menawarkan tanah pada Mbah Yai Anwar tapi beliau menolak sebab merasa tidak punya uang, tidak disangka Mbah Nyai Um punya uang cukup. 

Jadi, sekali lagi, kalau ditanya bagaimana anda kok bisa se ta'dhim itu? Saya jawab mantab! Karena ilmu dan laku beliau! Dimana ketika dihadapannya, ada rasa malu, sungkan, hormat, deg-degan dan perasaan lain yang tidak bisa diungkapkan. Dan begitu tahu beliau di hina, saya semalaman ndak bisa tidur. Ngelus dada, nyesek, tanpa terasa panas mata ini. "Kok kebangeten" gumam saya lalu kuketik di beranda beberapa hari lalu.

***

Kesaksian kecil dari santri kecil.

"Luweh apik dadi buntut macan tinimbangane dadi endas kucing!"

"Ketika meminta hujan, juga harus siap berurusan dengan lumpur".

Semoga badai segera berlalu. Aminn.

Ngapunten kagem sedanten dzuriyyah. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼


.

PALING DIMINATI

Back To Top